Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

06 September 2025

Maulana Malik Ibrahim: Ulama Perintis Islam di Tanah Jawa

 

Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa tidak bisa dilepaskan dari peran penting para saudagar Muslim yang datang dari negeri-negeri jauh. Mereka tidak hanya membawa barang dagangan, tetapi juga ajaran dan nilai-nilai Islam yang damai. Proses ini berlangsung secara bertahap, terutama ketika Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran akibat Perang Paregreg—perang saudara yang melemahkan sendi-sendi kekuasaan kerajaan.

Dua pelabuhan penting di pesisir utara Jawa, yakni Jepara dan Tuban, menjadi pintu masuk awal pengaruh Islam. Di antara para ulama yang datang, nama Maulana Malik Ibrahim menjadi tokoh sentral yang dikenang sebagai pelopor dakwah Islam di tanah Jawa.

Maulana Malik Ibrahim—yang juga dikenal sebagai Makdum Ibrahim As-Samarqandy—diperkirakan lahir di Samarqand, Asia Tengah, pada paruh pertama abad ke-14. Dalam naskah-naskah Jawa kuno, seperti Babad Tanah Jawi, ia disebut sebagai Asmarakandi, bentuk pelafalan lokal dari “As-Samarqandy”. Masyarakat juga mengenalnya dengan nama lain, seperti Syeikh Maghribi atau Kakek Bantal.

Ia berasal dari keluarga ulama besar. Ayahnya, Maulana Jumadil Kubro, adalah seorang ulama Persia yang menetap di Samarqand, dan diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Sayyidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW. Maulana Malik Ibrahim juga bersaudara dengan Maulana Ishak, tokoh penting di Samudra Pasai yang dikenal sebagai ayah dari Sunan Giri.

Sebelum tiba di tanah Jawa, Maulana Malik Ibrahim lebih dulu berdakwah di Campa (sekarang bagian dari Kamboja) selama kurang lebih 13 tahun, sejak tahun 1379 M. Di sana, ia menikahi putri Raja Campa dan dikaruniai dua orang putra: Raden Rahmat (yang kelak dikenal sebagai Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha, atau Raden Santri. Setelah merasa cukup menjalankan dakwah di Campa, pada tahun 1392 M, ia memutuskan untuk hijrah ke Pulau Jawa dan memulai perjalanan dakwah baru, meninggalkan keluarganya demi tugas besar yang ia yakini sebagai panggilan jiwa.

Pertama kali menetap di pulau jawa adalah disebuah desa bernama Sembalo, yang kini dikenal sebagai Leran, di wilayah Manyar, sekitar 9 kilometer dari pusat kota Gresik, Jawa Timur. Di sinilah ia mulai menanamkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat, dengan cara yang sangat membumi dan sederhana.

Pendekatan dakwahnya sangat strategis. Ia memperkenalkan teknik bercocok tanam baru yang lebih efisien, serta menjalin kedekatan dengan masyarakat kelas bawah yang selama ini tersisih dalam sistem kasta Hindu. Dalam suasana sosial yang kacau akibat krisis ekonomi dan perang saudara, kehadiran Maulana Malik Ibrahim menjadi oase harapan bagi rakyat kecil.

Perlahan namun pasti, ajaran Islam mulai diterima oleh masyarakat sekitar. Ia kemudian membangun pondok pengajaran agama di Leran, sebagai pusat dakwah dan pendidikan. Melalui cara-cara damai dan pendekatan sosial yang bijak, ia berhasil menanamkan fondasi Islam yang kuat di Jawa, yang kelak diteruskan oleh generasi ulama berikutnya, termasuk putranya sendiri, Sunan Ampel.

Maulana Malik Ibrahim wafat pada tahun 1419 M. Ia dimakamkan di Kampung Gapura, Gresik. Hingga kini, makamnya tetap ramai diziarahi dan menjadi simbol awal masuknya Islam ke tanah Jawa.