Maulana Malik Ibrahim: Ulama Perintis Islam di Tanah Jawa
Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa tidak bisa
dilepaskan dari peran penting para saudagar Muslim yang datang dari
negeri-negeri jauh. Mereka tidak hanya membawa barang dagangan, tetapi juga
ajaran dan nilai-nilai Islam yang damai. Proses ini berlangsung secara
bertahap, terutama ketika Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran akibat
Perang Paregreg—perang saudara yang melemahkan sendi-sendi kekuasaan kerajaan.
Dua pelabuhan penting di pesisir utara Jawa, yakni Jepara dan Tuban,
menjadi pintu masuk awal pengaruh Islam. Di antara para ulama yang datang, nama
Maulana Malik Ibrahim menjadi tokoh sentral yang dikenang sebagai
pelopor dakwah Islam di tanah Jawa.
Maulana Malik Ibrahim—yang juga dikenal sebagai Makdum Ibrahim
As-Samarqandy—diperkirakan lahir di Samarqand, Asia Tengah, pada
paruh pertama abad ke-14. Dalam naskah-naskah Jawa kuno, seperti Babad Tanah
Jawi, ia disebut sebagai Asmarakandi, bentuk pelafalan lokal dari
“As-Samarqandy”. Masyarakat juga mengenalnya dengan nama lain, seperti Syeikh
Maghribi atau Kakek Bantal.
Ia berasal dari keluarga ulama besar. Ayahnya, Maulana Jumadil
Kubro, adalah seorang ulama Persia yang menetap di Samarqand, dan diyakini
sebagai keturunan ke-10 dari Sayyidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.
Maulana Malik Ibrahim juga bersaudara dengan Maulana Ishak, tokoh
penting di Samudra Pasai yang dikenal sebagai ayah dari Sunan Giri.
Sebelum tiba di tanah Jawa, Maulana Malik Ibrahim lebih dulu berdakwah
di Campa (sekarang bagian dari Kamboja) selama kurang lebih 13 tahun,
sejak tahun 1379 M. Di sana, ia menikahi putri Raja Campa dan dikaruniai dua
orang putra: Raden Rahmat (yang kelak dikenal sebagai Sunan Ampel)
dan Sayid Ali Murtadha, atau Raden Santri. Setelah merasa cukup
menjalankan dakwah di Campa, pada tahun 1392 M, ia memutuskan untuk hijrah ke
Pulau Jawa dan memulai perjalanan dakwah baru, meninggalkan keluarganya demi
tugas besar yang ia yakini sebagai panggilan jiwa.
Pertama kali menetap di pulau jawa adalah disebuah desa bernama Sembalo,
yang kini dikenal sebagai Leran, di wilayah Manyar, sekitar 9
kilometer dari pusat kota Gresik, Jawa Timur. Di sinilah ia mulai
menanamkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat, dengan cara yang sangat membumi
dan sederhana.
Pendekatan dakwahnya sangat strategis. Ia memperkenalkan teknik bercocok
tanam baru yang lebih efisien, serta menjalin kedekatan dengan masyarakat
kelas bawah yang selama ini tersisih dalam sistem kasta Hindu. Dalam suasana
sosial yang kacau akibat krisis ekonomi dan perang saudara, kehadiran Maulana
Malik Ibrahim menjadi oase harapan bagi rakyat kecil.
Perlahan namun pasti, ajaran Islam mulai diterima oleh masyarakat
sekitar. Ia kemudian membangun pondok pengajaran agama di Leran, sebagai
pusat dakwah dan pendidikan. Melalui cara-cara damai dan pendekatan sosial yang
bijak, ia berhasil menanamkan fondasi Islam yang kuat di Jawa, yang kelak
diteruskan oleh generasi ulama berikutnya, termasuk putranya sendiri, Sunan
Ampel.
Maulana Malik
Ibrahim wafat pada tahun 1419 M. Ia dimakamkan di Kampung Gapura,
Gresik. Hingga kini, makamnya tetap ramai diziarahi dan menjadi simbol awal
masuknya Islam ke tanah Jawa.