Kejatuhan Konstantinopel Menyebabkan Kolonialisme dan Imperialisme di Nusantara?
Beredar pendapat atau teori yang mengatakan bahwa
kejatuhan Konstantinopel pada tahun 1453 oleh Kesultanan Utsmaniyah yang
menyebabkan terjadinya ekspansi besar–besaran bangsa Eropa ke wilayah timur,
yang menyebabkan terjadinya kolonialisme dan imperialisme, termasuk di
Nusantara.
Sekarang coba kita balik, jika konstantinopel
masih tetap dikuasai oleh kekaisaran Romawi di Bizantium, kolonialisme,
imperialisme, ekspansi besar–besaran bangsa Eropa di luar wilayah Eropa tidak
akan terjadi?
KEJATUHAN KONSTANTINOPEL DAN DAMPAKNYA
Konstantinopel (sekarang Istanbul) adalah kota
yang strategis, baik secara geopolitik maupun ekonomi. Setelah kejatuhannya,
yang ditaklukkan oleh Kesultanan Utsmaniyah, perdagangan antara Eropa dan Asia
melalui jalur darat (melalui Konstantinopel) menjadi terbatas, yang
mengakibatkan, harga rempah-rempah di Eropa melambung naik menjadi sangat
mahal, bahkan dikatakan semahal emas (gold). Padahal, orang Eropa sangat
membutuhkan rempah-rempah layaknya kebutuhan primer. Iklim Eropa yang dingin
menyebabkan bangsa Eropa sangat membutuhkan rempah–rempah untuk menghangatkan
tubuh dan mengawetkan makanan. Karena kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi
itulah, perjalanan ke wilayah dunia bagian timur untuk menemukan ladang
rempah–rempah yang berharga seperti emas, perlu segera dilakukan. Hal ini
memaksa bangsa Eropa mencari jalur alternatif untuk perdagangan rempah–rempah,
sutra, dan barang–barang mewah lainnya yang berasal dari Timur.
Jadi, kejatuhan Konstantinopel mempercepat
pencarian jalur laut baru ke Asia, yang akhirnya mengarah pada penjelajahan
besar-besaran oleh bangsa Eropa ke
wilayah Timur dan Afrika. Ini adalah salah satu faktor yang mempercepat
ekspansi kolonialisme dan imperialisme, meskipun tidak menjadi penyebab
tunggal.
JIKA KONSTANTINOPEL TIDAK DIKUASAI OLEH
KESULTANAN TURKI UTSMANI?
Keadaan Kekaisaran Romawi Timur di Bizantium saat
itu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, bisa saja Konstantinopel akan
jatuh ke tangan negara lain, misalnya negara Eropa seperti Venesia atau Genoa,
kemungkinan besar jalur perdagangan yang menghubungkan Eropa dan Asia tetap
akan ada. Namun, ini tidak menjamin bahwa kolonialisme dan imperialisme tidak
akan terjadi.
Ada beberapa alasan mengapa kolonialisme dan
imperialisme kemungkinan besar tetap akan berkembang, meski tidak secara
langsung terkait dengan kejatuhan Konstantinopel:
1. Persaingan Eropa:
Negara-negara Eropa sudah sangat terlibat dalam
persaingan untuk mendapatkan pengaruh global. Bahkan tanpa kejatuhan
Konstantinopel, mereka akan tetap mencari cara untuk menguasai wilayah baru
yang kaya akan sumber daya alam.
2. Pencarian Sumber Daya Baru:
Dengan kebutuhan yang semakin meningkat akan
sumber daya untuk mendukung pertumbuhan industri, penjajahan terhadap wilayah
Timur dan Afrika tetap akan menjadi pilihan bagi negara–negara Eropa.
JIKA KEKAISARANAN ROMAWI TIMUR DI BIZANTIUM TETAP
EKSIS
Jika Bizantium dapat mereformasi dan mengelola
stabilitas politiknya, kemungkinan besar Kekaisaran Romawi juga akan
berekspansi wilayah untuk memperkuat pengaruh politik dan ekonominya.
Bizantium sudah mempunyai pengalaman panjang
dalam perdagangan internasional di Laut Tengah, Laut Hitam, bahkan
Samudra Hindia (lewat perantara). Jika mereka mengembangkan teknologi maritim,
bukan mustahil mereka ikut serta dalam perebutan sumber daya dunia. Bisa jadi
akan terjadi persaingan dan perebutan wilayah ekspansi kekuasaan antara Eropa
Barat yang Katholik dan Eropa Timur yang dikuasai oleh Bizantium yang Kristen
Ortodoks dalam penjelajahan dunia baru.
Bisa juga akan terjadi koalisi besar Eropa Barat
dan Eropa Timur untuk ekspansi global untuk melawan pengaruh Kesultanan Turki
Utsmaniyah, yang tentu akan mengubah situasi geopolitk dunia.
Bagaimana keadaan Nusantara jika situasi itu
terjadi? Tetap saja akan menjadi tempat perebutan pengaruh dan kekuasaan, akan
terhimpit oleh kekuatan–kekuatan besar dunia. Pelanduk mati terhimpit ditengah
gajah yang bertikai.
FAKTOR LAIN YANG MENDORONG KOLONIALISME DAN
IMPERIALISME
Jika Konstantinopel tidak jatuh ke tangan
Utsmaniyah, masih ada sejumlah faktor lain yang dapat mendorong kolonialisme
dan imperialisme, antara lain:
1. Persaingan Ekonomi dan Sumber Daya:
Sejak abad pertengahan, Eropa sudah mengalami
pertumbuhan ekonomi yang pesat, terutama dengan berkembangnya perdagangan.
Negara–negara Eropa mulai berkompetisi untuk mendapatkan sumber daya alam yang
ada di wilayah Timur (seperti rempah-rempah, emas, perak, dll.).
2. Motivasi Keagamaan:
Selain faktor ekonomi, ada juga dorongan agama,
terutama dari Gereja Katolik, untuk menyebarkan agama Kristen ke
wilayah–wilayah non Kristen, seperti yang terlihat dalam misi penjelajahan.
3. Kemajuan Teknologi:
Peningkatan dalam teknologi navigasi, seperti
penemuan kompas dan kemampuan pembuatan kapal yang lebih kuat, memungkinkan
bangsa Eropa untuk mengeksplorasi dan menjelajah samudra yang lebih luas.
4. Kebutuhan Akan Wilayah Baru:
Eropa mulai mengalami keterbatasan ruang untuk
ekspansi di benua mereka sendiri, sementara wilayah Timur (termasuk Afrika dan
Asia) menawarkan potensi besar untuk ekspansi.
5. Perjanjian Tordesillas yang ditandatangani
pada 7 Juni 1494:
Ada persaingan sengit antara Spanyol dan Portugal
untuk menguasai wilayah perdagangan dan penjelajahan yang baru ditemukan. Paus
Alexander VI mengeluarkan beberapa dekrit untuk menengahi perselisihan ini, dan
akhirnya perjanjian Tordesillas lahir sebagai Solusi, yang kemudian Paus
Alexander VI mencetuskan semboyan 3G (Gold, Glory, and God), yang kemudian
mengubah arah petualangan bangsa Eropa ke dunia baru tidak semata-mata mencari
keuntungan tetapi ingin menyebarkan agama Nasrani. Kemudian pembagian wilayah
yang tertera pada perjanjian Tordesillas itu, membuat iri negara Eropa
lainnya, yaitu: Inggris, Perancis, dan Belanda, yang kemudian ikut berekspansi.
KESIMPULAN
Jadi, kejatuhan Konstantinopel memang memberikan
dorongan besar terhadap perkembangan kolonialisme Eropa, terutama karena
mendorong pencarian jalur laut alternatif ke “dunia baru”. Namun, meskipun jika
Konstantinopel tetap bertahan, berbagai faktor lain yang mendorong ekspansi
Eropa ke wilayah “dunia baru” tetap akan ada, dan kemungkinan besar
kolonialisme dan imperialisme tetap akan terjadi. Kejatuhan Konstantinopel
hanya menjadi salah satu faktor terjadinya kolonilisme dan imperialisme di
benua Asia, Afrika dan Amerika, bahkan juga benua Australia.
Dan coba renungkan, Daulah Islamiyah dan yang
terakhir adalah Kesultanan Turki Utsmani, yang telah menguasai jalur
perdagangan di timur dan barat selama berates–ratus tahun, dan menggunakan
armada laut sampai ke wilayah di Afrika, Asia (India, Cina, termasuk
Nusantara), dan Amerika (jauh sebelum kedatangan Columbus), juga ke Australia,
mengapa tidak terjadi kolonialisme dan Imperialisme?