Belajar dari Sejarah: Wabah Tha’un di Masa Khalifah Umar bin Khattab
Pandemi
Covid-19 yang
melanda dunia beberapa tahun lalu masih membekas dalam ingatan banyak orang.
Wabah ini, yang bermula di China pada akhir 2019, dengan cepat menyebar ke
seluruh dunia dan mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Banyak orang
kehilangan orang terkasih, pekerjaan terganggu, sistem kesehatan kewalahan, dan
berbagai kebijakan seperti lockdown diberlakukan di banyak negara.
Respons
masyarakat pun beragam. Ada yang panik dan ketakutan, ada yang menanggapinya
dengan santai, bahkan menganggapnya konspirasi. Namun satu hal yang pasti:
pandemi ini telah mengguncang kehidupan sosial dan budaya di seluruh dunia.
Rasanya masih terngiang– ngiang dalam ingatan kita bagaimana hidup mendadak
berubah total—mulai dari harus pakai masker ke mana-mana, work from home,
sekolah online, sampai harus jaga jarak dari orang-orang terdekat.
Bahkan salat berjamaah di masjid pun sempat ditiadakan di banyak tempat.
Tapi
tahukah kamu, ternyata umat Islam juga pernah mengalami situasi serupa di masa
lalu?
Pandangan
Islam terhadap Wabah
Sebenarnya,
dalam sejarah Islam, peristiwa semacam ini bukan hal yang baru. Umat Islam
pernah mengalami situasi serupa pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab. Salah
satu peristiwa penting yang dicatat dalam sejarah adalah wabah Tha’un
Amawas, yang terjadi di wilayah Syam (sekarang mencakup Suriah,
Palestina, Yordania, dan sekitarnya).
Kisah ini
tercatat dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya sejarawan terkenal
Ibnu Katsir.
Ketika
Wabah Menyerang Syam
Pada tahun
17 Hijriyah, Khalifah Umar bin Khattab berangkat menuju wilayah Syam untuk
suatu keperluan, sebagian riwayat menyebutkan untuk memimpin perang. Saat tiba
di sebuah tempat bernama Sargh, Umar mendapat laporan dari para pemimpin
pasukan bahwa sedang terjadi wabah penyakit di wilayah tersebut.
Menanggapi
situasi ini, Umar segera mengumpulkan para sahabat dari kalangan Muhajirin dan
Anshar untuk bermusyawarah. Ada perbedaan pendapat di antara mereka. Sebagian
menyarankan agar Umar tetap melanjutkan perjalanan dan menghadapi risiko wabah,
sementara yang lain setuju untuk kembali ke Madinah.
Di tengah
perdebatan itu, muncul pertanyaan dari sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah yang
terkenal: “Apakah kita lari dari takdir Allah?”
Umar
menjawab dengan sangat bijak, “Ya, kita lari dari satu takdir Allah menuju
takdir Allah yang lain. Jika kamu berada di lembah yang memiliki dua jalan—satu
jalan subur dan satu lagi tandus—dan kamu memilih jalan yang subur, itu juga
takdir Allah. Begitu pula jika kamu memilih jalan yang tandus.”
Tak lama
kemudian, datanglah Abdurrahman bin Auf yang sebelumnya belum ikut
bermusyawarah. Ia menyampaikan bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah SAW:
"Jika kalian
mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya.
Namun jika wabah itu terjadi di tempat kalian berada, maka janganlah kalian
keluar darinya."
(HR. Bukhari dan
Muslim)
Setelah
mendengar hadis ini, Umar pun merasa mantap dengan keputusannya. Ia memuji
Allah dan memerintahkan seluruh pasukan Muslim untuk kembali ke Madinah, demi
menjaga keselamatan mereka.
Pelajaran
dari Sejarah
Kisah ini
menarik karena menunjukkan bahwa sejak dulu Islam sudah mengajarkan
prinsip-prinsip kesehatan masyarakat. Nabi Muhammad SAW sudah menyampaikan
konsep isolasi wilayah jauh sebelum dunia modern mengenalnya sebagai “lockdown”
atau “karantina”. Islam memberikan panduan yang jelas dalam menghadapi wabah.
Rasulullah SAW telah menegaskan pentingnya prinsip karantina atau isolasi untuk
mencegah penyebaran penyakit. Ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan
kepedulian terhadap keselamatan orang lain.
Dari Umar
bin Khattab, kita belajar pentingnya musyawarah dalam pengambilan keputusan
besar, serta keberanian untuk mengambil langkah yang tidak populer demi
kebaikan Bersama, tidak asal-asalan dalam mengambil keputusan—selalu
bermusyawarah, berpikir logis, dan tetap merujuk pada ajaran Rasulullah. Kita
juga dapat belajar bahwa menjaga keselamatan diri dan orang lain adalah bagian
dari takdir yang harus kita ikhtiarkan.
Sejarah
bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dijadikan pelajaran. Seperti halnya
wabah Tha’un di masa lalu, pandemi yang kita alami saat ini pun bisa menjadi
momen refleksi: bagaimana kita bersikap, menjaga diri dan orang lain, serta
memperkuat nilai-nilai solidaritas dan keimanan di tengah ujian.