Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

18 Oktober 2025

Belajar dari Sejarah: Wabah Tha’un di Masa Khalifah Umar bin Khattab

 

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia beberapa tahun lalu masih membekas dalam ingatan banyak orang. Wabah ini, yang bermula di China pada akhir 2019, dengan cepat menyebar ke seluruh dunia dan mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Banyak orang kehilangan orang terkasih, pekerjaan terganggu, sistem kesehatan kewalahan, dan berbagai kebijakan seperti lockdown diberlakukan di banyak negara.

 

Respons masyarakat pun beragam. Ada yang panik dan ketakutan, ada yang menanggapinya dengan santai, bahkan menganggapnya konspirasi. Namun satu hal yang pasti: pandemi ini telah mengguncang kehidupan sosial dan budaya di seluruh dunia. Rasanya masih terngiang– ngiang dalam ingatan kita bagaimana hidup mendadak berubah total—mulai dari harus pakai masker ke mana-mana, work from home, sekolah online, sampai harus jaga jarak dari orang-orang terdekat. Bahkan salat berjamaah di masjid pun sempat ditiadakan di banyak tempat.

 

Tapi tahukah kamu, ternyata umat Islam juga pernah mengalami situasi serupa di masa lalu?

 

Pandangan Islam terhadap Wabah

Sebenarnya, dalam sejarah Islam, peristiwa semacam ini bukan hal yang baru. Umat Islam pernah mengalami situasi serupa pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab. Salah satu peristiwa penting yang dicatat dalam sejarah adalah wabah Tha’un Amawas, yang terjadi di wilayah Syam (sekarang mencakup Suriah, Palestina, Yordania, dan sekitarnya).

 

Kisah ini tercatat dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya sejarawan terkenal Ibnu Katsir.

 

Ketika Wabah Menyerang Syam

Pada tahun 17 Hijriyah, Khalifah Umar bin Khattab berangkat menuju wilayah Syam untuk suatu keperluan, sebagian riwayat menyebutkan untuk memimpin perang. Saat tiba di sebuah tempat bernama Sargh, Umar mendapat laporan dari para pemimpin pasukan bahwa sedang terjadi wabah penyakit di wilayah tersebut.

 

Menanggapi situasi ini, Umar segera mengumpulkan para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar untuk bermusyawarah. Ada perbedaan pendapat di antara mereka. Sebagian menyarankan agar Umar tetap melanjutkan perjalanan dan menghadapi risiko wabah, sementara yang lain setuju untuk kembali ke Madinah.

 

Di tengah perdebatan itu, muncul pertanyaan dari sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah yang terkenal: “Apakah kita lari dari takdir Allah?”

 

Umar menjawab dengan sangat bijak, “Ya, kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Jika kamu berada di lembah yang memiliki dua jalan—satu jalan subur dan satu lagi tandus—dan kamu memilih jalan yang subur, itu juga takdir Allah. Begitu pula jika kamu memilih jalan yang tandus.”

 

Tak lama kemudian, datanglah Abdurrahman bin Auf yang sebelumnya belum ikut bermusyawarah. Ia menyampaikan bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah SAW:

 

"Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Namun jika wabah itu terjadi di tempat kalian berada, maka janganlah kalian keluar darinya."

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Setelah mendengar hadis ini, Umar pun merasa mantap dengan keputusannya. Ia memuji Allah dan memerintahkan seluruh pasukan Muslim untuk kembali ke Madinah, demi menjaga keselamatan mereka.

 

Pelajaran dari Sejarah

 

Kisah ini menarik karena menunjukkan bahwa sejak dulu Islam sudah mengajarkan prinsip-prinsip kesehatan masyarakat. Nabi Muhammad SAW sudah menyampaikan konsep isolasi wilayah jauh sebelum dunia modern mengenalnya sebagai “lockdown” atau “karantina”. Islam memberikan panduan yang jelas dalam menghadapi wabah. Rasulullah SAW telah menegaskan pentingnya prinsip karantina atau isolasi untuk mencegah penyebaran penyakit. Ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap keselamatan orang lain.

 

Dari Umar bin Khattab, kita belajar pentingnya musyawarah dalam pengambilan keputusan besar, serta keberanian untuk mengambil langkah yang tidak populer demi kebaikan Bersama, tidak asal-asalan dalam mengambil keputusan—selalu bermusyawarah, berpikir logis, dan tetap merujuk pada ajaran Rasulullah. Kita juga dapat belajar bahwa menjaga keselamatan diri dan orang lain adalah bagian dari takdir yang harus kita ikhtiarkan.

 

Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dijadikan pelajaran. Seperti halnya wabah Tha’un di masa lalu, pandemi yang kita alami saat ini pun bisa menjadi momen refleksi: bagaimana kita bersikap, menjaga diri dan orang lain, serta memperkuat nilai-nilai solidaritas dan keimanan di tengah ujian.