Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

07 September 2026

Mbok Enak e, Mbok Enco ne...

 

Surabaya di pengujung abad ke-19 tentu sangat berbeda dengan Surabaya hari ini.

Belum ada deru mobil, lampu jalan yang terang, apalagi kemacetan. Di malam hari, yang terdengar mungkin hanya suara roda gerobak sapi yang sesekali melintas, kepak kelelawar, dan gesekan daun yang ditiup angin.

Di Surabaya tempo dulu itulah kakek buyutku, Haji Muhammad, pernah mengalami sebuah kejadian aneh bersama kawannya, Pak Marto.

Aneh, tetapi lucu.

Saking lucunya, setiap kisah ini diceritakan kembali di tengah keluarga, bukannya bikin merinding, malah selalu mengundang tawa.

Ceritanya bermula selepas salat Isya.

Malam itu Haji Muhammad dan Pak Marto baru saja pulang dari surau kampung. Mereka berjalan menyusuri jalan tanah yang sepi dan remang-remang.

Ketika sampai di dekat sebuah pekarangan kosong yang cukup rimbun, langkah mereka mendadak terhenti.

Di dekat semak-semak tampak sebuah kiso, wadah ayam yang terbuat dari anyaman bambu. Di dalamnya terlihat seekor ayam jago meringkuk dengan tenang.

Pak Marto menunjuk ke arah benda itu.

"Ji... coba lihat itu apa di bawah pohon?"

Haji Muhammad mendekat dan memperhatikannya.

"Wah, ayame sopo sing ketinggalan?" katanya dalam bahasa Suroboyoan.

Pak Marto malah tertawa.

"Dibawa pulang saja, Ji. Lumayan... bisa digoreng atau dibuat sate."

Tanpa curiga sedikit pun, Haji Muhammad mengambil kiso itu dan menjinjingnya.

Awalnya tidak ada yang aneh.

Namun baru beberapa belas langkah berjalan, tangannya mulai terasa berat.

"Lho, To... kok rasanya ayam ini makin lama makin berat, ya?"

Pak Marto masih santai.

"Ah, perasaanmu saja, Ji. Namanya juga ayam jago besar."

Haji Muhammad melanjutkan langkah.

Tetapi bukannya semakin ringan, kiso itu justru terasa semakin berat.

Tangannya mulai pegal.

Kemudian bahunya ikut terasa sakit.

Beban itu akhirnya terasa bukan seperti membawa seekor ayam, tetapi seperti membawa sekarung batu kali.

Haji Muhammad pun mengubah cara membawanya. Kiso itu dibopong menggunakan kain sarungnya.

Pak Marto masih saja menganggap semuanya biasa.

Sampai tiba-tiba...

Dari dalam kiso terdengar suara serak dan berat.

Pelan.

Namun sangat jelas.

"Mbok enak e... mbok encone..."

Langkah keduanya langsung berhenti.

Hening.

Haji Muhammad dan Pak Marto saling berpandangan.

Suara itu terdengar lagi.

"Mbok enak e... mbok encone..."

Entah apa yang ada di dalam kiso itu. Tetapi bukannya lari terbirit-birit, Haji Muhammad justru naik pitam.

Mungkin karena tangannya sudah kebas.

Mungkin juga karena sejak tadi ia harus memanggul sesuatu yang beratnya seperti batu.

Dengan emosi khas Surabaya, ia langsung membentak ke arah kiso.

"Enak, opo?! Dikira aku iki kuli panggul pasar?!"

Bruk!

Kiso itu langsung dilemparkannya ke semak-semak.

Haji Muhammad kemudian berjalan cepat bersama Pak Marto menuju rumah.

Dan anehnya...

Bukannya ketakutan, sepanjang perjalanan keduanya malah tertawa.

Entah apa sebenarnya yang ada di dalam kiso itu malam tersebut.

Yang jelas, sejak kejadian itu, cerita tentang “ayam” yang bisa ngomong selalu menjadi bahan tertawaan di keluarga.

Setiap kali kisah ini diceritakan kembali, bagian yang paling membuat semua orang tertawa bukanlah suara dari dalam kiso.

Tetapi wajah Haji Muhammad yang marah-marah kepada sesuatu yang tidak kelihatan, hanya karena merasa dipaksa membawa beban berat.

Bagi orang lain mungkin itu kisah mistis.

Bagi keluarga kami, itu adalah salah satu cerita lama yang selalu berhasil membuat suasana berkumpul menjadi lebih hangat.

Dan kalimat itu pun tetap dikenang sampai sekarang...

"Mbok enak e... mbok encone..."