Mbok Enak e, Mbok Enco ne...
Surabaya di pengujung abad ke-19 tentu
sangat berbeda dengan Surabaya hari ini.
Belum ada deru mobil, lampu jalan yang
terang, apalagi kemacetan. Di malam hari, yang terdengar mungkin hanya suara
roda gerobak sapi yang sesekali melintas, kepak kelelawar, dan gesekan daun
yang ditiup angin.
Di Surabaya tempo dulu itulah kakek
buyutku, Haji Muhammad, pernah mengalami sebuah kejadian aneh bersama kawannya,
Pak Marto.
Aneh, tetapi lucu.
Saking lucunya, setiap kisah ini
diceritakan kembali di tengah keluarga, bukannya bikin merinding, malah selalu
mengundang tawa.
Ceritanya bermula selepas salat Isya.
Malam itu Haji Muhammad dan Pak Marto
baru saja pulang dari surau kampung. Mereka berjalan menyusuri jalan tanah yang
sepi dan remang-remang.
Ketika sampai di dekat sebuah pekarangan
kosong yang cukup rimbun, langkah mereka mendadak terhenti.
Di dekat semak-semak tampak sebuah kiso,
wadah ayam yang terbuat dari anyaman bambu. Di dalamnya terlihat seekor ayam
jago meringkuk dengan tenang.
Pak Marto menunjuk ke arah benda itu.
"Ji... coba lihat itu apa di bawah
pohon?"
Haji Muhammad mendekat dan
memperhatikannya.
"Wah, ayame sopo sing
ketinggalan?" katanya dalam bahasa Suroboyoan.
Pak Marto malah tertawa.
"Dibawa pulang saja, Ji. Lumayan...
bisa digoreng atau dibuat sate."
Tanpa curiga sedikit pun, Haji Muhammad
mengambil kiso itu dan menjinjingnya.
Awalnya tidak ada yang aneh.
Namun baru beberapa belas langkah
berjalan, tangannya mulai terasa berat.
"Lho, To... kok rasanya ayam ini
makin lama makin berat, ya?"
Pak Marto masih santai.
"Ah, perasaanmu saja, Ji. Namanya
juga ayam jago besar."
Haji Muhammad melanjutkan langkah.
Tetapi bukannya semakin ringan, kiso
itu justru terasa semakin berat.
Tangannya mulai pegal.
Kemudian bahunya ikut terasa sakit.
Beban itu akhirnya terasa bukan seperti
membawa seekor ayam, tetapi seperti membawa sekarung batu kali.
Haji Muhammad pun mengubah cara
membawanya. Kiso itu dibopong menggunakan kain sarungnya.
Pak Marto masih saja menganggap semuanya
biasa.
Sampai tiba-tiba...
Dari dalam kiso terdengar suara
serak dan berat.
Pelan.
Namun sangat jelas.
"Mbok enak e... mbok encone..."
Langkah keduanya langsung berhenti.
Hening.
Haji Muhammad dan Pak Marto saling
berpandangan.
Suara itu terdengar lagi.
"Mbok enak e... mbok encone..."
Entah apa yang ada di dalam kiso
itu. Tetapi bukannya lari terbirit-birit, Haji Muhammad justru naik pitam.
Mungkin karena tangannya sudah kebas.
Mungkin juga karena sejak tadi ia harus
memanggul sesuatu yang beratnya seperti batu.
Dengan emosi khas Surabaya, ia langsung
membentak ke arah kiso.
"Enak, opo?! Dikira aku iki kuli
panggul pasar?!"
Bruk!
Kiso itu langsung dilemparkannya ke
semak-semak.
Haji Muhammad kemudian berjalan cepat
bersama Pak Marto menuju rumah.
Dan anehnya...
Bukannya ketakutan, sepanjang perjalanan
keduanya malah tertawa.
Entah apa sebenarnya yang ada di dalam kiso
itu malam tersebut.
Yang jelas, sejak kejadian itu, cerita
tentang “ayam” yang bisa ngomong selalu menjadi bahan tertawaan di keluarga.
Setiap kali kisah ini diceritakan
kembali, bagian yang paling membuat semua orang tertawa bukanlah suara dari
dalam kiso.
Tetapi wajah Haji Muhammad yang
marah-marah kepada sesuatu yang tidak kelihatan, hanya karena merasa dipaksa
membawa beban berat.
Bagi orang lain mungkin itu kisah mistis.
Bagi keluarga kami, itu adalah salah satu
cerita lama yang selalu berhasil membuat suasana berkumpul menjadi lebih
hangat.
Dan kalimat itu pun tetap dikenang sampai
sekarang...
"Mbok enak e... mbok encone..."