Pesugihan: Antara Percaya dan Tidak, Antara Jalan Pintas dan Rambu-Rambu Kehidupan
Jagad maya akhir-akhir ini diramaikan
oleh berbagai ulasan mengenai isu pesugihan yang dikaitkan dengan seorang
selebritas terkenal di tanah air. Para konten kreator seolah mendapatkan durian
runtuh. Berlomba-lomba mengulas, menafsirkan, bahkan mengaitkan satu peristiwa
dengan peristiwa lainnya. Ujung-ujungnya sama. Trending, followers bertambah,
dan cuan pun mengalir. Mungkin, kalau boleh bergurau, inilah salah satu bentuk
pesugihan modern.
Ada sebuah pertanyaan yang sejak dulu
menarik untuk diperdebatkan: benarkah seseorang bisa menjadi kaya melalui
kekuatan gaib?
Di Indonesia, pertanyaan itu sering
bermuara pada satu kata, yaitu
pesugihan.
Ada yang percaya. Ada yang menolak
mentah-mentah. Ada yang menganggapnya sekadar cerita warisan dari generasi ke
generasi. Ada pula yang mengaku pernah melihat, mendengar, bahkan mengalami
sesuatu yang kemudian dikaitkan dengan pesugihan.
Namun, barangkali ada pertanyaan yang
jauh lebih penting daripada sekadar “pesugihan itu benar atau tidak?”
Mengapa manusia begitu mudah tergoda
untuk mencari jalan pintas menuju sesuatu yang diinginkannya?
Sebab persoalannya ternyata bukan hanya
tentang pesugihan. Ia berbicara tentang manusia, tentang keinginan,
keserakahan, ketakutan, ketidaksabaran, dan tentang bagaimana seseorang
menentukan arah ketika berada di persimpangan kehidupan.
Ketika Kekayaan Menjadi Tujuan, Jalan Sering Dilupakan
Pada dasarnya, keinginan untuk hidup
berkecukupan bukanlah sesuatu yang salah. Manusia ingin memiliki rumah yang
layak, keluarga yang sejahtera, usaha yang maju, pendidikan yang baik, dan
kehidupan yang lebih nyaman. Semua itu merupakan bagian dari harapan yang
sangat manusiawi.
Persoalannya muncul ketika keinginan
memperoleh hasil mulai mengalahkan pertimbangan tentang bagaimana hasil itu
diperoleh.
Di sinilah godaan jalan pintas muncul.
Kita hidup di zaman yang menyukai segala sesuatu serba cepat dan serba instan.
Lalu tanpa sadar, kita pun mulai menginginkan kaya dengan cepat, sukses dengan
cepat, terkenal dengan cepat, berhasil dengan cepat. Padahal, banyak hal
berharga dalam kehidupan justru membutuhkan waktu, kesabaran, dan proses.
Ketika seseorang ditawarkan jalan untuk
memperoleh kekayaan tanpa proses yang wajar, seharusnya muncul satu pertanyaan
sederhana, “Apa sebenarnya yang harus saya bayar untuk mendapatkan sesuatu yang
tampaknya terlalu mudah?”
Pesugihan dan Cerita tentang Harga yang Harus Dibayar
Ada berbagai jalan
pintas yang ditempuh sebagian manusia berupa tipu daya, manipulasi, korupsi,
perjudian, atau mengambil hak orang lain. Dan dalam kepercayaan masyarakat, ada
pula jalan pintas yang dikaitkan dengan dunia gaib. Bentuknya berbeda, tetapi
akar persoalannya bisa sama: keinginan mendapatkan hasil tanpa bersedia
menanggung proses dan konsekuensinya.
Dalam berbagai kisah dan kepercayaan
masyarakat di Indonesia, pesugihan sering digambarkan sebagai jalan untuk
memperoleh kekayaan melalui bantuan kekuatan supranatural.
Bentuk ceritanya bermacam-macam. Ada yang
menyebut perjanjian dengan makhluk gaib. Ada ritual tertentu. Ada tempat yang
dianggap keramat. Ada benda-benda yang dipercaya memiliki kekuatan. Ada pula
kisah tentang pantangan dan tumbal. Nama dan bentuk ceritanya berbeda-beda
menurut daerah dan tradisi masyarakat. Namun menariknya, pola ceritanya hampir
selalu sama: ada sesuatu yang diinginkan. Ada jalan yang ditawarkan. Ada
kesepakatan atau syarat yang harus dipenuhi. Lalu, pada akhirnya, ada harga
yang harus dibayar.
Terlepas dari benar atau tidaknya
kisah-kisah tersebut, cerita tentang pesugihan menyimpan pesan yang jauh lebih
luas daripada sekadar persoalan mistis, yaitu pesan agar manusia tidak mudah tergoda oleh sesuatu yang menjanjikan
hasil besar tanpa proses. Sebab tidak semua jalan yang tampak mudah adalah
jalan yang benar.
Rambu-Rambu Itu Bukan Penghalang
Bayangkan kita sedang mengendarai
kendaraan. Di sepanjang jalan terdapat berbagai rambu. Apakah semua rambu itu
dibuat untuk menghambat perjalanan?
Tentu tidak. Rambu justru dibuat agar
kita sampai ke tujuan tanpa celaka. Demikian pula kehidupan. Kita tetap boleh
memiliki tujuan. Kita boleh ingin sampai lebih cepat. Kita boleh ingin mencapai
tempat yang lebih baik. Tetapi keinginan untuk sampai tidak memberi kita hak
untuk menerobos lampu merah, melawan arus, atau mengabaikan batas kecepatan.
Nilai moral, agama, hukum, akal sehat,
dan batas-batas kemanusiaan sebenarnya dapat dipandang sebagai rambu-rambu
kehidupan.
Masalahnya, manusia terkadang merasa
rambu hanya diperlukan ketika sedang menguntungkan dirinya. Padahal rambu tidak
pernah dibuat untuk mengikuti keinginan pengemudi. Pengemudilah yang harus
mengikuti rambu.
Percaya Boleh, Tetapi Jangan Berhenti Berpikir
Membicarakan pesugihan juga membutuhkan
kehati-hatian. Sebab ada perbedaan antara menghormati kepercayaan masyarakat
dan menganggap sebuah klaim sebagai fakta yang sudah terbukti. Yang jelas,
pesugihan nyata sebagai fenomena budaya dan kepercayaan masyarakat.
Berbagai daerah memiliki kisah dan
bentuknya masing-masing. Ia menjadi bagian dari folklor, tradisi lisan, dan
sistem kepercayaan masyarakat.
Di tengah era digital dan perkembangan
kecerdasan buatan, muncul pula pertanyaan yang semakin relevan, “Apakah secara
ilmiah telah terbukti bahwa ritual pesugihan dapat menghasilkan kekayaan
melalui kekuatan gaib?”
Sejauh pengetahuan ilmiah yang tersedia saat
ini, belum ada bukti empiris yang menunjukkan bahwa ritual pesugihan dapat
menghasilkan kekayaan melalui kekuatan gaib secara objektif, konsisten, dan
dapat diuji ulang.
Ini bukan berarti pengalaman seseorang
harus langsung dihina atau ditertawakan. Pengalaman pribadi adalah pengalaman
pribadi. Seseorang bisa mengalami sesuatu yang sangat nyata baginya, tetapi
kesimpulan mengenai mengapa hal itu terjadi tetap membutuhkan
pembuktian.
Bukan untuk merendahkan kepercayaan orang
lain, melainkan untuk menjaga diri agar tidak mudah dikendalikan oleh klaim
yang belum terbukti.
Mengapa Orang Mudah Percaya?
Manusia memiliki kebutuhan yang sangat
kuat untuk mendapatkan kejelasan tentang sesuatu. Ketika seseorang tiba-tiba
kaya, orang ingin tahu dari mana kekayaannya. Ketika sebuah usaha tiba-tiba
sukses, orang ingin mengetahui rahasianya. Ketika sesuatu yang tidak biasa
terjadi, manusia mencari hubungan sebab-akibat.
Pada masa lalu, ketika akses terhadap
informasi dan pengetahuan ilmiah masih terbatas, cerita supranatural kerap
menjadi salah satu cara masyarakat menjelaskan hal-hal yang sulit dipahami.
Apalagi cerita yang dramatis jauh lebih mudah diingat. Bayangkan ada dua
cerita.
Cerita pertama:
“Ia bekerja
selama puluhan tahun, menabung, mengembangkan usaha, kemudian menjadi kaya.”
Cerita kedua:
“Ia pergi
ke tempat tertentu, melakukan ritual, kemudian memperoleh kekayaan dengan
syarat tertentu.”
Mana yang lebih mudah diceritakan
kembali? Kemungkinan besar cerita kedua. Bukan karena lebih benar, tetapi
karena lebih dramatis.
Di zaman media sosial, persoalannya
menjadi lebih rumit. Sebuah cerita yang dulu mungkin hanya beredar dari mulut
ke mulut kini dapat menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat. Cerita itu
dapat dikemas menjadi konten yang menarik. Tetapi ada satu hal yang harus kita
ingat, viral bukan berarti benar.
Banyaknya orang yang melihat, menyukai,
atau membagikan sebuah cerita bukanlah bukti bahwa cerita itu benar.
Popularitas hanya menunjukkan bahwa sesuatu berhasil menarik perhatian. Padahal
popularitas hanya menunjukkan bahwa sesuatu menarik perhatian. Bukan bahwa
sesuatu telah terbukti.
Karena itu, semakin menarik sebuah klaim,
justru semakin penting bagi kita untuk bertanya, apa buktinya? Dari mana
informasinya? Apakah bisa diverifikasi? Apakah ada penjelasan lain yang lebih
masuk akal? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu adalah rambu.
Bahaya yang Justru Nyata
Ironisnya, meskipun kekuatan gaib dalam
pesugihan belum terbukti secara ilmiah, bahaya yang muncul dari kepercayaan dan
praktik yang mengatasnamakan pesugihan bisa sangat nyata.
Ada orang yang kehilangan uang karena
membayar seseorang yang mengaku memiliki kemampuan supranatural. Ada orang yang
membeli benda-benda yang disebut bertuah dengan harga sangat mahal. Ada pula
yang kemudian merasa harus terus menjalankan ritual tertentu karena takut
sesuatu yang buruk akan terjadi jika ritual itu dihentikan. Ada yang mengalami
kecemasan karena takut melanggar pantangan. Ada pula orang yang dituduh
melakukan pesugihan hanya karena kehidupannya berubah menjadi lebih baik.
Tuduhan semacam itu dapat menghancurkan
hubungan sosial. Seseorang bisa dikucilkan. Keluarga bisa bertengkar. Tetangga
bisa saling mencurigai. Dan dalam keadaan tertentu, prasangka bahkan dapat
berubah menjadi tindakan main hakim sendiri.
Mungkin,
inilah bahaya yang seharusnya lebih kita waspadai: bukan sekadar sesuatu yang
belum terbukti, melainkan kerugian dan prasangka yang benar-benar dapat terjadi
di tengah kehidupan.
Keserakahan Tidak Selalu Datang dalam Bentuk yang Menakutkan
Kita sering membayangkan keserakahan
sebagai sesuatu yang ekstrem. Padahal keserakahan bisa muncul dalam bentuk yang
sangat biasa. Tidak pernah merasa cukup. Selalu membandingkan diri dengan orang
lain. Ingin lebih kaya dari tetangga. Ingin lebih berkuasa dari rekan. Ingin
memperoleh hasil lebih besar tanpa mau menanggung proses. Ingin mendapatkan hak
orang lain karena merasa dirinya lebih pantas. Keserakahan tidak selalu datang
dengan wajah menyeramkan. Kadang ia datang sebagai sebuah bisikan kecil, “Kalau
ada cara yang lebih cepat, mengapa harus bersusah payah?”
Kalimat sederhana itulah yang dapat
menjadi awal dari banyak keputusan buruk. Bukankah kita semua, pada tingkat
tertentu, pernah merasakan bisikan semacam itu? Pernahkah kita sendiri ingin
mendapatkan sesuatu lebih cepat daripada yang seharusnya?
Jangan Sampai Kita Menabrak Rambu
Hidup adalah perjalanan. Kita semua ingin
sampai ke suatu tempat yang dituju. Tetapi tujuan tidak pernah membenarkan
semua cara.
Di jalan raya, seseorang yang ingin cepat
sampai tidak boleh menerobos lampu merah. Ia tidak boleh melawan arus. Ia tidak
boleh mengabaikan batas kecepatan. Mengapa?
Karena keinginan untuk sampai dengan
cepat tidak menghapus risiko kecelakaan. Begitu pula kehidupan.
Ketika kita mengabaikan rambu moral,
agama, hukum, akal sehat, dan kemanusiaan hanya karena ingin mendapatkan
sesuatu lebih cepat, kita sedang mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih besar
daripada tujuan yang ingin kita capai.. Dan sering kali, ketika tabrakan itu
terjadi, penyesalan datang terlambat.
Kita Tidak Membutuhkan Pesugihan,
Melainkan Kesabaran
Barangkali yang dicari sebagian orang
melalui cerita tentang pesugihan bukanlah kekuatan gaib. Mereka sebenarnya
sedang mencari harapan.
Harapan untuk keluar dari kemiskinan.
Harapan untuk melunasi utang. Harapan agar usaha berhasil. Harapan agar
kehidupan berubah.
Harapan adalah sesuatu yang sangat
manusiawi. Tetapi harapan membutuhkan arah. Tanpa arah, harapan dapat berubah
menjadi keputusasaan. Dan keputusasaan dapat membuat seseorang percaya kepada
siapa saja yang menjanjikan jalan keluar.
Ketika seseorang sedang berada dalam
kesulitan ekonomi, yang dibutuhkan bukanlah janji kekayaan instan, melainkan
jalan yang lebih nyata, belajar, bekerja, membangun keterampilan, mengelola
keuangan, mencari peluang, membangun jaringan, memperbaiki strategi, dan—yang
sering kali paling sulit—bersabar terhadap proses.
Kesabaran bukan berarti menunggu tanpa
melakukan apa-apa. Kesabaran adalah kemampuan untuk tetap menempuh jalan yang
benar meskipun hasilnya belum datang secepat yang kita harapkan.
Pada Akhirnya, Pilihan Tetap Ada di Tangan Kita
Pesugihan akan terus menjadi bagian dari
cerita, kepercayaan, folklor, dan perdebatan masyarakat.
Ada yang percaya. Ada yang tidak. Ada
yang melihatnya sebagai warisan budaya. Ada yang melihatnya dari sudut pandang
agama. Ada yang menilainya berdasarkan ilmu pengetahuan. Perbedaan pandangan
semacam itu akan selalu ada. Namun ada satu hal yang seharusnya tidak berbeda,
yaitu kita harus tetap menggunakan akal sehat.
Jangan mudah percaya hanya karena sebuah
cerita terdengar meyakinkan. Jangan mudah menuduh hanya karena sebuah peristiwa
terlihat aneh. Jangan mudah menyerahkan uang kepada orang yang menjanjikan
kekayaan tanpa dasar yang jelas. Dan jangan pula menganggap aturan sebagai
musuh hanya karena aturan membuat jalan terasa lebih panjang.
Sebab jalan yang lurus memang terkadang
lebih panjang. Tetapi jalan lurus memiliki satu kelebihan: kita tidak perlu
takut menoleh ke belakang.
Fa bi`ayyi
ālā`i rabbikumā tukażżibān
“Maka nikmat
Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
— QS. Ar-Raḥmān:
13