Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

13 Agustus 2026

Pesugihan: Antara Percaya dan Tidak, Antara Jalan Pintas dan Rambu-Rambu Kehidupan

 

Jagad maya akhir-akhir ini diramaikan oleh berbagai ulasan mengenai isu pesugihan yang dikaitkan dengan seorang selebritas terkenal di tanah air. Para konten kreator seolah mendapatkan durian runtuh. Berlomba-lomba mengulas, menafsirkan, bahkan mengaitkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Ujung-ujungnya sama. Trending, followers bertambah, dan cuan pun mengalir. Mungkin, kalau boleh bergurau, inilah salah satu bentuk pesugihan modern.

Ada sebuah pertanyaan yang sejak dulu menarik untuk diperdebatkan: benarkah seseorang bisa menjadi kaya melalui kekuatan gaib?

Di Indonesia, pertanyaan itu sering bermuara pada satu kata, yaitu  pesugihan.

Ada yang percaya. Ada yang menolak mentah-mentah. Ada yang menganggapnya sekadar cerita warisan dari generasi ke generasi. Ada pula yang mengaku pernah melihat, mendengar, bahkan mengalami sesuatu yang kemudian dikaitkan dengan pesugihan.

Namun, barangkali ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar “pesugihan itu benar atau tidak?”

Mengapa manusia begitu mudah tergoda untuk mencari jalan pintas menuju sesuatu yang diinginkannya?

Sebab persoalannya ternyata bukan hanya tentang pesugihan. Ia berbicara tentang manusia, tentang keinginan, keserakahan, ketakutan, ketidaksabaran, dan tentang bagaimana seseorang menentukan arah ketika berada di persimpangan kehidupan.


Ketika Kekayaan Menjadi Tujuan, Jalan Sering Dilupakan

Pada dasarnya, keinginan untuk hidup berkecukupan bukanlah sesuatu yang salah. Manusia ingin memiliki rumah yang layak, keluarga yang sejahtera, usaha yang maju, pendidikan yang baik, dan kehidupan yang lebih nyaman. Semua itu merupakan bagian dari harapan yang sangat manusiawi.

Persoalannya muncul ketika keinginan memperoleh hasil mulai mengalahkan pertimbangan tentang bagaimana hasil itu diperoleh.

Di sinilah godaan jalan pintas muncul. Kita hidup di zaman yang menyukai segala sesuatu serba cepat dan serba instan. Lalu tanpa sadar, kita pun mulai menginginkan kaya dengan cepat, sukses dengan cepat, terkenal dengan cepat, berhasil dengan cepat. Padahal, banyak hal berharga dalam kehidupan justru membutuhkan waktu, kesabaran, dan proses. 

Ketika seseorang ditawarkan jalan untuk memperoleh kekayaan tanpa proses yang wajar, seharusnya muncul satu pertanyaan sederhana, “Apa sebenarnya yang harus saya bayar untuk mendapatkan sesuatu yang tampaknya terlalu mudah?”


Pesugihan dan Cerita tentang Harga yang Harus Dibayar

Ada berbagai jalan pintas yang ditempuh sebagian manusia berupa tipu daya, manipulasi, korupsi, perjudian, atau mengambil hak orang lain. Dan dalam kepercayaan masyarakat, ada pula jalan pintas yang dikaitkan dengan dunia gaib. Bentuknya berbeda, tetapi akar persoalannya bisa sama: keinginan mendapatkan hasil tanpa bersedia menanggung proses dan konsekuensinya.

Dalam berbagai kisah dan kepercayaan masyarakat di Indonesia, pesugihan sering digambarkan sebagai jalan untuk memperoleh kekayaan melalui bantuan kekuatan supranatural.

Bentuk ceritanya bermacam-macam. Ada yang menyebut perjanjian dengan makhluk gaib. Ada ritual tertentu. Ada tempat yang dianggap keramat. Ada benda-benda yang dipercaya memiliki kekuatan. Ada pula kisah tentang pantangan dan tumbal. Nama dan bentuk ceritanya berbeda-beda menurut daerah dan tradisi masyarakat. Namun menariknya, pola ceritanya hampir selalu sama: ada sesuatu yang diinginkan. Ada jalan yang ditawarkan. Ada kesepakatan atau syarat yang harus dipenuhi. Lalu, pada akhirnya, ada harga yang harus dibayar.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah-kisah tersebut, cerita tentang pesugihan menyimpan pesan yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan mistis, yaitu pesan agar manusia tidak  mudah tergoda oleh sesuatu yang menjanjikan hasil besar tanpa proses. Sebab tidak semua jalan yang tampak mudah adalah jalan yang benar.


Rambu-Rambu Itu Bukan Penghalang

Bayangkan kita sedang mengendarai kendaraan. Di sepanjang jalan terdapat berbagai rambu. Apakah semua rambu itu dibuat untuk menghambat perjalanan?

Tentu tidak. Rambu justru dibuat agar kita sampai ke tujuan tanpa celaka. Demikian pula kehidupan. Kita tetap boleh memiliki tujuan. Kita boleh ingin sampai lebih cepat. Kita boleh ingin mencapai tempat yang lebih baik. Tetapi keinginan untuk sampai tidak memberi kita hak untuk menerobos lampu merah, melawan arus, atau mengabaikan batas kecepatan.

Nilai moral, agama, hukum, akal sehat, dan batas-batas kemanusiaan sebenarnya dapat dipandang sebagai rambu-rambu kehidupan.

Masalahnya, manusia terkadang merasa rambu hanya diperlukan ketika sedang menguntungkan dirinya. Padahal rambu tidak pernah dibuat untuk mengikuti keinginan pengemudi. Pengemudilah yang harus mengikuti rambu.


Percaya Boleh, Tetapi Jangan Berhenti Berpikir

Membicarakan pesugihan juga membutuhkan kehati-hatian. Sebab ada perbedaan antara menghormati kepercayaan masyarakat dan menganggap sebuah klaim sebagai fakta yang sudah terbukti. Yang jelas, pesugihan nyata sebagai fenomena budaya dan kepercayaan masyarakat.

Berbagai daerah memiliki kisah dan bentuknya masing-masing. Ia menjadi bagian dari folklor, tradisi lisan, dan sistem kepercayaan masyarakat.

Di tengah era digital dan perkembangan kecerdasan buatan, muncul pula pertanyaan yang semakin relevan, “Apakah secara ilmiah telah terbukti bahwa ritual pesugihan dapat menghasilkan kekayaan melalui kekuatan gaib?”

Sejauh pengetahuan ilmiah yang tersedia saat ini, belum ada bukti empiris yang menunjukkan bahwa ritual pesugihan dapat menghasilkan kekayaan melalui kekuatan gaib secara objektif, konsisten, dan dapat diuji ulang.

Ini bukan berarti pengalaman seseorang harus langsung dihina atau ditertawakan. Pengalaman pribadi adalah pengalaman pribadi. Seseorang bisa mengalami sesuatu yang sangat nyata baginya, tetapi kesimpulan mengenai mengapa hal itu terjadi tetap membutuhkan pembuktian.

Bukan untuk merendahkan kepercayaan orang lain, melainkan untuk menjaga diri agar tidak mudah dikendalikan oleh klaim yang belum terbukti.

Mengapa Orang Mudah Percaya?

Manusia memiliki kebutuhan yang sangat kuat untuk mendapatkan kejelasan tentang sesuatu. Ketika seseorang tiba-tiba kaya, orang ingin tahu dari mana kekayaannya. Ketika sebuah usaha tiba-tiba sukses, orang ingin mengetahui rahasianya. Ketika sesuatu yang tidak biasa terjadi, manusia mencari hubungan sebab-akibat.

Pada masa lalu, ketika akses terhadap informasi dan pengetahuan ilmiah masih terbatas, cerita supranatural kerap menjadi salah satu cara masyarakat menjelaskan hal-hal yang sulit dipahami. Apalagi cerita yang dramatis jauh lebih mudah diingat. Bayangkan ada dua cerita.

Cerita pertama:

“Ia bekerja selama puluhan tahun, menabung, mengembangkan usaha, kemudian menjadi kaya.”

Cerita kedua:

“Ia pergi ke tempat tertentu, melakukan ritual, kemudian memperoleh kekayaan dengan syarat tertentu.”

Mana yang lebih mudah diceritakan kembali? Kemungkinan besar cerita kedua. Bukan karena lebih benar, tetapi karena lebih dramatis.

Di zaman media sosial, persoalannya menjadi lebih rumit. Sebuah cerita yang dulu mungkin hanya beredar dari mulut ke mulut kini dapat menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat. Cerita itu dapat dikemas menjadi konten yang menarik. Tetapi ada satu hal yang harus kita ingat, viral bukan berarti benar.

Banyaknya orang yang melihat, menyukai, atau membagikan sebuah cerita bukanlah bukti bahwa cerita itu benar. Popularitas hanya menunjukkan bahwa sesuatu berhasil menarik perhatian. Padahal popularitas hanya menunjukkan bahwa sesuatu menarik perhatian. Bukan bahwa sesuatu telah terbukti.

Karena itu, semakin menarik sebuah klaim, justru semakin penting bagi kita untuk bertanya, apa buktinya? Dari mana informasinya? Apakah bisa diverifikasi? Apakah ada penjelasan lain yang lebih masuk akal? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu adalah rambu.


Bahaya yang Justru Nyata

Ironisnya, meskipun kekuatan gaib dalam pesugihan belum terbukti secara ilmiah, bahaya yang muncul dari kepercayaan dan praktik yang mengatasnamakan pesugihan bisa sangat nyata.

Ada orang yang kehilangan uang karena membayar seseorang yang mengaku memiliki kemampuan supranatural. Ada orang yang membeli benda-benda yang disebut bertuah dengan harga sangat mahal. Ada pula yang kemudian merasa harus terus menjalankan ritual tertentu karena takut sesuatu yang buruk akan terjadi jika ritual itu dihentikan. Ada yang mengalami kecemasan karena takut melanggar pantangan. Ada pula orang yang dituduh melakukan pesugihan hanya karena kehidupannya berubah menjadi lebih baik.

Tuduhan semacam itu dapat menghancurkan hubungan sosial. Seseorang bisa dikucilkan. Keluarga bisa bertengkar. Tetangga bisa saling mencurigai. Dan dalam keadaan tertentu, prasangka bahkan dapat berubah menjadi tindakan main hakim sendiri.

Mungkin, inilah bahaya yang seharusnya lebih kita waspadai: bukan sekadar sesuatu yang belum terbukti, melainkan kerugian dan prasangka yang benar-benar dapat terjadi di tengah kehidupan.


Keserakahan Tidak Selalu Datang dalam Bentuk yang Menakutkan

Kita sering membayangkan keserakahan sebagai sesuatu yang ekstrem. Padahal keserakahan bisa muncul dalam bentuk yang sangat biasa. Tidak pernah merasa cukup. Selalu membandingkan diri dengan orang lain. Ingin lebih kaya dari tetangga. Ingin lebih berkuasa dari rekan. Ingin memperoleh hasil lebih besar tanpa mau menanggung proses. Ingin mendapatkan hak orang lain karena merasa dirinya lebih pantas. Keserakahan tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan. Kadang ia datang sebagai sebuah bisikan kecil, “Kalau ada cara yang lebih cepat, mengapa harus bersusah payah?”

Kalimat sederhana itulah yang dapat menjadi awal dari banyak keputusan buruk. Bukankah kita semua, pada tingkat tertentu, pernah merasakan bisikan semacam itu? Pernahkah kita sendiri ingin mendapatkan sesuatu lebih cepat daripada yang seharusnya?


Jangan Sampai Kita Menabrak Rambu

Hidup adalah perjalanan. Kita semua ingin sampai ke suatu tempat yang dituju. Tetapi tujuan tidak pernah membenarkan semua cara.

Di jalan raya, seseorang yang ingin cepat sampai tidak boleh menerobos lampu merah. Ia tidak boleh melawan arus. Ia tidak boleh mengabaikan batas kecepatan. Mengapa?

Karena keinginan untuk sampai dengan cepat tidak menghapus risiko kecelakaan. Begitu pula kehidupan.

Ketika kita mengabaikan rambu moral, agama, hukum, akal sehat, dan kemanusiaan hanya karena ingin mendapatkan sesuatu lebih cepat, kita sedang mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada tujuan yang ingin kita capai.. Dan sering kali, ketika tabrakan itu terjadi, penyesalan datang terlambat.

Kita Tidak Membutuhkan Pesugihan, Melainkan Kesabaran

Barangkali yang dicari sebagian orang melalui cerita tentang pesugihan bukanlah kekuatan gaib. Mereka sebenarnya sedang mencari harapan.

Harapan untuk keluar dari kemiskinan. Harapan untuk melunasi utang. Harapan agar usaha berhasil. Harapan agar kehidupan berubah.

Harapan adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Tetapi harapan membutuhkan arah. Tanpa arah, harapan dapat berubah menjadi keputusasaan. Dan keputusasaan dapat membuat seseorang percaya kepada siapa saja yang menjanjikan jalan keluar.

Ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan ekonomi, yang dibutuhkan bukanlah janji kekayaan instan, melainkan jalan yang lebih nyata, belajar, bekerja, membangun keterampilan, mengelola keuangan, mencari peluang, membangun jaringan, memperbaiki strategi, dan—yang sering kali paling sulit—bersabar terhadap proses.

Kesabaran bukan berarti menunggu tanpa melakukan apa-apa. Kesabaran adalah kemampuan untuk tetap menempuh jalan yang benar meskipun hasilnya belum datang secepat yang kita harapkan.


Pada Akhirnya, Pilihan Tetap Ada di Tangan Kita

Pesugihan akan terus menjadi bagian dari cerita, kepercayaan, folklor, dan perdebatan masyarakat.

Ada yang percaya. Ada yang tidak. Ada yang melihatnya sebagai warisan budaya. Ada yang melihatnya dari sudut pandang agama. Ada yang menilainya berdasarkan ilmu pengetahuan. Perbedaan pandangan semacam itu akan selalu ada. Namun ada satu hal yang seharusnya tidak berbeda, yaitu kita harus tetap menggunakan akal sehat.

Jangan mudah percaya hanya karena sebuah cerita terdengar meyakinkan. Jangan mudah menuduh hanya karena sebuah peristiwa terlihat aneh. Jangan mudah menyerahkan uang kepada orang yang menjanjikan kekayaan tanpa dasar yang jelas. Dan jangan pula menganggap aturan sebagai musuh hanya karena aturan membuat jalan terasa lebih panjang.

Sebab jalan yang lurus memang terkadang lebih panjang. Tetapi jalan lurus memiliki satu kelebihan: kita tidak perlu takut menoleh ke belakang.

Fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

QS. Ar-Raḥmān: 13