Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

31 Juli 2026

Ditempa oleh Agama, Dibesarkan oleh Kesederhanaan

 

Jika Tegalrejo menjadi tempat Diponegoro mengenal kehidupan rakyat, maka ada satu hal lain yang jauh lebih kuat membentuk dirinya, yaitu agama. Bagi Diponegoro, agama bukan sekadar keyakinan pribadi. Agama menjadi landasan dalam memandang dunia, memahami keadilan, serta menentukan bagaimana seorang pemimpin seharusnya menjalankan amanahnya

Ratu Ageng tidak sekadar mengajarkan membaca Al-Qur'an. Ia juga menanamkan kepadanya cara memandang kehidupan, bahwa ilmu tanpa akhlak tidak akan melahirkan pemimpin yang adil, sedangkan kekuasaan hanyalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan kepada Yang Maha Kuasa.

Seiring bertambahnya usia, kehidupannya semakin dekat dengan dunia para ulama dibandingkan gemerlap kehidupan keraton. Kemewahan istana perlahan kehilangan daya tariknya.

Memasuki usia remaja, ketertarikannya terhadap kehidupan spiritual semakin kuat. Ia gemar berpuasa sunah, melakukan tirakat, memperbanyak ibadah, bahkan sering menyendiri untuk merenungkan berbagai persoalan hidup. Ketika usianya sekitar dua puluh tahun, muncul keinginan yang semakin besar untuk menempuh jalan seorang sufi. Ia mengunjungi berbagai masjid, bergaul dengan para santri, dan memperdalam ilmu agama kepada para ulama.

Berbeda dengan sebagian anak bangsawan yang lebih banyak menghabiskan waktu mempelajari tata krama istana dan ilmu pemerintahan, Mustahar justru lebih senang duduk di serambi masjid, berdiskusi dengan para ulama, serta mendengarkan nasihat para kiai.

Pengalaman-pengalaman spiritual ia tuangkan dalam Babad Diponegoro, yang ditulisnya ketika menjalani masa pembuangan, tampak jelas bahwa sejak muda Diponegoro memandang kekuasaan bukan sebagai tujuan hidup, melainkan amanah yang hanya bernilai apabila digunakan untuk menegakkan keadilan.


Ketika Keraton Bukan Lagi Tempat Berteduh

Meski berasal dari keluarga kerajaan, Diponegoro tidak pernah benar-benar menikmati kehidupan istana.

Ia hanya datang ke keraton pada saat-saat tertentu, seperti upacara Grebeg Maulud, Idulfitri, atau acara resmi keluarga kesultanan. Selebihnya, ia memilih kembali ke Tegalrejo.

Pilihan itu membuat sebagian kalangan menganggapnya berbeda.

Sementara banyak bangsawan berlomba mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi di lingkungan istana, Diponegoro justru merasa lebih damai berada di tengah masyarakat desa.

Ia tidak canggung berbincang dengan para petani ataupun santri. Rumahnya di Tegalrejo juga kerap didatangi ulama, petani, santri, hingga masyarakat biasa yang datang untuk meminta nasihat atau sekadar menyampaikan persoalan hidup yang mereka hadapi.

Hubungan yang terjalin bukanlah hubungan antara seorang bangsawan dan rakyat jelata. Melainkan hubungan antara seorang pemimpin dengan masyarakat yang kelak akan mempercayainya sepenuh hati.

Ia mengenal rakyatnya bukan dari laporan para pejabat atau cerita para abdi dalem, melainkan melalui perjumpaan langsung setiap hari. Yang membentuk cara pandangnya, bahwa seorang pemimpin harus hadir untuk rakyatnya.


Benih-Benih Kekecewaan terhadap Keraton

Semakin sering Diponegoro datang ke keraton, semakin jelas pula perubahan yang ia saksikan. Istana yang dahulu menjadi lambang kewibawaan Mataram kini tidak lagi sepenuhnya menentukan nasibnya sendiri. Campur tangan pemerintah kolonial semakin dalam, bahkan menjangkau urusan-urusan yang sebelumnya menjadi hak mutlak keluarga kerajaan. Dalam berbagai keputusan penting, suara Belanda sering kali lebih menentukan daripada kehendak para bangsawan sendiri.

Bahkan urusan yang seharusnya menjadi hak keluarga kerajaan pun tidak lagi sepenuhnya bebas dari intervensi pihak kolonial. Babad Diponegoro menceritakan bahwa keadaan itu menimbulkan kegelisahan yang mendalam dalam dirinya. Ia merasa nilai-nilai yang dahulu dijunjung tinggi oleh leluhurnya perlahan mulai memudar.

Kegelisahan itu masih ia simpan rapat.

Ia belum mengangkat senjata.

Ia belum memimpin perlawanan.

Bahkan mungkin belum pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti puluhan ribu orang akan berdiri di belakangnya. Namun di dalam dirinya telah tumbuh sebuah keyakinan. Bahwa seorang pemimpin tidak boleh diam ketika kehormatan rakyat dan agamanya mulai diinjak-injak. Keyakinan yang tumbuh perlahan, sering kali jauh lebih berbahaya daripada kemarahan yang meledak sesaat.

Tinggal menunggu waktu.

Tinggal menunggu percikan.

Percikan itu akhirnya datang pada pertengahan tahun 1825, ketika sebuah tiang pancang ditanam di tanah yang dianggap suci oleh Diponegoro.

Banyak orang mengira perang dimulai karena sengketa tanah. Padahal, tanah itu hanyalah pemantik terakhir.

Bara perlawanan telah lama menyala di dalam hati seorang pangeran yang sejak kecil ditempa oleh agama, dibesarkan dalam kesederhanaan, dan menyaksikan sendiri bagaimana kedaulatan Jawa perlahan terkikis oleh kekuasaan kolonial.

Di dalam hatinya terus bergema sebuah pertanyaan yang tak pernah benar-benar menemukan jawaban: Sampai kapan tanah Jawa harus membiarkan orang asing menentukan nasibnya?

Diponegoro belum mengangkat senjata.

Ia bahkan belum mengetahui bahwa namanya kelak akan mengguncang kekuasaan kolonial Belanda.

Namun waktu telah membentuk jiwanya.

Tinggal menunggu satu peristiwa yang mengubah keyakinan menjadi perlawanan.

Bersambung...

Baca juga:

·      Jawa yang Sedang Kehilangan Kedaulatannya

·      Pangeran Diponegoro: Pangeran yang Tak Pernah Berlutut kepada Penjajah