Ditempa oleh Agama, Dibesarkan oleh Kesederhanaan
Jika Tegalrejo menjadi tempat Diponegoro
mengenal kehidupan rakyat, maka ada satu hal lain yang jauh lebih kuat
membentuk dirinya, yaitu agama. Bagi Diponegoro, agama bukan sekadar keyakinan
pribadi. Agama menjadi landasan dalam memandang dunia, memahami keadilan, serta
menentukan bagaimana seorang pemimpin seharusnya menjalankan amanahnya
Ratu Ageng tidak sekadar mengajarkan
membaca Al-Qur'an. Ia juga menanamkan kepadanya cara memandang kehidupan, bahwa
ilmu tanpa akhlak tidak akan melahirkan pemimpin yang adil, sedangkan kekuasaan
hanyalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan kepada Yang Maha Kuasa.
Seiring bertambahnya usia, kehidupannya
semakin dekat dengan dunia para ulama dibandingkan gemerlap kehidupan keraton.
Kemewahan istana perlahan kehilangan daya tariknya.
Memasuki usia remaja, ketertarikannya
terhadap kehidupan spiritual semakin kuat. Ia gemar berpuasa sunah, melakukan
tirakat, memperbanyak ibadah, bahkan sering menyendiri untuk merenungkan
berbagai persoalan hidup. Ketika usianya sekitar dua puluh tahun, muncul
keinginan yang semakin besar untuk menempuh jalan seorang sufi. Ia mengunjungi
berbagai masjid, bergaul dengan para santri, dan memperdalam ilmu agama kepada
para ulama.
Berbeda dengan sebagian anak bangsawan
yang lebih banyak menghabiskan waktu mempelajari tata krama istana dan ilmu
pemerintahan, Mustahar justru lebih senang duduk di serambi masjid, berdiskusi
dengan para ulama, serta mendengarkan nasihat para kiai.
Pengalaman-pengalaman spiritual ia
tuangkan dalam Babad Diponegoro, yang ditulisnya ketika menjalani masa
pembuangan, tampak jelas bahwa sejak muda Diponegoro
memandang kekuasaan bukan sebagai tujuan hidup, melainkan amanah yang hanya
bernilai apabila digunakan untuk menegakkan keadilan.
Ketika Keraton Bukan Lagi Tempat Berteduh
Meski berasal dari keluarga kerajaan,
Diponegoro tidak pernah benar-benar menikmati kehidupan istana.
Ia hanya datang ke keraton pada saat-saat
tertentu, seperti upacara Grebeg Maulud, Idulfitri, atau acara resmi keluarga
kesultanan. Selebihnya, ia memilih kembali ke Tegalrejo.
Pilihan itu membuat sebagian kalangan
menganggapnya berbeda.
Sementara banyak bangsawan berlomba
mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi di lingkungan istana, Diponegoro justru
merasa lebih damai berada di tengah masyarakat desa.
Ia tidak canggung berbincang dengan para
petani ataupun santri. Rumahnya di Tegalrejo juga kerap didatangi ulama,
petani, santri, hingga masyarakat biasa yang datang untuk meminta nasihat atau
sekadar menyampaikan persoalan hidup yang mereka hadapi.
Hubungan yang terjalin bukanlah hubungan
antara seorang bangsawan dan rakyat jelata. Melainkan hubungan antara seorang
pemimpin dengan masyarakat yang kelak akan mempercayainya sepenuh hati.
Ia mengenal rakyatnya bukan dari laporan
para pejabat atau cerita para abdi dalem, melainkan melalui perjumpaan langsung
setiap hari. Yang membentuk cara pandangnya, bahwa seorang pemimpin harus hadir
untuk rakyatnya.
Benih-Benih Kekecewaan terhadap Keraton
Semakin sering
Diponegoro datang ke keraton, semakin jelas pula perubahan yang ia saksikan.
Istana yang dahulu menjadi lambang kewibawaan Mataram kini tidak lagi
sepenuhnya menentukan nasibnya sendiri. Campur tangan pemerintah kolonial
semakin dalam, bahkan menjangkau urusan-urusan yang sebelumnya menjadi hak
mutlak keluarga kerajaan. Dalam berbagai keputusan penting, suara Belanda
sering kali lebih menentukan daripada kehendak para bangsawan sendiri.
Bahkan urusan yang seharusnya menjadi hak keluarga kerajaan pun tidak lagi sepenuhnya bebas dari intervensi pihak kolonial. Babad Diponegoro menceritakan bahwa keadaan itu menimbulkan
kegelisahan yang mendalam dalam dirinya. Ia merasa nilai-nilai yang dahulu
dijunjung tinggi oleh leluhurnya perlahan mulai memudar.
Kegelisahan itu masih ia simpan rapat.
Ia belum
mengangkat senjata.
Ia belum
memimpin perlawanan.
Bahkan
mungkin belum pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti puluhan ribu orang
akan berdiri di belakangnya. Namun di dalam dirinya telah tumbuh sebuah
keyakinan. Bahwa seorang pemimpin tidak boleh diam ketika kehormatan rakyat dan
agamanya mulai diinjak-injak. Keyakinan yang tumbuh perlahan, sering kali jauh
lebih berbahaya daripada kemarahan yang meledak sesaat.
Tinggal
menunggu waktu.
Tinggal
menunggu percikan.
Percikan
itu akhirnya datang pada pertengahan tahun 1825, ketika sebuah tiang pancang
ditanam di tanah yang dianggap suci oleh Diponegoro.
Banyak orang mengira perang dimulai
karena sengketa tanah. Padahal, tanah itu hanyalah pemantik terakhir.
Bara perlawanan telah lama menyala di
dalam hati seorang pangeran yang sejak kecil ditempa oleh agama, dibesarkan
dalam kesederhanaan, dan menyaksikan sendiri bagaimana kedaulatan Jawa perlahan
terkikis oleh kekuasaan kolonial.
Di dalam hatinya terus bergema sebuah pertanyaan
yang tak pernah benar-benar menemukan jawaban: Sampai kapan tanah Jawa harus
membiarkan orang asing menentukan nasibnya?
Diponegoro
belum mengangkat senjata.
Ia bahkan
belum mengetahui bahwa namanya kelak akan mengguncang kekuasaan kolonial Belanda.
Namun waktu
telah membentuk jiwanya.
Tinggal
menunggu satu peristiwa yang mengubah keyakinan menjadi perlawanan.
Bersambung...
Baca juga:
· Jawa yang Sedang Kehilangan Kedaulatannya
· Pangeran Diponegoro: Pangeran yang Tak Pernah Berlutut
kepada Penjajah