Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

24 Agustus 2026

Haman, Menara Firaun, dan Piramida Mesir

 

Nama Haman disebut beberapa kali dalam Al-Qur’an sebagai salah satu tokoh penting di lingkungan kekuasaan Firaun. Ia digambarkan berada di jajaran orang-orang yang menentang dakwah Nabi Musa a.s. Salah satu peristiwa paling menarik yang berkaitan dengan Haman adalah ketika Firaun memerintahkannya untuk membakar tanah liat dan membangun sebuah bangunan tinggi.

Kisah tersebut terdapat antara lain dalam Surat Al-Qashash ayat 38.

Dan Firaun berkata, “Wahai para pembesar, aku tidak mengetahui ada tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah tanah liat untukku, wahai Haman, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi agar aku dapat melihat Tuhannya Musa. Dan sesungguhnya aku yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (QS. Al-Qashash: 38)

Pada ayat tersebut memperlihatkan tiga hal penting, yaitu:

Pertama, Firaun mengklaim otoritas ketuhanan di hadapan rakyatnya. Kedua, ia memerintahkan Haman untuk menyiapkan material bangunan melalui pembakaran tanah liat. Ketiga, pembangunan tersebut dikaitkan dengan keinginannya untuk “melihat” Tuhan yang disembah Nabi Musa a.s.

Dalam sejumlah kitab tafsir klasik, Haman digambarkan sebagai pejabat tinggi atau pembantu utama Firaun. Ibnu Katsir, menempatkannya sebagai tokoh penting dalam pemerintahan Firaun. Namun, Al-Qur’an tidak memberikan rincian lengkap mengenai jabatan administratif Haman, sehingga penyebutan Haman sebagai “menteri”, “wazir”, “patih”, atau pengawas pembangunan perlu dipahami sebagai keterangan dari tafsir dan riwayat, bukan sebagai rincian yang disebutkan secara eksplisit oleh ayat Al-Qur’an.


Mengapa Firaun Memerintahkan Pembangunan Menara?

Jika diperhatikan secara tekstual, perintah tersebut muncul dalam konteks perseteruan Firaun dengan Nabi Musa a.s.

Firaun tidak hanya menolak dakwah Musa, tetapi juga berusaha membentuk persepsi rakyat bahwa Musa adalah seorang pendusta.

Dalam Surat Ghafir ayat 36–37, Firaun berkata kepada Haman:

“Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhannya Musa. Tetapi aku tetap memandangnya seorang pendusta.”

Pernyataan ini menunjukkan bentuk sarkasme Firaun yang seolah-olah ingin melakukan pembuktian terhadap klaim Nabi Musa, tetapi pada saat yang sama sudah menyatakan bahwa Musa adalah pendusta. Tindakan Firaun itu merupakan bagian dari sikap sombong dan penolakannya terhadap kebenaran.


Makna “Membakar Tanah Liat”

Salah satu bagian paling menarik dari Surat Al-Qashash ayat 38 adalah perintah untuk membakar tanah liat. Para mufasir menjelaskannya adanya kaitan pembuatan batu bata yang dibakar sebagai bahan bangunan.

Penggunaan tanah liat sebagai bahan bangunan bukan sesuatu yang asing bagi peradaban Mesir kuno. Bata lumpur (mudbrick) telah digunakan secara luas dalam berbagai konstruksi di Mesir kuno, terutama karena bahan bakunya mudah diperoleh dari endapan Sungai Nil.

Perlu dibedakan antara bata lumpur dan bata bakar yang digunakan pada peradaban Mesir kuno dengan klaim bahwa ayat tersebut secara langsung membuktikan teknologi “beton geopolimer” yang masih menjadi perdebatan ilmiah dan tidak dapat dianggap sebagai konsensus arkeologi.


Menara Firaun: Piramida atau Bangunan Tinggi?

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah mengidentikkan bangunan yang diperintahkan Firaun dengan Piramida Giza.

Secara tekstual, Al-Qur’an menyebut kata ṣarḥan yang menunjuk pada sebuah bangunan tinggi atau struktur yang menjulang. Karena itu, tidak ada dasar tekstual yang kuat untuk menyatakan bahwa bangunan tersebut pasti merupakan piramida.

Piramida Mesir pada umumnya memiliki fungsi yang berkaitan dengan kompleks pemakaman kerajaan. Sementara itu, bangunan dalam kisah Firaun diperintahkan dengan tujuan yang berbeda.  Firaun ingin mencapai tempat yang tinggi dan mengklaim hendak melihat Tuhan Nabi Musa.

Dengan demikian, lebih tepat menyebutnya sebagai “bangunan tinggi” atau “menara” daripada langsung menyamakannya dengan Piramida Giza.


Apakah Menara Itu Benar-Benar Dibangun?

Al-Qur’an menyatakan bahwa Firaun memerintahkan pembangunan tersebut. Beberapa kitab tafsir kemudian memberikan kisah yang lebih terperinci mengenai proses dan akhir bangunan itu.

Dalam sejumlah riwayat tafsir yang dinisbatkan kepada tradisi tafsir klasik, disebutkan kisah bahwa pembangunan tersebut melibatkan tenaga kerja dalam jumlah sangat besar. Ada pula riwayat yang menceritakan Firaun naik ke puncak bangunan dan melepaskan anak panah ke arah langit.

Dalam riwayat-riwayat tersebut, anak panah itu kemudian dikisahkan kembali dalam keadaan berlumuran darah dan Firaun memanfaatkannya untuk memengaruhi rakyatnya.

Kisah semacam ini perlu dibedakan dari informasi yang secara eksplisit terdapat dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut perintah pembangunan dan kesombongan Firaun, tetapi rincian seperti jumlah pekerja, anak panah, serta cara penghancuran menara berasal dari riwayat tafsir dan tidak semuanya memiliki tingkat kepastian yang sama.

Kisah tentang kehancuran menara juga ditemukan dalam sebagian riwayat tafsir. Ada riwayat yang menyebut bahwa Malaikat Jibril menghancurkan bangunan tersebut hingga runtuh menjadi tiga bagian.

Namun, penting untuk memahami status riwayat tersebut. Al-Qur’an memang menegaskan bahwa Allah menghancurkan apa yang dibangun oleh Firaun dan kaumnya.

Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat oleh Firaun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun. (QS. Al-A’raf: 137)

Ayat tersebut tidak secara eksplisit menyebut nama menara maupun menjelaskan bahwa Jibril menghancurkannya menjadi tiga bagian. Karena itu, rincian tersebut sebaiknya ditulis sebagai riwayat dalam sebagian tafsir, bukan sebagai fakta Al-Qur’an yang bersifat pasti.


Hubungan dengan Piramida dan Arsitektur Mesir Kuno

Mesir kuno memang memiliki sejarah panjang dalam penggunaan berbagai jenis material konstruksi.

Piramida Giza yang terkenal dibangun pada masa Kerajaan Lama dan terutama tersusun dari batu alam. Sementara itu, pada periode-periode berikutnya, bata lumpur menjadi material yang sangat penting dalam berbagai bangunan Mesir.

Beberapa piramida dari periode Kerajaan Tengah bahkan memiliki inti yang menggunakan bata lumpur, kemudian pada awalnya dilapisi material lain sehingga tampak lebih kokoh dan monumental.

Contohnya adalah kompleks piramida Amenemhat III di Hawara dan Senusret II di el-Lahun.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Mesir kuno mengenal berbagai teknologi konstruksi, mulai dari pemotongan batu alam hingga penggunaan bata lumpur.

Namun, fakta tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa bangunan Firaun dalam kisah Nabi Musa adalah salah satu piramida yang masih dikenal hingga sekarang.


Bagaimana dengan Teori “Beton Geopolimer” Piramida?

Ada teori yang dikembangkan oleh sejumlah ilmuwan material, terutama Joseph Davidovits, yang menyatakan bahwa sebagian batu pada piramida mungkin merupakan material buatan yang dicetak seperti geopolimer.

Teori tersebut menarik karena menawarkan penjelasan alternatif mengenai sebagian aspek konstruksi piramida. Namun, teori ini bukan konsensus arkeologi modern.

Mayoritas ahli arkeologi dan geologi tetap memahami sebagian besar batu penyusun Piramida Giza sebagai batu alam yang ditambang dan dipindahkan oleh masyarakat Mesir kuno. Beberapa alasan yang sering dikemukakan antara lain adanya bukti tambang batu kuno, karakter geologis batu kapur, jejak pengerjaan batu, serta bukti arkeologis mengenai sistem transportasi dan pembangunan.

Karena itu, artikel mengenai kisah Firaun dan Haman sebaiknya tidak menyatakan bahwa “sains modern telah membuktikan piramida dibuat dari beton geopolimer”. Pernyataan tersebut terlalu jauh dibandingkan status bukti ilmiahnya saat ini.

Terlepas dari perdebatan mengenai material bangunan, pesan utama kisah ini bukanlah sekadar teknologi konstruksi.

Firaun memiliki kekuasaan, sumber daya, tenaga kerja, dan kemampuan untuk membangun proyek monumental. Namun, semua kemampuan tersebut tidak membuatnya mampu menandingi kekuasaan Allah.

Di sinilah kisah Haman dan Firaun memiliki pesan yang kuat untuk manusia sepanjang zaman.


Mengapa Kisah Ini Diturunkan?

Surat Al-Qashash termasuk surat Makkiyah. Kisah Nabi Musa dalam surat ini menjadi bagian dari rangkaian penghiburan dan peringatan kepada Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin yang ketika itu menghadapi tekanan dari kaum musyrik Quraisy.

Kisah Firaun menjadi cermin bahwa kekuasaan yang tampak sangat besar sekalipun memiliki batas.

Firaun pernah menjadi penguasa yang ditakuti. Ia memiliki pasukan, harta, bangunan, dan pengaruh. Namun semua itu tidak mampu menyelamatkannya ketika ketetapan Allah datang.

Kekuatan manusia tidak pernah lebih besar daripada kekuasaan Allah.


Pelajaran dari Kisah Menara Firaun

Kisah Haman dan menara Firaun memberikan beberapa pelajaran penting.

1. Kesombongan dapat membutakan manusia

Firaun bukan kekurangan bukti. Ia justru berhadapan dengan tanda-tanda dan mukjizat Nabi Musa. Namun, kesombongan membuatnya menolak kebenaran.

2. Teknologi tidak selalu membawa manusia kepada kebaikan

Bangunan tinggi dan teknologi konstruksi pada dasarnya bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi yang menjadi persoalan adalah untuk apa kemampuan tersebut digunakan.

Teknologi dapat menjadi sarana kemaslahatan, tetapi juga dapat digunakan sebagai alat propaganda dan kesombongan.

3. Kekuasaan membutuhkan tanggung jawab

Haman berada dalam struktur kekuasaan Firaun dan menjalankan perintah penguasa. Kisah ini mengingatkan bahwa orang-orang yang berada di sekitar penguasa juga memiliki tanggung jawab moral terhadap keputusan yang mereka bantu jalankan.

4. Bangunan megah tidak menjamin keselamatan

Sejarah manusia dipenuhi berbagai peradaban yang membangun monumen luar biasa. Namun, sebesar apa pun bangunan yang dibuat, semuanya tetap berada di bawah kehendak Allah.

5. Kebenaran tidak ditentukan oleh propaganda

Firaun berusaha membentuk opini rakyat bahwa Musa adalah pendusta. Ini menunjukkan bagaimana penguasa dapat menggunakan retorika dan simbol-simbol kekuasaan untuk memengaruhi masyarakat.

Namun, propaganda tidak dapat mengubah kebenaran menjadi kebatilan.


Penutup

Kisah Haman dan menara Firaun merupakan salah satu bagian menarik dalam kisah Nabi Musa a.s. yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Perintah Firaun kepada Haman untuk membakar tanah liat dan membangun sebuah bangunan tinggi menggambarkan ambisi seorang penguasa yang ingin mempertahankan kekuasaannya sekaligus mengejek dakwah tauhid Nabi Musa.

Jika dikaji dari sisi sejarah, kisah ini juga membuka pembahasan menarik mengenai teknologi bangunan Mesir kuno, penggunaan bata lumpur, arsitektur monumental, serta perkembangan konstruksi pada berbagai periode Mesir.

Namun, penting untuk tidak mencampuradukkan antara ayat Al-Qur’an, penafsiran ulama, riwayat tafsir, dan teori arkeologi modern. Tidak semua rincian memiliki tingkat kepastian yang sama.

Yang paling kuat dari kisah ini justru bukan pertanyaan tentang seberapa tinggi menara Firaun dibangun, berapa jumlah pekerjanya, atau apakah bangunan itu dapat diidentifikasi dengan piramida tertentu. Pesan utamanya jauh lebih dalam:

Manusia boleh membangun setinggi apa pun, menguasai teknologi secanggih apa pun, dan memiliki kekuasaan sebesar apa pun. Tetapi ketika kekuatan tersebut digunakan untuk kesombongan dan menentang kebenaran, semua itu tidak akan mampu menyelamatkannya dari ketetapan Allah.

Kisah Firaun mengajarkan bahwa yang membuat manusia mulia bukanlah seberapa tinggi bangunan yang berhasil didirikannya, melainkan seberapa rendah hatinya di hadapan Sang Pencipta.