Haman, Menara Firaun, dan Piramida Mesir
Nama Haman disebut
beberapa kali dalam Al-Qur’an sebagai salah satu tokoh penting di lingkungan
kekuasaan Firaun. Ia digambarkan berada di jajaran orang-orang yang menentang
dakwah Nabi Musa a.s. Salah satu peristiwa paling menarik yang berkaitan dengan
Haman adalah ketika Firaun memerintahkannya untuk membakar tanah liat dan
membangun sebuah bangunan tinggi.
Kisah tersebut
terdapat antara lain dalam Surat Al-Qashash ayat 38.
Dan Firaun berkata, “Wahai para pembesar, aku tidak mengetahui ada tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah tanah liat untukku, wahai Haman, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi agar aku dapat melihat Tuhannya Musa. Dan sesungguhnya aku yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (QS. Al-Qashash: 38)
Pada ayat
tersebut memperlihatkan tiga hal penting, yaitu:
Pertama,
Firaun mengklaim otoritas ketuhanan di hadapan rakyatnya. Kedua, ia
memerintahkan Haman untuk menyiapkan material bangunan melalui pembakaran tanah
liat. Ketiga, pembangunan tersebut dikaitkan dengan keinginannya untuk
“melihat” Tuhan yang disembah Nabi Musa a.s.
Dalam sejumlah kitab tafsir klasik, Haman
digambarkan sebagai pejabat tinggi atau pembantu utama Firaun. Ibnu Katsir,
menempatkannya sebagai tokoh penting dalam pemerintahan Firaun. Namun,
Al-Qur’an tidak memberikan rincian lengkap mengenai jabatan administratif
Haman, sehingga penyebutan Haman sebagai “menteri”, “wazir”, “patih”, atau
pengawas pembangunan perlu dipahami sebagai keterangan dari tafsir dan riwayat,
bukan sebagai rincian yang disebutkan secara eksplisit oleh ayat Al-Qur’an.
Mengapa Firaun Memerintahkan Pembangunan Menara?
Jika diperhatikan secara tekstual,
perintah tersebut muncul dalam konteks perseteruan Firaun dengan Nabi Musa a.s.
Firaun tidak hanya menolak dakwah Musa,
tetapi juga berusaha membentuk persepsi rakyat bahwa Musa adalah seorang
pendusta.
Dalam Surat Ghafir ayat 36–37, Firaun
berkata kepada Haman:
“Wahai
Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke
pintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhannya Musa.
Tetapi aku tetap memandangnya seorang pendusta.”
Pernyataan ini menunjukkan bentuk
sarkasme Firaun yang seolah-olah ingin melakukan pembuktian terhadap
klaim Nabi Musa, tetapi pada saat yang sama sudah menyatakan bahwa Musa adalah
pendusta. Tindakan Firaun itu merupakan bagian dari sikap sombong dan
penolakannya terhadap kebenaran.
Makna “Membakar Tanah Liat”
Salah satu bagian paling menarik dari
Surat Al-Qashash ayat 38 adalah perintah untuk membakar tanah liat. Para
mufasir menjelaskannya adanya kaitan pembuatan batu bata yang dibakar sebagai
bahan bangunan.
Penggunaan tanah liat sebagai bahan
bangunan bukan sesuatu yang asing bagi peradaban Mesir kuno. Bata lumpur (mudbrick)
telah digunakan secara luas dalam berbagai konstruksi di Mesir kuno, terutama
karena bahan bakunya mudah diperoleh dari endapan Sungai Nil.
Perlu dibedakan antara bata lumpur dan
bata bakar yang digunakan pada peradaban Mesir kuno dengan klaim bahwa ayat
tersebut secara langsung membuktikan teknologi “beton geopolimer” yang masih menjadi perdebatan ilmiah dan tidak dapat dianggap sebagai konsensus arkeologi.
Menara Firaun: Piramida atau Bangunan Tinggi?
Salah satu kesalahpahaman yang sering
muncul adalah mengidentikkan bangunan yang diperintahkan Firaun dengan Piramida
Giza.
Secara tekstual, Al-Qur’an menyebut kata
ṣarḥan yang menunjuk pada sebuah bangunan tinggi atau
struktur yang menjulang. Karena itu, tidak ada dasar tekstual yang kuat untuk
menyatakan bahwa bangunan tersebut pasti merupakan piramida.
Piramida Mesir pada umumnya memiliki
fungsi yang berkaitan dengan kompleks pemakaman kerajaan. Sementara itu,
bangunan dalam kisah Firaun diperintahkan dengan tujuan yang berbeda. Firaun ingin mencapai tempat yang tinggi dan
mengklaim hendak melihat Tuhan Nabi Musa.
Dengan demikian, lebih tepat
menyebutnya sebagai “bangunan tinggi” atau “menara” daripada langsung
menyamakannya dengan Piramida Giza.
Apakah Menara Itu Benar-Benar Dibangun?
Al-Qur’an menyatakan bahwa Firaun
memerintahkan pembangunan tersebut. Beberapa kitab tafsir kemudian memberikan
kisah yang lebih terperinci mengenai proses dan akhir bangunan itu.
Dalam sejumlah riwayat tafsir yang dinisbatkan
kepada tradisi tafsir klasik, disebutkan kisah bahwa pembangunan tersebut
melibatkan tenaga kerja dalam jumlah sangat besar. Ada pula riwayat yang
menceritakan Firaun naik ke puncak bangunan dan melepaskan anak panah ke arah
langit.
Dalam riwayat-riwayat tersebut, anak
panah itu kemudian dikisahkan kembali dalam keadaan berlumuran darah dan Firaun
memanfaatkannya untuk memengaruhi rakyatnya.
Kisah semacam ini perlu dibedakan dari
informasi yang secara eksplisit terdapat dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut
perintah pembangunan dan kesombongan Firaun, tetapi rincian seperti jumlah
pekerja, anak panah, serta cara penghancuran menara berasal dari riwayat tafsir
dan tidak semuanya memiliki tingkat kepastian yang sama.
Kisah tentang kehancuran menara juga
ditemukan dalam sebagian riwayat tafsir. Ada riwayat yang menyebut bahwa
Malaikat Jibril menghancurkan bangunan tersebut hingga runtuh menjadi tiga
bagian.
Namun, penting untuk memahami status
riwayat tersebut. Al-Qur’an memang menegaskan bahwa Allah menghancurkan apa
yang dibangun oleh Firaun dan kaumnya.
Dan
Kami hancurkan apa yang telah dibuat oleh Firaun dan kaumnya dan apa yang telah
mereka bangun. (QS. Al-A’raf: 137)
Ayat tersebut tidak secara eksplisit
menyebut nama menara maupun menjelaskan bahwa Jibril menghancurkannya menjadi
tiga bagian. Karena itu, rincian tersebut sebaiknya ditulis sebagai riwayat
dalam sebagian tafsir, bukan sebagai fakta Al-Qur’an yang bersifat pasti.
Hubungan dengan Piramida dan Arsitektur Mesir Kuno
Mesir kuno memang memiliki sejarah
panjang dalam penggunaan berbagai jenis material konstruksi.
Piramida Giza yang terkenal dibangun pada
masa Kerajaan Lama dan terutama tersusun dari batu alam. Sementara itu, pada
periode-periode berikutnya, bata lumpur menjadi material yang sangat penting
dalam berbagai bangunan Mesir.
Beberapa piramida dari periode Kerajaan
Tengah bahkan memiliki inti yang menggunakan bata lumpur, kemudian pada
awalnya dilapisi material lain sehingga tampak lebih kokoh dan monumental.
Contohnya adalah kompleks piramida Amenemhat
III di Hawara dan Senusret II di el-Lahun.
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat
Mesir kuno mengenal berbagai teknologi konstruksi, mulai dari pemotongan batu
alam hingga penggunaan bata lumpur.
Namun, fakta tersebut tidak otomatis membuktikan
bahwa bangunan Firaun dalam kisah Nabi Musa adalah salah satu piramida yang
masih dikenal hingga sekarang.
Bagaimana dengan Teori “Beton Geopolimer” Piramida?
Ada teori yang dikembangkan oleh sejumlah
ilmuwan material, terutama Joseph Davidovits, yang menyatakan bahwa
sebagian batu pada piramida mungkin merupakan material buatan yang dicetak
seperti geopolimer.
Teori tersebut menarik karena menawarkan
penjelasan alternatif mengenai sebagian aspek konstruksi piramida. Namun, teori
ini bukan konsensus arkeologi modern.
Mayoritas ahli arkeologi dan geologi
tetap memahami sebagian besar batu penyusun Piramida Giza sebagai batu alam
yang ditambang dan dipindahkan oleh masyarakat Mesir kuno. Beberapa alasan yang
sering dikemukakan antara lain adanya bukti tambang batu kuno, karakter
geologis batu kapur, jejak pengerjaan batu, serta bukti arkeologis mengenai
sistem transportasi dan pembangunan.
Karena itu, artikel mengenai kisah Firaun
dan Haman sebaiknya tidak menyatakan bahwa “sains modern telah membuktikan
piramida dibuat dari beton geopolimer”. Pernyataan tersebut terlalu jauh
dibandingkan status bukti ilmiahnya saat ini.
Terlepas dari perdebatan mengenai
material bangunan, pesan utama kisah ini bukanlah sekadar teknologi konstruksi.
Firaun memiliki kekuasaan, sumber daya,
tenaga kerja, dan kemampuan untuk membangun proyek monumental. Namun, semua
kemampuan tersebut tidak membuatnya mampu menandingi kekuasaan Allah.
Di sinilah kisah Haman dan Firaun
memiliki pesan yang kuat untuk manusia sepanjang zaman.
Mengapa Kisah Ini Diturunkan?
Surat Al-Qashash termasuk surat Makkiyah.
Kisah Nabi Musa dalam surat ini menjadi bagian dari rangkaian penghiburan dan
peringatan kepada Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin yang ketika itu
menghadapi tekanan dari kaum musyrik Quraisy.
Kisah Firaun menjadi cermin bahwa
kekuasaan yang tampak sangat besar sekalipun memiliki batas.
Firaun pernah menjadi penguasa yang
ditakuti. Ia memiliki pasukan, harta, bangunan, dan pengaruh. Namun semua itu
tidak mampu menyelamatkannya ketika ketetapan Allah datang.
Kekuatan manusia tidak pernah lebih besar
daripada kekuasaan Allah.
Pelajaran dari Kisah Menara Firaun
Kisah Haman dan menara Firaun memberikan
beberapa pelajaran penting.
1. Kesombongan dapat membutakan manusia
Firaun bukan kekurangan bukti. Ia justru
berhadapan dengan tanda-tanda dan mukjizat Nabi Musa. Namun, kesombongan
membuatnya menolak kebenaran.
2. Teknologi tidak selalu membawa manusia kepada kebaikan
Bangunan tinggi dan teknologi konstruksi
pada dasarnya bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi yang menjadi persoalan adalah
untuk apa kemampuan tersebut digunakan.
Teknologi dapat menjadi sarana
kemaslahatan, tetapi juga dapat digunakan sebagai alat propaganda dan
kesombongan.
3. Kekuasaan membutuhkan tanggung jawab
Haman berada dalam struktur kekuasaan
Firaun dan menjalankan perintah penguasa. Kisah ini mengingatkan bahwa
orang-orang yang berada di sekitar penguasa juga memiliki tanggung jawab moral
terhadap keputusan yang mereka bantu jalankan.
4. Bangunan megah tidak menjamin keselamatan
Sejarah manusia dipenuhi berbagai
peradaban yang membangun monumen luar biasa. Namun, sebesar apa pun bangunan
yang dibuat, semuanya tetap berada di bawah kehendak Allah.
5. Kebenaran tidak ditentukan oleh propaganda
Firaun berusaha membentuk opini rakyat
bahwa Musa adalah pendusta. Ini menunjukkan bagaimana penguasa dapat menggunakan
retorika dan simbol-simbol kekuasaan untuk memengaruhi masyarakat.
Namun, propaganda tidak dapat mengubah
kebenaran menjadi kebatilan.
Penutup
Kisah Haman dan menara Firaun merupakan
salah satu bagian menarik dalam kisah Nabi Musa a.s. yang terdapat dalam
Al-Qur’an.
Perintah Firaun kepada Haman untuk
membakar tanah liat dan membangun sebuah bangunan tinggi menggambarkan ambisi
seorang penguasa yang ingin mempertahankan kekuasaannya sekaligus mengejek
dakwah tauhid Nabi Musa.
Jika dikaji dari sisi sejarah, kisah ini
juga membuka pembahasan menarik mengenai teknologi bangunan Mesir kuno,
penggunaan bata lumpur, arsitektur monumental, serta perkembangan konstruksi
pada berbagai periode Mesir.
Namun, penting untuk tidak
mencampuradukkan antara ayat Al-Qur’an, penafsiran ulama, riwayat tafsir,
dan teori arkeologi modern. Tidak semua rincian memiliki tingkat kepastian
yang sama.
Yang paling kuat dari kisah ini justru
bukan pertanyaan tentang seberapa tinggi menara Firaun dibangun, berapa jumlah
pekerjanya, atau apakah bangunan itu dapat diidentifikasi dengan piramida
tertentu. Pesan utamanya jauh lebih dalam:
Manusia boleh membangun setinggi apa pun,
menguasai teknologi secanggih apa pun, dan memiliki kekuasaan sebesar apa pun.
Tetapi ketika kekuatan tersebut digunakan untuk kesombongan dan menentang
kebenaran, semua itu tidak akan mampu menyelamatkannya dari ketetapan Allah.
Kisah Firaun mengajarkan bahwa yang
membuat manusia mulia bukanlah seberapa tinggi bangunan yang berhasil
didirikannya, melainkan seberapa rendah hatinya di hadapan Sang Pencipta.