Kisah Sapi Betina Bani Israil
Kisah sapi betina Bani Israil dikenal
luas dalam khazanah tafsir dan cerita-cerita yang berkembang di kalangan umat
terdahulu. Kisah ini berkaitan dengan peristiwa yang disebutkan dalam Al-Qur'an
pada Surah Al-Baqarah ayat 67–73, ketika Nabi Musa menyampaikan perintah Allah
kepada Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi betina.
Namun, di samping kisah yang disebutkan
secara langsung dalam Al-Qur'an, terdapat pula riwayat yang menceritakan
asal-usul sapi tersebut. Riwayat itu berkisah tentang seorang pemuda Bani
Israil yang sangat berbakti kepada ibunya.
Kisah berikut merupakan riwayat
Israiliyat yang dinukil dalam sejumlah literatur tafsir dan kisah. Karena
detailnya tidak disebutkan dalam Al-Qur'an, kisah ini tidak semestinya
diperlakukan seperti berita yang dipastikan kebenarannya. Ia dapat dibaca
sebagai sebuah riwayat yang dinukil oleh para ulama, sementara kebenaran
detail-detailnya dikembalikan kepada Allah.
Amanah Seorang Ayah
Dalam riwayat tersebut, dikisahkan
seorang laki-laki saleh dari Bani Israil memiliki seekor anak sapi betina.
Ketika ajalnya telah dekat, ia membawa
anak sapi itu ke sebuah hutan. Di tempat tersebut, ia berdoa kepada Allah agar
sapi itu dijaga untuk anak laki-lakinya hingga anak tersebut dewasa.
Ia kemudian meninggal dunia.
Anak sapi itu hidup sendiri di tengah
hutan. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga anak sapi tersebut
tumbuh menjadi seekor sapi betina yang dewasa.
Konon, sapi itu memiliki sifat yang tidak
biasa. Setiap kali ada seseorang yang melihat atau mendekatinya, ia akan
berlari masuk ke dalam hutan yang lebat.
Sementara itu, anak laki-laki yang
ditinggalkan ayahnya terus tumbuh hingga menjadi seorang pemuda.
Pemuda yang Sangat Berbakti
Dalam riwayat tersebut, pemuda itu
digambarkan sebagai seorang anak yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya.
Ia membagi waktu malamnya menjadi tiga
bagian. Sepertiganya digunakan untuk beribadah, sepertiga untuk tidur, dan
sepertiga lainnya untuk duduk menemani ibunya.
Pada pagi hari, ia pergi mencari kayu
bakar di hutan. Kayu tersebut kemudian dibawanya ke pasar untuk dijual.
Hasil penjualannya pun dibagi menjadi
tiga bagian. Sebagian disedekahkan, sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya, dan sebagian lainnya diberikan kepada ibunya.
Kehidupan mereka sederhana.
Tidak banyak harta yang dimiliki. Namun,
pemuda itu menjalani kehidupannya dengan penuh kesungguhan dan tetap berusaha
berbakti kepada ibunya.
Sapi yang Tersembunyi di Hutan
Suatu hari, sang ibu memberitahukan
kepada anaknya bahwa ayahnya dahulu meninggalkan seekor sapi untuknya.
“Pergilah ke hutan,” demikian pesan sang
ibu dalam riwayat tersebut. “Berdoalah kepada Tuhan Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan
Ya'qub agar Dia mengembalikan sapi itu kepadamu.”
Sang ibu kemudian menjelaskan ciri-ciri
sapi tersebut.
Sapi itu digambarkan memiliki warna kulit
yang sangat indah, hingga ketika seseorang melihatnya, seakan-akan cahaya
matahari memancar dari tubuhnya.
Pemuda itu kemudian berangkat ke hutan.
Setelah beberapa lama mencari, ia melihat
seekor sapi yang sesuai dengan ciri-ciri yang diberikan ibunya.
Pemuda itu lalu memanggilnya dengan menyebut
nama Allah:
“Wahai sapi betina, aku memanggilmu atas
nama Tuhan Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan Ya'qub. Datanglah kepadaku.”
Dalam riwayat tersebut, atas izin Allah,
sapi itu datang menghampirinya.
Pemuda itu kemudian membawa sapi tersebut
pulang.
Ketika Sapi Itu Hendak Dijual
Sesampainya di rumah, sang ibu melihat
sapi yang dibawa anaknya.
Mereka memang hidup dalam keadaan
sederhana. Sang ibu kemudian berkata bahwa pekerjaan anaknya mencari kayu bakar
sangat berat.
Siang hari bekerja di hutan, sementara
malam hari digunakan untuk beribadah dan menemani ibunya.
Karena itu, sang ibu menyuruhnya menjual
sapi tersebut.
“Berapa harga yang harus kita minta,
Ibu?” tanya pemuda itu.
“Tiga dinar,” jawab ibunya. “Tetapi
jangan engkau menjualnya sebelum mendapatkan persetujuanku.”
Pemuda itu pun menerima pesan tersebut.
Ia membawa sapi itu ke pasar untuk
dijual.
Tidak disangka, di pasar ia bertemu
dengan seorang laki-laki yang kemudian menanyakan harga sapi tersebut.
“Berapa harga sapi ini?” tanyanya.
“Tiga dinar,” jawab pemuda itu. “Tetapi
aku harus meminta persetujuan ibuku terlebih dahulu.”
Laki-laki itu kemudian memberikan tawaran
yang lebih tinggi.
“Aku akan membayarmu enam dinar. Engkau
tidak perlu meminta persetujuan ibumu.”
Namun, pemuda itu tidak tergoda.
“Walaupun engkau memberiku emas seberat
sapi ini, aku tidak akan menjualnya tanpa persetujuan ibuku.”
Ia kemudian pulang dan menceritakan
kejadian tersebut kepada ibunya.
Harga yang Semakin Tinggi
Setelah mendengar cerita anaknya, sang
ibu mengizinkan sapi itu dijual dengan harga enam dinar.
Pemuda itu kembali ke pasar.
Laki-laki yang sebelumnya menawar sapi
tersebut kembali datang.
“Apakah engkau sudah meminta izin kepada
ibumu?”
“Sudah,” jawab pemuda itu. “Ibuku
mengizinkan sapi ini dijual dengan harga enam dinar.”
Namun, laki-laki itu kembali memberikan
tawaran yang lebih tinggi.
“Aku akan membayarmu dua belas dinar.
Tetapi engkau tidak perlu meminta persetujuan ibumu.”
Pemuda itu tetap tidak mengambil
keputusan sendiri.
Ia kembali pulang dan menceritakan
tawaran tersebut kepada ibunya.
Sang ibu kemudian memahami bahwa
laki-laki yang datang menawar sapi itu bukanlah orang biasa.
Dalam riwayat tersebut, sang ibu
mengatakan kepada anaknya bahwa orang itu adalah malaikat yang sedang menguji
ketaatannya.
Jika laki-laki itu datang kembali, sang
ibu meminta anaknya bertanya apakah sapi tersebut memang diperintahkan untuk
dijual atau tidak.
Ujian Terhadap Bakti Seorang Anak
Pemuda itu kembali ke pasar.
Ketika bertemu lagi dengan laki-laki
tersebut, ia menyampaikan pesan ibunya:
“Apakah kami diperintahkan untuk menjual
sapi ini atau tidak?”
Dalam riwayat tersebut, laki-laki itu
kemudian menjelaskan bahwa sapi tersebut sebaiknya dipelihara.
Sapi itulah yang kelak akan dicari oleh
Bani Israil ketika mereka diperintahkan oleh Nabi Musa untuk menyembelih seekor
sapi.
Disebutkan pula bahwa sapi tersebut akan
dibeli dengan harga yang sangat tinggi, yaitu emas yang setara dengan berat
kulitnya.
Pemuda itu kemudian kembali kepada
ibunya.
Mereka tidak lagi menjual sapi tersebut
dengan harga biasa.
Sapi itu dipelihara hingga tiba saatnya
Bani Israil membutuhkannya.
Ketika Bani Israil Mencari Sapi
Di sinilah riwayat tersebut kemudian
bertemu dengan kisah yang disebutkan dalam Al-Qur'an.
Al-Qur'an mengisahkan bahwa Nabi Musa
menyampaikan kepada Bani Israil perintah Allah untuk menyembelih seekor sapi
betina.
Namun, mereka tidak langsung melaksanakan
perintah tersebut.
Mereka bertanya tentang sapi yang
dimaksud.
Mereka bertanya tentang usianya.
Kemudian mereka bertanya tentang
warnanya.
Setelah itu mereka kembali bertanya
tentang sifat dan ciri-cirinya.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 67–71,
Al-Qur'an menjelaskan bahwa sapi tersebut tidak tua dan tidak terlalu muda,
berwarna kuning yang cerah, tidak pernah digunakan untuk membajak tanah maupun
mengairi tanaman, dalam keadaan sehat, serta tidak memiliki belang.
Setelah kriteria tersebut semakin jelas,
barulah mereka menemukan sapi yang sesuai.
Dalam riwayat yang dikisahkan sebelumnya,
sapi itulah yang kemudian dikaitkan dengan sapi milik pemuda yang sangat
berbakti kepada ibunya.
Dengan demikian, perjalanan seekor sapi
yang dahulu ditinggalkan di hutan oleh seorang ayah akhirnya bertemu dengan
sebuah peristiwa besar yang terjadi di tengah Bani Israil.
Kisah yang Perlu Dibaca dengan Bijak
Kisah tentang pemuda, ibunya, sapi yang
hidup di hutan, dan malaikat yang mengujinya merupakan kisah yang berbeda
kedudukannya dengan kisah yang secara langsung disebutkan dalam Al-Qur'an.
Al-Qur'an memang menyebutkan peristiwa
sapi betina dalam Surah Al-Baqarah ayat 67–73. Namun, rincian mengenai asal-usul
sapi tersebut dan kehidupan pemuda pemiliknya tidak disebutkan dalam ayat-ayat
tersebut.
Karena itu, kisah tersebut lebih tepat
ditempatkan sebagai riwayat Israiliyat.
Membaca kisah Israiliyat membutuhkan
sikap yang proporsional. Kita tidak perlu menjadikannya sebagai bagian dari
ajaran agama yang pasti, tetapi juga tidak harus mengabaikannya apabila ia
dinukil dalam karya-karya tafsir dan kisah para ulama.
Yang terpenting adalah tidak memastikan
sesuatu yang memang tidak dipastikan oleh Al-Qur'an dan hadis sahih.
Ketika Ketaatan Menjadi Jalan Keberkahan
Terlepas dari status detail riwayat
tersebut, kisah ini menghadirkan gambaran yang kuat tentang seorang anak yang
berusaha menjaga bakti kepada ibunya.
Ia tidak terburu-buru mengambil
keuntungan.
Ketika mendapatkan tawaran yang lebih
tinggi, ia tidak langsung tergoda.
Ketika harga sapi meningkat, ia tetap
kembali meminta persetujuan ibunya.
Bahkan ketika keuntungan yang ditawarkan
semakin besar, ia tetap menempatkan amanah dan persetujuan ibunya di atas
kepentingan dirinya sendiri.
Di situlah kisah ini menjadi menarik
untuk direnungkan.
Kekayaan bukan hanya tentang berapa
banyak yang dapat dikumpulkan seseorang, tetapi juga tentang bagaimana
seseorang memperolehnya.
Keuntungan yang besar tidak selalu menjadi
pilihan terbaik apabila untuk mendapatkannya seseorang harus mengabaikan
amanah.
Pemuda dalam kisah tersebut justru
digambarkan sebagai orang yang tidak terburu-buru mengejar keuntungan. Ia
memilih untuk tetap memegang pesan ibunya.
Dan melalui kisah inilah muncul gambaran
tentang sebuah keberkahan yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Sebuah Kisah, Sebuah Renungan
Kisah sapi betina Bani Israil bukan hanya
cerita tentang seekor sapi yang kemudian dicari oleh sebuah kaum.
Ia juga merupakan kisah tentang seorang
ayah yang meninggalkan amanah, seorang anak yang menjaga amanah itu, dan
seorang ibu yang menjadi tempat anaknya meminta keputusan.
Namun, karena kisah tersebut merupakan
riwayat Israiliyat, kita perlu menempatkannya secara tepat.
Yang pasti adalah apa yang telah Allah
kabarkan dalam Al-Qur'an.
Sedangkan kisah tentang pemuda dan sapi
tersebut adalah riwayat yang dinukil sebagai pelengkap cerita, sehingga
detail-detailnya tidak perlu diyakini sebagai sebuah kepastian yang setara
dengan wahyu.
Pada akhirnya, ada satu hal yang tetap
menarik untuk direnungkan.
Bisa jadi keberkahan hidup tidak selalu
datang dari sesuatu yang besar yang kita kejar, tetapi dari amanah kecil yang
kita jaga dengan sungguh-sungguh.
Pemuda itu hanya menjalankan apa yang
dipercayakan kepadanya.
Ia menjaga sapi yang ditinggalkan
ayahnya.
Ia menjaga pesan ibunya.
Dan ia tidak menjual amanah hanya karena
mendapatkan tawaran yang lebih menguntungkan.
Kisah tersebut kemudian berakhir dengan
sapi itu menjadi bagian dari peristiwa besar yang dialami Bani Israil.
Baca juga:
Pelajaran Besar dari Kisah Sapi Betina Bani Israil