Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

21 September 2026

Juraij Si Ahli Ibadah

 

Pernahkah kita berada dalam posisi dilematis? Saat sedang berfokus pada sebuah ibadah atau pekerjaan yang baik, tiba-tiba orang tua memanggil dan membutuhkan perhatian kita pada saat yang sama?

Kisah Juraij, seorang ahli ibadah yang dikenal dalam hadis Nabi, mengajak kita merenungkan keseimbangan antara kesungguhan beribadah kepada Allah dan kewajiban berbakti kepada orang tua. Kisah ini juga mengajarkan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya, meskipun seseorang sempat menjadi sasaran fitnah dan tuduhan.

Ketika Dua Kebaikan Datang Bersamaan

Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, diceritakan tentang Juraij, seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Ia mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Allah dan tinggal di sebuah tempat ibadah.

Suatu hari, ketika Juraij sedang melaksanakan shalat, ibunya datang memanggilnya.

“Wahai Juraij, aku ibumu. Bicaralah denganku.”

Juraij pun berada dalam sebuah dilema. Haruskah ia menghentikan shalatnya untuk menjawab panggilan ibunya, ataukah ia melanjutkan shalatnya?

Juraij memilih untuk meneruskan shalatnya. Ibunya kemudian pergi. Pada kesempatan berikutnya, sang ibu kembali memanggilnya ketika ia sedang shalat. Namun, Juraij kembali memilih menyelesaikan shalatnya.

Untuk ketiga kalinya, sang ibu datang dan memanggilnya. Lagi-lagi, Juraij tidak menjawab hingga ia menyelesaikan shalatnya.

Merasa kecewa karena panggilannya tidak dijawab, sang ibu kemudian berdoa agar Juraij tidak meninggal sebelum menghadapi suatu fitnah yang berkaitan dengan perempuan.

Di sinilah kisah Juraij memasuki bagian yang penuh ujian.

Ketika Fitnah Datang Menghampiri

Tak lama kemudian, ujian benar-benar datang.

Dikisahkan bahwa seorang perempuan dari kalangan Bani Israil melakukan perbuatan zina dengan seorang penggembala hingga hamil. Ketika anak itu lahir, perempuan tersebut menuduh Juraij sebagai ayah dari bayi tersebut.

Tuduhan itu segera menyebar.

Masyarakat yang termakan kabar tersebut mendatangi tempat ibadah Juraij. Dalam kemarahan, mereka merobohkan tempat ibadahnya dan memperlakukan Juraij dengan kasar. Ia dituduh melakukan perbuatan keji, sementara dirinya tidak diberi kesempatan untuk membela diri.

Bayangkan berada dalam posisi seperti itu: nama baik hancur, tempat tinggal dirusak, dan masyarakat telah lebih dahulu mempercayai sebuah tuduhan.

Namun, Juraij tidak membalas fitnah tersebut dengan amarah.

Ketika Kebenaran Berbicara

Juraij kemudian meminta agar bayi tersebut dihadirkan. Ia mendekati bayi itu dan bertanya tentang siapa ayahnya.

Atas izin Allah, bayi tersebut berbicara dan menyebut bahwa ayahnya adalah sang penggembala.

Kebenaran pun akhirnya terungkap.

Masyarakat yang sebelumnya menuduh Juraij menyadari kesalahan mereka. Mereka menyesal dan menawarkan untuk membangun kembali tempat ibadah Juraij dengan bahan-bahan yang berharga.

Namun, Juraij tidak meminta kemewahan.

Ia hanya meminta agar tempat ibadahnya dibangun kembali sebagaimana sebelumnya, menggunakan tanah seperti semula.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa yang ia cari bukanlah kemegahan dunia, melainkan kembali kepada kehidupan ibadah yang sederhana.

Pelajaran dari Kisah Juraij

Kisah Juraij bukan hanya kisah tentang sebuah mukjizat. Ada sejumlah pelajaran yang relevan dengan kehidupan kita.

1. Ibadah kepada Allah tidak boleh membuat kita meremehkan orang tua

Kisah Juraij mengingatkan bahwa kesungguhan dalam beribadah tetap perlu berjalan bersama penghormatan dan bakti kepada orang tua.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin ada saat ketika kita sedang mengerjakan sesuatu yang kita anggap penting, tetapi orang tua membutuhkan perhatian kita. Karena itu, kita perlu memiliki kebijaksanaan untuk memahami keadaan dan menentukan prioritas dengan tepat.

Kisah ini juga mengajarkan bahwa seseorang yang tekun beribadah tetap perlu memperhatikan hak-hak orang lain, terutama hak orang tua.

2. Jangan terburu-buru menghakimi

Masyarakat dalam kisah Juraij menghukumnya berdasarkan tuduhan sebelum mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

Pelajaran ini sangat relevan di zaman ketika sebuah kabar dapat menyebar dalam hitungan detik. Tidak semua tuduhan adalah fakta, dan tidak setiap kabar yang ramai diperbincangkan layak langsung dipercaya.

Sebelum menilai seseorang, kita perlu memastikan informasi dan mendengarkan keterangan dari pihak-pihak yang berkaitan.

3. Kebenaran tidak selalu langsung terlihat

Juraij mengalami penghinaan dan kehilangan tempat ibadahnya meskipun ia tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan kepadanya.

Kisah ini menunjukkan bahwa seseorang yang berada di pihak yang benar tetap dapat mengalami ujian, kesalahpahaman, bahkan fitnah.

Karena itu, ketika menghadapi tuduhan yang tidak benar, kita perlu berusaha menjelaskan kebenaran dengan cara yang baik dan tetap menjaga keteguhan hati.

4. Jangan menjadikan kemuliaan dunia sebagai tujuan

Ketika masyarakat menawarkan untuk membangun kembali tempat ibadah Juraij dengan sesuatu yang bernilai, ia memilih agar semuanya dikembalikan seperti semula.

Ada ketenangan tertentu ketika seseorang tidak menjadikan harta, pujian, atau pengakuan manusia sebagai ukuran utama kemuliaannya.

Penutup

Kisah Juraij mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah bukan hanya tentang memperbanyak ibadah secara pribadi. Di dalamnya juga terdapat tanggung jawab kepada orang tua, kewajiban menjaga hak sesama, kesabaran ketika menghadapi tuduhan, serta keteguhan untuk tetap berada di jalan yang benar.

Kita mungkin tidak dapat mengendalikan apa yang orang lain katakan tentang kita. Namun, kita dapat berusaha menjaga niat, memperbaiki kesalahan, berhati-hati dalam mengambil keputusan, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Sebab, ketika kebenaran belum terlihat oleh manusia, Allah tetap mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati dan apa yang sebenarnya terjadi.