Rahasia Gunung Api Nusantara: Apa Kata Geologi dan Al-Quran?
Geologi Modern dan Isyarat Al-Qur'an
Beberapa hari terakhir, Indonesia kembali
diingatkan bahwa kita hidup di atas salah satu kawasan paling aktif secara
geologi di dunia.
Sejumlah gunung api mengalami peningkatan
aktivitas dan erupsi dalam waktu yang relatif berdekatan. Ada Gunung Anak
Krakatau, Semeru, Ibu, Sinabung, Ile Lewotolok, hingga Lewotobi Laki-laki di
Nusa Tenggara Timur.
Bagi masyarakat awam, kejadian seperti
ini tentu menimbulkan pertanyaan.
Apakah letusan satu gunung menyebabkan
gunung yang lain ikut meletus?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana
itu.
Para ahli geologi tidak melihat
erupsi-erupsi tersebut sebagai efek domino langsung dari satu sumber magma yang
sama. Setiap gunung api memiliki sistem magmanya sendiri. Namun, gunung-gunung
tersebut berada dalam lingkungan tektonik yang sama-sama sangat aktif.
Indonesia berada di pertemuan beberapa
lempeng bumi. Di bagian barat dan selatan Indonesia, Lempeng Indo-Australia
bergerak dan menunjam ke bawah Lempeng Sunda. Proses yang disebut subduksi
inilah yang menjadi salah satu penyebab utama terbentuknya rangkaian gunung api
di Sumatra, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Sederhananya, bumi di bawah Indonesia
memang sedang terus bergerak. Dan dari pergerakan itulah lahir gunung, gempa,
palung laut, serta berbagai bentuk permukaan bumi yang kita kenal sekarang.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih menarik.
Mengapa bumi memiliki gunung?
Apakah gunung hanya sekadar batuan yang
menjulang tinggi? Ataukah keberadaannya mempunyai peran yang lebih besar?
Ilmu geologi modern memberikan sejumlah
jawaban menarik. Sementara bagi seorang Muslim, semua itu dapat menjadi bahan
perenungan ketika membaca ayat-ayat Al-Qur'an tentang gunung.
Bumi yang Tidak Pernah Benar-Benar Diam
Sebelum membahas gunung, kita perlu
memahami sedikit tentang bumi.
Bumi bukanlah bola batu yang diam. Bagian
terluarnya, yang disebut litosfer, terbagi menjadi beberapa lempeng
besar dan kecil. Lempeng-lempeng ini bergerak sangat perlahan. Kecepatannya
hanya beberapa sentimeter dalam setahun.
Bagi manusia, gerakan beberapa sentimeter
mungkin tidak terasa. Tetapi bayangkan gerakan itu berlangsung selama jutaan
tahun. Sedikit demi sedikit, lempeng dapat bergerak ribuan kilometer.
Di beberapa tempat, dua lempeng saling
menjauh. Di tempat lain, keduanya saling bertabrakan. Ada pula lempeng yang
menyusup ke bawah lempeng lainnya. Proses terakhir inilah yang disebut subduksi.
Ketika lempeng samudra menunjam ke dalam
bumi, material yang dibawanya ikut masuk ke kedalaman. Air dan mineral tertentu
yang berada dalam material tersebut dapat membantu proses pembentukan magma.
Magma kemudian dapat bergerak naik
melalui retakan dan zona lemah di kerak bumi. Jika akhirnya mencapai permukaan,
terjadilah aktivitas vulkanik.
Itulah salah satu alasan mengapa
Indonesia mempunyai begitu banyak gunung api.
Jadi, gunung api Indonesia bukan berdiri
secara acak. Mereka merupakan bagian dari sistem geologi yang sangat besar.
Gunung sebagai "Pasak"
Ada ayat Al-Qur'an yang sejak dahulu
menarik perhatian ketika berbicara tentang gunung.
Allah berfirman:
"Dan
gunung-gunung sebagai pasak." (QS. An-Naba': 6–7)
Kata yang digunakan adalah awtād,
bentuk jamak dari watad, yang berarti pasak.
Al-Qur'an juga menyebut:
"Dan Dia
menancapkan gunung-gunung di bumi agar bumi itu tidak mengguncangkan
kamu..." (QS. An-Nahl: 15)
Apa yang menarik dari ayat tersebut jika
dilihat dari ilmu pengetahuan modern?
Ternyata gunung memang tidak hanya berupa
bagian yang terlihat di permukaan.
Yang Terlihat Hanya Sebagian
Ketika kita melihat sebuah gunung, yang
terlihat hanyalah bagian atasnya. Di bawah permukaan terdapat struktur batuan
yang jauh lebih dalam.
Dalam ilmu geologi dikenal istilah isostasi.
Secara sederhana, isostasi dapat dibayangkan seperti keseimbangan benda yang
"mengapung". Kerak bumi tidak berdiri begitu saja di atas lapisan di
bawahnya. Ada hubungan antara ketebalan, massa, dan keseimbangan kerak bumi.
Pegunungan yang sangat tinggi biasanya
berkaitan dengan kerak yang lebih tebal. Di bawah kawasan pegunungan dapat
terdapat bagian kerak yang lebih dalam, yang sering disebut sebagai akar
pegunungan (mountain roots).
Gambaran sederhananya seperti gunung es.
Yang terlihat di atas air hanyalah sebagian. Sebagian lainnya berada di bawah
permukaan. Tentu saja, gunung bukan gunung es dan kerak bumi tidak benar-benar
mengapung seperti es di air. Perumpamaan tersebut hanya membantu kita
membayangkan bahwa bentuk permukaan bumi tidak dapat dipisahkan dari struktur
di bawahnya.
Namun ada hal penting yang perlu kita
pahami. Akar gunung bukan berarti gunung adalah alat untuk menghentikan
gempa.
Ini sering menjadi kesalahpahaman ketika
ayat tentang gunung dikaitkan secara langsung dengan teori geologi.
Isostasi menjelaskan keseimbangan massa
dan struktur kerak bumi. Ia tidak berarti gunung dapat menghentikan pergerakan
lempeng atau mencegah gempa.
Bumi tetap bergerak. Gempa tetap terjadi.
Gunung juga terus berubah.
Karena itu, hubungan antara ayat
Al-Qur'an dan geologi sebaiknya kita tempatkan sebagai bahan perenungan
tentang keteraturan ciptaan, bukan sebagai klaim bahwa Al-Qur'an sedang
memberikan rumus geologi.
Mengapa Gunung Api Bisa Meletus?
Sekarang kita kembali kepada
gunung-gunung api Indonesia.
Mengapa gunung bisa tiba-tiba mengeluarkan
lava, abu, dan gas? Jawabannya berkaitan dengan magma.
Di dalam bumi terdapat material batuan
yang sangat panas. Dalam kondisi tertentu, sebagian material tersebut dapat
mencair dan membentuk magma. Magma mengandung berbagai mineral serta gas terlarut,
termasuk uap air dan karbon dioksida.
Karena magma memiliki sifat dan kondisi
tekanan yang berbeda dengan batuan di sekitarnya, ia dapat bergerak naik
melalui rekahan atau jalur tertentu di kerak bumi. Jika tekanan dan kondisi di
dalam sistem gunung api sudah memungkinkan, magma dapat mencapai permukaan.
Terjadilah erupsi.
Karena itu, letusan gunung api bukan
sekadar "bumi sedang marah".
Secara ilmiah, erupsi merupakan bagian
dari proses geologi yang sangat kompleks. Ada tekanan, temperatur, komposisi magma,
kandungan gas, bentuk saluran magma, serta kondisi batuan yang semuanya dapat
memengaruhi perilaku sebuah gunung api.
Itulah sebabnya setiap gunung mempunyai
karakter yang berbeda.Ada g unung yang erupsinya relatif kecil dan sering. Ada
pula yang dapat menghasilkan erupsi besar setelah mengalami masa istirahat yang
panjang.
Bukan "Katup Pengaman" Bumi
Sering kita mendengar istilah bahwa
gunung api merupakan katup pengaman bumi. Ungkapan tersebut terdengar
menarik. Namun secara ilmiah, kita harus berhati-hati.
Gunung api memang menjadi salah satu
jalur keluarnya magma dan gas dari sistem bumi. Tetapi tidak tepat jika
dikatakan bahwa gunung api berfungsi seperti katup yang secara sengaja membuang
tekanan agar bumi tidak mengalami gempa besar.
Tidak ada bukti bahwa jika gunung api
tidak meletus, seluruh tekanan bumi akan menumpuk kemudian menghasilkan
"gempa global". Sistem bumi jauh lebih rumit daripada itu.
Gempa dan gunung api memang sama-sama
dapat berkaitan dengan aktivitas tektonik, tetapi hubungan keduanya tidak
sesederhana hubungan antara panci bertekanan dan katupnya.
Bahkan sebuah gempa hanya dapat
memengaruhi sistem gunung api tertentu jika gunung tersebut memang sudah berada
dalam kondisi yang memungkinkan untuk mengalami perubahan.
Jadi, istilah "katup pengaman"
lebih baik dipahami sebagai perumpamaan populer, bukan sebagai
penjelasan ilmiah secara harfiah.
Dari Letusan Menjadi Tanah Subur
Gunung api memang bisa menghancurkan. Abu
dapat menutup rumah. Lava dapat membakar apa pun yang dilewatinya. Awan panas
dan lahar dapat menjadi sangat berbahaya.
Tetapi alam mempunyai proses yang
panjang.
Material vulkanik yang hari ini menjadi
ancaman, dalam perjalanan waktu dapat berubah menjadi bagian dari tanah.
Abu dan batuan vulkanik mengandung
berbagai mineral. Ketika material tersebut mengalami pelapukan selama
bertahun-tahun, bahkan ratusan hingga ribuan tahun, terbentuklah tanah dengan
karakteristik tertentu.
Salah satunya adalah Andosol,
yaitu kelompok tanah yang berkembang dari material vulkanik.
Tanah vulkanik pada banyak tempat
memiliki sifat yang sangat baik untuk pertanian, meskipun bukan berarti semua
tanah vulkanik otomatis subur dan cocok untuk semua jenis tanaman.
Ada proses panjang yang bekerja di sana.
Batuan hancur.
Mineral mengalami perubahan.
Mikroorganisme bekerja.
Bahan organik bertambah.
Kemudian terbentuklah tanah yang dapat
menopang kehidupan.
Dengan kata lain, ada sebuah siklus
menarik: gunung meletus → material vulkanik
tersebar → material mengalami
pelapukan → tanah terbentuk → kehidupan tumbuh.
Sesuatu yang pada awalnya tampak seperti
kehancuran, dalam jangka waktu yang panjang dapat menjadi bagian dari proses
pembentukan kehidupan.
Gunung dan Air
Ada satu lagi peran gunung yang sangat
penting. Air.
Pegunungan dapat memengaruhi pergerakan
udara dan pembentukan hujan. Udara yang membawa uap air ketika bertemu lereng
pegunungan dapat dipaksa naik. Ketika udara naik dan mendingin, uap air dapat
mengembun dan menghasilkan hujan. Proses ini dikenal sebagai efek orografis.
Pegunungan juga menjadi daerah tangkapan
air. Air hujan meresap ke dalam tanah dan batuan, mengisi sistem air bawah
tanah, kemudian muncul kembali sebagai mata air atau mengalir melalui sungai.
Tidak sedikit sungai besar yang sumbernya
berada di kawasan pegunungan.
Artinya, ketika kita berbicara tentang
gunung, sebenarnya kita juga sedang berbicara tentang air yang diminum manusia,
pertanian yang menghidupi masyarakat, dan ekosistem yang menopang kehidupan.
UNESCO bahkan menyebut kawasan pegunungan
sebagai "menara air dunia" karena pegunungan mempunyai peran
sangat besar dalam menyediakan air tawar bagi manusia dan ekosistem.
Sebuah Ayat tentang Gunung dan Air
Al-Qur'an berfirman:
"Dan Kami
jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri kamu minum air yang
tawar." (QS. Al-Mursalat: 27)
Ayat ini tentu bukan buku teks hidrologi.
Namun menarik untuk direnungkan bahwa
gunung dan air memang mempunyai hubungan yang sangat erat dalam sistem alam.
Gunung menerima hujan.
Gunung menyimpan air.
Gunung menjadi sumber sungai.
Dan dari kawasan tinggi itulah air
kemudian mengalir menuju dataran rendah.
Sekali lagi, kita tidak perlu memaksakan
ayat tersebut sebagai "rumus ilmiah".
Cukup kita melihat alam sebagaimana
adanya.
Kemudian kita bertanya: Mengapa semua
sistem tersebut dapat bekerja dalam satu kesatuan yang begitu rumit?
Sains Menjelaskan "Bagaimana", Iman Mengajak Merenungkan
"Mengapa"
Di sinilah hubungan antara ilmu
pengetahuan dan Al-Qur'an menjadi menarik.
Sains berusaha menjelaskan bagaimana
gunung terbentuk. Geologi menjelaskan tentang lempeng tektonik, subduksi,
magma, kerak bumi, erosi, pelapukan, dan proses-proses lain yang berlangsung
sangat lama.
Teknologi kemudian membantu manusia
memahami dan menghadapi proses tersebut.
Gunung api dipantau menggunakan berbagai
instrumen. Aktivitas gempa vulkanik dicatat. Perubahan bentuk tubuh gunung
dapat diamati. Gas vulkanik diukur. Citra satelit dapat digunakan untuk melihat
perubahan permukaan dan sebaran material erupsi.
Semua itu membantu manusia memperkirakan
perubahan aktivitas gunung dan mengurangi risiko bagi masyarakat.
Tetapi sains tidak dapat menjawab seluruh
pertanyaan manusia. Sains dapat menjelaskan bagaimana magma terbentuk. Tetapi
pertanyaan tentang mengapa alam memiliki keteraturan seperti itu membawa
kita ke wilayah yang lebih luas.
Bagi seorang Muslim, keteraturan alam
tersebut dapat menjadi jalan untuk mengenal kebesaran Allah.
Gunung Bukan Hanya Tentang Bencana
Selama ini kita sering melihat gunung
dari satu sisi. Ketika gunung meletus, kita melihat bencana. Tetapi jika kita
melihatnya dalam rentang waktu yang sangat panjang, gunung mempunyai banyak
sisi lain.
Gunung berkaitan dengan:
·
pembentukan bentang alam,
·
aktivitas tektonik,
·
pembentukan tanah,
·
siklus mineral,
·
penyediaan air,
·
kehidupan tumbuhan dan hewan,
·
serta kehidupan manusia.
Itulah sebabnya gunung tidak tepat jika
hanya disebut sebagai "ancaman".
Gunung adalah bagian dari sistem bumi.
Masalahnya bukan bagaimana manusia
menghentikan gunung.
Kita tidak mungkin menghentikan gunung.
Yang dapat kita lakukan adalah memahami
gunung.
Kita belajar mengenali tanda-tanda
aktivitasnya. Kita membangun sistem pemantauan. Kita membuat peta kawasan rawan
bencana. Kita mengatur tata ruang. Dan ketika diperlukan, masyarakat harus
bersedia mengungsi sebelum keadaan menjadi berbahaya.
Di sinilah ilmu pengetahuan dan teknologi
benar-benar memberikan manfaat bagi manusia.
Ketika Gunung Mengajak Kita Berpikir
Rangkaian erupsi gunung api di Indonesia
kembali mengingatkan kita bahwa bumi bukan tempat yang benar-benar diam.
Di bawah kaki kita, lempeng bergerak.
Jauh di dalam bumi, panas terus bekerja.
Magma terbentuk.
Gunung tumbuh.
Gunung terkikis.
Air bergerak dari atmosfer menuju
pegunungan, kemudian mengalir ke sungai dan kembali ke laut.
Semua berlangsung dalam skala waktu yang
sangat panjang.
Jauh lebih panjang daripada umur manusia.
Ketika Al-Qur'an mengajak manusia
memperhatikan gunung, kita tidak harus memaksakan setiap ayat menjadi teori
geologi. Al-Qur'an bukan buku geologi. Namun Al-Qur'an mengajarkan manusia
untuk memperhatikan ciptaan Allah.
Dan semakin dalam manusia mempelajari
alam, semakin banyak pula keteraturan yang ditemukan.
Gunung ternyata bukan sekadar batu yang
menjulang ke langit. Di baliknya terdapat sejarah pergerakan lempeng bumi,
proses pembentukan magma, perubahan kerak, siklus air, pembentukan tanah, dan
kehidupan yang saling berkaitan.
Mungkin di situlah salah satu keindahan
perenungan itu berada.
Sains membantu kita memahami bagaimana
gunung bekerja.
Al-Qur'an mengajak kita menyadari bahwa
di balik keteraturan alam itu ada tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta.
Dan mungkin, semakin banyak rahasia bumi
yang berhasil kita pahami, semakin kita menyadari betapa sedikitnya yang
sebenarnya telah kita ketahui.
Satu gunung saja menyimpan begitu banyak
rahasia.
Lalu, berapa banyak lagi rahasia ciptaan
Allah yang masih menunggu untuk kita pelajari?