Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

08 November 2025

Ketika Tangan dan Kaki Bicara

 

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yā-Sīn: 65)

Antara percaya dan tidak, aku sempat terdiam setelah mendengar kisah yang diceritakan dua orang temanku. Mereka berdua bercerita tentang pengalaman pertobatan mereka — dan yang membuatku tercengang, inti dari cerita mereka ternyata sama persis.

Sebuah kisah yang bagiku sangat luar biasa. Tak hanya karena pengakuan mereka tentang masa lalunya, tapi juga cara Tuhan mengetuk hati seseorang dengan cara yang tak pernah terpikirkan. Cerita itu benar-benar mengguncang batinku—tentang hidup, dosa, dan keadilan Allah yang tak pernah salah alamat.

Siang itu, tahun 2006. Kami sedang beristirahat di sebuah auditorium tua peninggalan Belanda, tempat kami menyiapkan konferensi Asia–Pasifik. Aku dan dua rekan — sebut saja Parjo dan Sardi — duduk santai sambal berbincang ringan.

Terus terang, aku tidak terlalu dekat dengan mereka. Kami berbeda unit kerja, jarang bertemu, dan baru saling mengenal sekitar dua-tiga tahun. Parjo lebih senior, usianya jauh di atasku. Sementara Sardi, sebaya denganku, aku lebih tua terpaut beberapa tahun. Entah mengapa, mereka berdua seperti ingin membuka kisah masa lalu mereka kepadaku. Mungkin karena suasanya yang santai dan tenang, atau mungkin memang sudah waktunya mereka berbagi.

Aku hanya mendengarkan. Dan dari sanalah semuanya dimulai.

Parjo — yang kini sudah almarhum — membuka percakapan dengan suara pelan tapi mantap. Ia bercerita tentang masa mudanya yang kelam. Dulu, ia dikenal sebagai preman yang menguasai sebuah wilayah di Surabaya. Segala bentuk maksiat dan kejahatan pernah ia lakukan: berjudi, mabuk-mabukan, dan bermain perempuan.

Semua itu bertentangan dengan ajaran luhur masyarakat Jawa yang dikenal dengan “Moh Limo”, warisan dakwah Sunan Ampel:

1.     Moh main – tidak berjudi

2.     Moh ngombe – tidak mabuk

3.     Moh maling – tidak mencuri

4.     Moh madat – tidak memakai narkoba

5.     Moh madon – tidak berzina

Suatu hari, Parjo bertemu dengan Gus Miek (K.H. Hamim Thohari Djazuli), seorang ulama kharismatik yang dikenal nyentrik namun penuh hikmah dalam berdakwah. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba Parjo merasakan sesuatu yang luar biasa. Di depannya seperti ada layar yang menayangkan perjalanan hidupnya sendiri. Ia melihat dirinya di masa lalu—semua dosa dan perbuatan buruk yang pernah dilakukan, terputar satu per satu seperti film.

“Seperti menonton film di bioskop,” katanya lirih. Ia melihat dirinya sendiri sebagai pemeran utama dalam film itu, menyaksikan kembali semua dosa dan kesalahannya satu per satu. Parjo menangis sejadi-jadinya. Di tengah tangisnya, terdengar suara lembut Gus Miek berkata dalam bahasa Jawa,

“Wes ndang tobat, ojo diterus-terusno.”
(Segeralah bertobat, jangan diteruskan lagi.)

Sejak saat itu, Parjo benar-benar berubah. Ia bertobat dengan sungguh-sungguh — taubat nasuha. Ia benar-benar meninggalkan jalan lamanya dan menempuh hidup baru. Saat bercerita kepadaku, ia tengah membangun sebuah mushola di sebelah rumahnya — sebagai tanda syukur dan penebus dosa masa lalu.

Sardi, yang duduk di sebelah kanan Parjo, mengangguk pelan. Ia membenarkan cerita itu. “Aku juga pernah mengalaminya,” ujarnya. Ia juga pernah melihat “film” masa lalunya sendiri, saat sedang mengaji bersama gurunya di sebuah mushola. Adegan-adegan itu membuatnya menangis, tersadar betapa banyak kesalahan yang telah ia perbuat.

Mereka adalah dua orang yang berbeda latar belakang, mengalami hal yang serupa. Dan aku yang mendengarnya, hanya bisa terdiam.

Aku percaya cerita mereka bukan karangan. Tak ada alasan bagi mereka untuk berbohong — apalagi kepada orang yang tidak begitu dekat. Kalaupun ada yang menganggap kisah itu mustahil, aku justru melihatnya sebagai tanda kebesaran Allah.

Jika manusia saja bisa “melihat kembali” perjalanan hidupnya dengan izin Tuhan, bukankah hal itu membuktikan betapa mudahnya bagi Allah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menunjukkan  sesuatu yang jauh lebih dahsyat.

Hidup adalah rekaman panjang yang terus berjalan. Kita mungkin bisa menyembunyikan sebagian, tapi tidak dapat menyembunyikannya dari diri sendiri — dan tentu saja, tidak akan dapat menyembunyikan dari Allah.