Ketika Tangan dan Kaki Bicara
“Pada
hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan
memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”
(QS. Yā-Sīn: 65)
Antara percaya dan tidak, aku sempat
terdiam setelah mendengar kisah yang diceritakan dua orang temanku. Mereka
berdua bercerita tentang pengalaman pertobatan mereka — dan yang membuatku
tercengang, inti dari cerita mereka ternyata sama persis.
Sebuah kisah yang bagiku sangat luar
biasa. Tak hanya karena pengakuan mereka tentang masa lalunya, tapi juga cara
Tuhan mengetuk hati seseorang dengan cara yang tak pernah terpikirkan. Cerita
itu benar-benar mengguncang batinku—tentang hidup, dosa, dan keadilan Allah
yang tak pernah salah alamat.
Siang itu, tahun 2006. Kami sedang
beristirahat di sebuah auditorium tua peninggalan Belanda, tempat kami
menyiapkan konferensi Asia–Pasifik. Aku dan dua rekan — sebut saja Parjo
dan Sardi — duduk santai sambal berbincang ringan.
Terus terang, aku tidak terlalu dekat
dengan mereka. Kami berbeda unit kerja, jarang bertemu, dan baru saling
mengenal sekitar dua-tiga tahun. Parjo lebih senior, usianya jauh di atasku.
Sementara Sardi, sebaya denganku, aku lebih tua terpaut beberapa tahun. Entah
mengapa, mereka berdua seperti ingin membuka kisah masa lalu mereka kepadaku.
Mungkin karena suasanya yang santai dan tenang, atau mungkin memang sudah
waktunya mereka berbagi.
Aku hanya
mendengarkan. Dan dari sanalah semuanya dimulai.
Parjo — yang kini sudah almarhum —
membuka percakapan dengan suara pelan tapi mantap. Ia bercerita tentang masa
mudanya yang kelam. Dulu, ia dikenal sebagai preman yang menguasai sebuah
wilayah di Surabaya. Segala bentuk maksiat dan kejahatan pernah ia lakukan:
berjudi, mabuk-mabukan, dan bermain perempuan.
Semua itu bertentangan dengan ajaran
luhur masyarakat Jawa yang dikenal dengan “Moh Limo”, warisan dakwah
Sunan Ampel:
1.
Moh main – tidak berjudi
2.
Moh ngombe – tidak mabuk
3.
Moh maling – tidak mencuri
4.
Moh madat – tidak memakai narkoba
5.
Moh madon – tidak berzina
Suatu hari, Parjo bertemu dengan Gus
Miek (K.H. Hamim Thohari Djazuli), seorang ulama kharismatik yang dikenal
nyentrik namun penuh hikmah dalam berdakwah. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba
Parjo merasakan sesuatu yang luar biasa. Di depannya seperti ada layar yang
menayangkan perjalanan hidupnya sendiri. Ia melihat dirinya di masa lalu—semua
dosa dan perbuatan buruk yang pernah dilakukan, terputar satu per satu seperti
film.
“Seperti menonton film di bioskop,”
katanya lirih. Ia melihat dirinya sendiri sebagai pemeran utama dalam film itu,
menyaksikan kembali semua dosa dan kesalahannya satu per satu. Parjo menangis
sejadi-jadinya. Di tengah tangisnya, terdengar suara lembut Gus Miek berkata dalam
bahasa Jawa,
“Wes ndang tobat, ojo diterus-terusno.”
(Segeralah bertobat, jangan diteruskan lagi.)
Sejak saat itu, Parjo benar-benar
berubah. Ia bertobat dengan sungguh-sungguh — taubat nasuha. Ia
benar-benar meninggalkan jalan lamanya dan menempuh hidup baru. Saat bercerita
kepadaku, ia tengah membangun sebuah mushola di sebelah rumahnya — sebagai tanda
syukur dan penebus dosa masa lalu.
Sardi, yang duduk di sebelah kanan Parjo,
mengangguk pelan. Ia membenarkan cerita itu. “Aku juga pernah mengalaminya,”
ujarnya. Ia juga pernah melihat “film” masa lalunya sendiri, saat sedang
mengaji bersama gurunya di sebuah mushola. Adegan-adegan itu membuatnya
menangis, tersadar betapa banyak kesalahan yang telah ia perbuat.
Mereka
adalah dua orang yang berbeda latar belakang, mengalami hal yang serupa. Dan
aku yang mendengarnya, hanya bisa terdiam.
Aku percaya cerita mereka bukan karangan.
Tak ada alasan bagi mereka untuk berbohong — apalagi kepada orang yang tidak
begitu dekat. Kalaupun ada yang menganggap kisah itu mustahil, aku justru
melihatnya sebagai tanda kebesaran Allah.
Jika manusia saja bisa “melihat kembali”
perjalanan hidupnya dengan izin Tuhan, bukankah hal itu membuktikan betapa
mudahnya bagi Allah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menunjukkan sesuatu yang jauh lebih dahsyat.
Hidup adalah
rekaman panjang yang terus berjalan. Kita mungkin bisa menyembunyikan sebagian,
tapi tidak dapat menyembunyikannya dari diri sendiri — dan tentu saja, tidak
akan dapat menyembunyikan dari Allah.