Jazirah Arab Menghijau Kembali?
Fenomena wilayah
Arab (Saudi Arabia) yang banyak ditumbuhi tanaman–tanaman yang hijau subur,
banyak menjadi perhatian dikalangan umat Islam yang mengaitkan dengan hadis
Rasulullah Muhammad tentang tanda–tanda terjadinya kiamat.
“Tidak
akan tiba hari kiamat hingga tanah Arab Kembali hijau penuh dengan tumbuhan dan
sungai–sungai.” (HR. Muslim)
“Tidak
akan terjadi kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah,
hingga seorang laki–laki pergi kemana–mana sambil membawa harta zakatnya,
tetapi ia tidak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakat itu. Dan
sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang–padang rumput
dan sungai.” (HR. Muslim)
“Siang
dan malam tidak akan hilang sampai tanah Arab Kembali menjadi kebun–kebun dan
sungai–sungai sehingga sungai Furat mengeluarkan gunung emas dan orang–orang
berperang karenanya. Setiap seratus orang, meninggal 99 orang dan satu orang
selamat.” (HR. Muslim)
Sebagai umat Islam,
tentunya harus mengimani dan tidak boleh menolak dan mengingkari sabda
Rasulullah tersebut. —Hadis tersebut sanatnya Shahih—
Konteks menghijau
kembali dikarenakan proses perubahan iklim secara alamiah, atau karena rekayasa
teknologi yang diciptakan manusia? Wallahu a’lam bishawab.
Dari tiga hadis
diatas, ada dua hal yang perlu digaris bawahi, yaitu:
1.
Jazirah Arab yang sekarang dikenal sebagai daerah yang gersang dan
bergurun pasir, dahulu adalah daerah yang subur, hijau dan dialiri
sungai–sungai,
2.
Jazirah Arab akan menghijau, subur, dan dialiri sungai–sungai lagi.
Jazirah Arab yang dahulu subur dan terdapat
sungai–sungai, secara fakta ilmiah telah terbukti. Terdapat fakta geologi dan
klimatologi yang membuktikan bahwa jazirah Arab sangat hijau sekitar
6.000—10.000 tahun yang lalu pada era African Humid period, dengan
ditemukannya:
· Danau purba di
empty quator (Rub’ al – Khali)
· Fosil gajah, badak
dan kuda nil
· Jejak sungai purba
yang ditemukan oleh satelit NASA
· Endapan tanah subur
dibawah gurun
· Artefak manusia
ditepi danau purba
Studi
paleoklimatologi menunjukkan, antara 6.000 dan 4.000 tahun yang lalu, curah
hujan turun drastis yang mengakibatkan danau–danau purba mengering dengan
cepat, tanah menjadi rapuh, angin menerbangkan pasir dan debu sehingga
terbentuklah bukit pasir seperti sekarang.
Arab tidak
mempunyai pegunungan tinggi yang dapat menahan awan, yang dapat memaksa awan
naik, dan menghasilkan hujan. Tanpa hal–hal tersebut diatas, saat terjadi
hujan, wilayah itu akan cepat mengering begitu hujan berhenti turun. Perubahan
menjadi wilayah yang bergurun pasir, membutuhkan waktu yang sangat lama dengan
proses yang bertahap.
Kapan jazirah Arab
akan dapat menghijau kembali?
Milutin
Milankovitch seorang ilmuwan dari Serbia selama 30 tahun (± 1911—1941)
menghitung secara matematis rotasi bentuk orbit bumi (eksentrisitas),
kemiringan sumbu bumi (obliquity), pergeseran arah rotasi bumi (presesi) yang
mempengaruhi distribusi sinar matahari ke bumi, yang kemudian dikenal dengan
sebutan teori Milankovitch.
Teori Milankovitch
terbukti secara kuat pada dunia modern setelah tahun 1970-an, dan telah menjadi
landasan ilmiah klimatologi modern.
Tiga siklus besar
Melankovitch adalah:
a.
Presesi: mengubah arah datangnya sinar matahari pada musim tertentu,
dengan periode ± 26.000 tahun
b.
Obliquity: mengatur seberapa jauh daerah sub tropis menerima sinar
matahari, dengan perode ± 41.000 tahun
c.
Eccentricity: mengatur kekuatan musim–musim global, dengan perode ±
100.000 tahun.
Tiga siklus
tersebut berlangsung secara parallel dan bersamaan—tidak terjadi secara
berurutan dan tidak bekerja sendiri–sendiri, tetapi saling tumpang tindih yang
menhasilkan pola iklim yang kompleks. Siklus–siklus tersebut saling
berinteraksi, dan kombinasi ketiganya akan dapat mempengaruhi iklim bumi.
Bersandar pada
teori Milankovitch, ribuan tahun yang lalu jazirah Arab pernah hijau karena
orbit bumi dan presesi yang menyebabkan monsun Afrika naik ke utara, curah
hujan tinggi yang mengakibatkan terbentuknya sungai, danau dan padang rumput.
Siklus Milankovitch menentukan kapan hujan monsun cukup untuk membuat Arab
menghijau Kembali. Jika tanpa “gangguan”, Arab akan menghijau kembali ketika
presesi, obliquity, dan eksentrisitas orbit bumi berpadu mendukung monsun kuat
di Arab.
Pemanasan global
yang terjadi saat ini, telah mengganggu siklus. Dampak khusus pemanasan global
di Arab dan Sahara adalah kekeringan meningkat, tanah semakin kering, monsun
Afrika tidak cukup kuat untuk menjangkau Arab. Meskipun fase orbit bumi
mendukung hujan, tetapi karena pemanasan global yang menahan turunnya hujan,
Arab tidak akan menghijau pada periode ini.
Saat ini, kombinasi
siklus menuju kearah pendinginan, tetapi pemanasan akibat efek gas rumah kaca
(pemanasan global) membuat zaman es tertunda puluhan ribu tahun. Siklus
Milankovitch bergerak sangat lambat, tetapi pengaruh akibat ulah manusia jauh
lebih kuat dan jauh lebih cepat. Menurut rekonstruksi paleoklimatologi, bumi
seharusnya memasuki awal transisi menuju zaman es kecil dalam 1.500—4.000 tahun
kedepan (seperti pola 800.000 tahun terakhir). Pemanasan global telah
membatalkan pola pendinginan alami.
Jazirah Arab dapat
menghijau kembali, bukan karena gunung es mendekat, bukan karena pendinginan
global, bukan dalam jangka pendek. Yang paling memungkinkan untuk terjadi
adalah:
· Penghijauan buatan
(50—100 tahun)
·
Penghijauan Sebagian karena perubahan iklim (100—200 tahun)
·
Penghijauan alami sejati (10.000—20.000 tahun, jika CO2 turun).