Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

01 Desember 2025

Jazirah Arab Menghijau Kembali?

 

Fenomena wilayah Arab (Saudi Arabia) yang banyak ditumbuhi tanaman–tanaman yang hijau subur, banyak menjadi perhatian dikalangan umat Islam yang mengaitkan dengan hadis Rasulullah Muhammad tentang tanda–tanda terjadinya kiamat.

“Tidak akan tiba hari kiamat hingga tanah Arab Kembali hijau penuh dengan tumbuhan dan sungai–sungai.” (HR. Muslim)

“Tidak akan terjadi kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki–laki pergi kemana–mana sambil membawa harta zakatnya, tetapi ia tidak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakat itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang–padang rumput dan sungai.” (HR. Muslim)

“Siang dan malam tidak akan hilang sampai tanah Arab Kembali menjadi kebun–kebun dan sungai–sungai sehingga sungai Furat mengeluarkan gunung emas dan orang–orang berperang karenanya. Setiap seratus orang, meninggal 99 orang dan satu orang selamat.” (HR. Muslim)

Sebagai umat Islam, tentunya harus mengimani dan tidak boleh menolak dan mengingkari sabda Rasulullah tersebut. —Hadis tersebut sanatnya Shahih—

Konteks menghijau kembali dikarenakan proses perubahan iklim secara alamiah, atau karena rekayasa teknologi yang diciptakan manusia? Wallahu a’lam bishawab.

Dari tiga hadis diatas, ada dua hal yang perlu digaris bawahi, yaitu:

1.     Jazirah Arab yang sekarang dikenal sebagai daerah yang gersang dan bergurun pasir, dahulu adalah daerah yang subur, hijau dan dialiri sungai–sungai,

2.     Jazirah Arab akan menghijau, subur, dan dialiri sungai–sungai lagi.

 Jazirah Arab yang dahulu subur dan terdapat sungai–sungai, secara fakta ilmiah telah terbukti. Terdapat fakta geologi dan klimatologi yang membuktikan bahwa jazirah Arab sangat hijau sekitar 6.000—10.000 tahun yang lalu pada era African Humid period, dengan ditemukannya:

·       Danau purba di empty quator (Rub’ al – Khali)

·       Fosil gajah, badak dan kuda nil

·       Jejak sungai purba yang ditemukan oleh satelit NASA

·       Endapan tanah subur dibawah gurun

·       Artefak manusia ditepi danau purba

Studi paleoklimatologi menunjukkan, antara 6.000 dan 4.000 tahun yang lalu, curah hujan turun drastis yang mengakibatkan danau–danau purba mengering dengan cepat, tanah menjadi rapuh, angin menerbangkan pasir dan debu sehingga terbentuklah bukit pasir seperti sekarang.

Arab tidak mempunyai pegunungan tinggi yang dapat menahan awan, yang dapat memaksa awan naik, dan menghasilkan hujan. Tanpa hal–hal tersebut diatas, saat terjadi hujan, wilayah itu akan cepat mengering begitu hujan berhenti turun. Perubahan menjadi wilayah yang bergurun pasir, membutuhkan waktu yang sangat lama dengan proses yang bertahap.

Kapan jazirah Arab akan dapat menghijau kembali?

Milutin Milankovitch seorang ilmuwan dari Serbia selama 30 tahun (± 1911—1941) menghitung secara matematis rotasi bentuk orbit bumi (eksentrisitas), kemiringan sumbu bumi (obliquity), pergeseran arah rotasi bumi (presesi) yang mempengaruhi distribusi sinar matahari ke bumi, yang kemudian dikenal dengan sebutan teori Milankovitch.

Teori Milankovitch terbukti secara kuat pada dunia modern setelah tahun 1970-an, dan telah menjadi landasan ilmiah klimatologi modern.

Tiga siklus besar Melankovitch adalah:

a.     Presesi: mengubah arah datangnya sinar matahari pada musim tertentu, dengan periode ± 26.000 tahun

b.     Obliquity: mengatur seberapa jauh daerah sub tropis menerima sinar matahari, dengan perode ± 41.000 tahun

c.      Eccentricity: mengatur kekuatan musim–musim global, dengan perode ± 100.000 tahun.

Tiga siklus tersebut berlangsung secara parallel dan bersamaan—tidak terjadi secara berurutan dan tidak bekerja sendiri–sendiri, tetapi saling tumpang tindih yang menhasilkan pola iklim yang kompleks. Siklus–siklus tersebut saling berinteraksi, dan kombinasi ketiganya akan dapat mempengaruhi iklim bumi.

Bersandar pada teori Milankovitch, ribuan tahun yang lalu jazirah Arab pernah hijau karena orbit bumi dan presesi yang menyebabkan monsun Afrika naik ke utara, curah hujan tinggi yang mengakibatkan terbentuknya sungai, danau dan padang rumput. Siklus Milankovitch menentukan kapan hujan monsun cukup untuk membuat Arab menghijau Kembali. Jika tanpa “gangguan”, Arab akan menghijau kembali ketika presesi, obliquity, dan eksentrisitas orbit bumi berpadu mendukung monsun kuat di Arab.

Pemanasan global yang terjadi saat ini, telah mengganggu siklus. Dampak khusus pemanasan global di Arab dan Sahara adalah kekeringan meningkat, tanah semakin kering, monsun Afrika tidak cukup kuat untuk menjangkau Arab. Meskipun fase orbit bumi mendukung hujan, tetapi karena pemanasan global yang menahan turunnya hujan, Arab tidak akan menghijau pada periode ini.

Saat ini, kombinasi siklus menuju kearah pendinginan, tetapi pemanasan akibat efek gas rumah kaca (pemanasan global) membuat zaman es tertunda puluhan ribu tahun. Siklus Milankovitch bergerak sangat lambat, tetapi pengaruh akibat ulah manusia jauh lebih kuat dan jauh lebih cepat. Menurut rekonstruksi paleoklimatologi, bumi seharusnya memasuki awal transisi menuju zaman es kecil dalam 1.500—4.000 tahun kedepan (seperti pola 800.000 tahun terakhir). Pemanasan global telah membatalkan pola pendinginan alami.

Jazirah Arab dapat menghijau kembali, bukan karena gunung es mendekat, bukan karena pendinginan global, bukan dalam jangka pendek. Yang paling memungkinkan untuk terjadi adalah:

·       Penghijauan buatan (50—100 tahun)

·        Penghijauan Sebagian karena perubahan iklim (100—200 tahun)

·        Penghijauan alami sejati (10.000—20.000 tahun, jika CO2 turun).