Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

25 Oktober 2025

Merasionalisasikan Doktrin Tentang Penciptaan Manusia

 

Pernahkah kita mendengar kata doktrin? Atau bahkan merasa “didoktrin”?


Secara etimologis, istilah doktrin berasal dari bahasa Latin doctrina yang berarti “pengajaran” atau “instruksi”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), doktrin diartikan sebagai ajaran tentang asas suatu aliran, baik politik maupun keagamaan. Secara umum, doktrin dapat dipahami sebagai ajaran, prinsip, atau keyakinan yang disusun secara sistematis dan diajarkan secara konsisten untuk mempengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak seseorang atau kelompok.

Dalam konteks agama, doktrin merupakan ajaran pokok atau prinsip keimanan yang diyakini kebenarannya dan menjadi dasar keyakinan para penganutnya. Sementara itu, dalam konteks sosial atau pendidikan, doktrin dapat pula dimaknai sebagai penanaman suatu pemikiran secara terus-menerus hingga dianggap sebagai kebenaran yang tak terbantahkan.

Artikel ini mungkin terasa cukup sensitif, sebab membahas hal yang mendasar dalam teologi — yakni doktrin agama tentang empat model penciptaan manusia. Topik ini menjadi penting karena penciptaan manusia adalah salah satu tema fundamental dalam berbagai ajaran agama, terutama Islam, Kristen, dan Yahudi. Doktrin ini tidak hanya menjelaskan asal–usul manusia, tetapi juga menegaskan kekuasaan Tuhan atas kehidupan.

Dalam ajaran Islam, dikenal empat model penciptaan manusia oleh Allah:

1.     Penciptaan Nabi Adam

2.     Penciptaan Hawa

3.     Penciptaan Nabi Isa

4.     Penciptaan manusia melalui proses biologis antara laki-laki dan perempuan

1. Penciptaan Nabi Adam

Nabi Adam diyakini sebagai manusia pertama yang diciptakan langsung oleh Allah dari tanah liat atau unsur bumi. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:

“(Allah) menciptakan manusia dari tanah liat seperti tembikar.”
(QS. Ar-Rahman: 14)

 

Penciptaan Adam tanpa ayah dan ibu menunjukkan kekuasaan mutlak Allah (Kun fayakun). Allah menciptakan kehidupan tanpa melalui proses biologis, menegaskan bahwa manusia merupakan ciptaan langsung Tuhan. Manusia memiliki martabat yang tinggi serta diberi akal untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan.

2. Penciptaan Hawa

Hawa, pasangan Nabi Adam, diciptakan dari diri Adam sendiri, tanpa kehadiran perempuan lain. Al-Qur’an menjelaskan:

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

(QS. An-Nisa: 1)

Model ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk hidup berpasangan dan saling melengkapi. Tuhan memperlihatkan kebesaran-Nya dengan menciptakan makhluk baru dari bagian makhluk yang sudah ada, serta menegaskan pentingnya keseimbangan dan hubungan sosial dalam kehidupan manusia.

3. Penciptaan Nabi Isa

Nabi Isa diciptakan melalui Maryam tanpa peran seorang ayah, sebagai bentuk mukjizat dan tanda kekuasaan Allah. Firman Allah menyatakan:

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah kemudian berfirman kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu.”

(QS. Ali Imran: 59)

Model ini menegaskan bahwa Allah berkuasa meniadakan peran laki-laki dalam proses biologis, namun tetap mampu menciptakan kehidupan sempurna. Hal ini menjadi bukti nyata atas mukjizat dan kebesaran Allah dalam menciptakan tanpa batas.

4. Penciptaan Manusia melalui Proses Biologis

Mayoritas manusia diciptakan melalui proses biologis antara laki-laki dan perempuan. Inilah sunatullah — hukum alam yang ditetapkan Allah untuk kelangsungan hidup manusia.

“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.”

(QS. Al-Furqan: 54)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, ayat ini menggambarkan bahwa Allah menciptakan manusia dari air mani yang lemah, kemudian menyempurnakannya menjadi sosok manusia yang utuh. Setelah dewasa, manusia menikah, berketurunan, dan membangun hubungan kekerabatan — semua berawal dari sesuatu yang sederhana namun penuh kuasa Ilahi.

Dari keempat model penciptaan manusia tersebut, kita dapat memahami empat prinsip besar dalam penciptaan:

1.     Dari ketiadaan menjadi ada (Adam).

2.     Dari bagian tubuh laki-laki diciptakan perempuan (Hawa).

3.     Dari perempuan diciptakan laki-laki tanpa ayah (Isa).

4.     Dari laki-laki dan perempuan lahir generasi baru (manusia biasa).

Empat model ini menjadi bukti nyata bahwa Allah menciptakan kehidupan dengan berbagai cara sebagai wujud kebesaran dan kehendak-Nya. Doktrin ini mengajarkan manusia untuk merenungi asal-usulnya, menyadari kebesaran Sang Pencipta, dan menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab moral serta spiritual.

Merasionalisasikan Doktrin Penciptaan

Selama berabad-abad, konsep penciptaan manusia berada dalam ranah teologis yang diterima berdasarkan keimanan. Namun, seiring kemajuan ilmu pengetahuan, beberapa aspek dari doktrin ini mulai dapat dipahami secara ilmiah.

Pada akhir abad ke-19, ilmuwan Jerman Oscar Hertwig (1876) membuktikan bahwa pembuahan (fertilisasi) terjadi ketika inti sperma bersatu dengan inti ovum pada telur landak laut (sea urchin). Penemuan ini menandai awal pemahaman modern bahwa kehidupan baru dimulai dari penyatuan dua sel kelamin (gamet). Dengan demikian, doktrin keempat — penciptaan manusia melalui proses biologis — memperoleh pembenaran ilmiah.

Kemajuan ilmu pengetahuan kemudian memungkinkan manusia melakukan fertilisasi buatan (in vitro fertilization / IVF), di mana ovum dan sperma disatukan di luar tubuh. Tahun 1978, lahirlah bayi tabung pertama di dunia, Louise Brown, hasil dari ovum dan sperma yang dibuahi di laboratorium, lalu embrionya ditanam kembali ke rahim sang ibu.

Selanjutnya, pada tahun 1996, dunia dikejutkan oleh kelahiran Dolly, seekor domba hasil kloning dari sel tubuh dewasa tanpa keterlibatan sperma. Proses ini dilakukan dengan memindahkan inti sel dari kelenjar susu domba dewasa ke dalam ovum yang telah diambil inti selnya lalu menanamkan embrio yang terbentuk, ke rahim domba betina. Dolly menjadi bukti bahwa DNA dari sel tubuh biasa masih dapat “diputar ulang” menjadi kehidupan baru. Hingga saat ini, dengan alasan etika dan hukum, belum ada kloning manusia, walaupun ada beberapa berita yang mengklaim bahwa ada negara tertentu sudah berhasil membuat kloning manusia.

Proses penciptaan Dolly secara konseptual “hampir” menyerupai model penciptaan Nabi Isa — tanpa peran sperma, tetapi melalui penggabungan unsur sel hidup yang telah dimodifikasi. Penemuan ini memperlihatkan bahwa secara ilmiah, kemungkinan penciptaan manusia tanpa ayah bukanlah hal yang mustahil bagi kekuasaan Allah. Dengan kata lain, mukjizat kelahiran Isa bukan sekadar keajaiban teologis, tetapi kini dapat dipahami dalam kerangka sains modern, tanpa mengurangi nilai spiritual dan keilahiannya.

Pemahaman tentang empat model penciptaan manusia menunjukkan bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan tidak harus saling meniadakan, melainkan dapat saling melengkapi. Agama memberikan makna, arah, dan nilai moral, sementara sains menjelaskan bagaimana proses itu berlangsung secara rasional.

Dengan merasionalisasikan doktrin penciptaan manusia, kita tidak sedang mereduksi nilai spiritualnya, melainkan justru memperkuat keyakinan bahwa ilmu dan iman berasal dari sumber yang sama — Tuhan Yang Maha Pencipta. Akhirnya, manusia diajak untuk tidak hanya percaya kepada Sang Pencipta, tetapi juga memahami kebesaran-Nya melalui ilmu pengetahuan dan pemikiran yang jernih.