Merasionalisasikan Doktrin Tentang Penciptaan Manusia
Pernahkah kita mendengar kata doktrin? Atau bahkan merasa “didoktrin”?
Secara etimologis, istilah doktrin berasal dari bahasa Latin doctrina
yang berarti “pengajaran” atau “instruksi”. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), doktrin diartikan sebagai ajaran tentang asas suatu aliran,
baik politik maupun keagamaan. Secara umum, doktrin dapat dipahami sebagai
ajaran, prinsip, atau keyakinan yang disusun secara sistematis dan diajarkan
secara konsisten untuk mempengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak
seseorang atau kelompok.
Dalam konteks agama, doktrin merupakan ajaran pokok atau prinsip keimanan yang diyakini kebenarannya dan menjadi dasar keyakinan para penganutnya. Sementara itu, dalam konteks sosial atau pendidikan, doktrin dapat pula dimaknai sebagai penanaman suatu pemikiran secara terus-menerus hingga dianggap sebagai kebenaran yang tak terbantahkan.
Artikel ini mungkin terasa cukup sensitif, sebab membahas hal yang mendasar dalam teologi — yakni doktrin agama tentang empat model penciptaan manusia. Topik ini menjadi penting karena penciptaan manusia adalah salah satu tema fundamental dalam berbagai ajaran agama, terutama Islam, Kristen, dan Yahudi. Doktrin ini tidak hanya menjelaskan asal–usul manusia, tetapi juga menegaskan kekuasaan Tuhan atas kehidupan.
Dalam ajaran Islam, dikenal empat model penciptaan manusia oleh Allah:
1. Penciptaan Nabi Adam
2. Penciptaan Hawa
3. Penciptaan Nabi Isa
4. Penciptaan manusia melalui proses biologis antara laki-laki dan perempuan
1. Penciptaan Nabi Adam
Nabi Adam diyakini sebagai manusia pertama yang diciptakan langsung oleh Allah dari tanah liat atau unsur bumi. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:
“(Allah)
menciptakan manusia dari tanah liat seperti tembikar.”
(QS. Ar-Rahman: 14)
Penciptaan Adam tanpa ayah dan ibu menunjukkan kekuasaan mutlak Allah (Kun fayakun). Allah menciptakan kehidupan tanpa melalui proses biologis, menegaskan bahwa manusia merupakan ciptaan langsung Tuhan. Manusia memiliki martabat yang tinggi serta diberi akal untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan.
2. Penciptaan Hawa
Hawa, pasangan Nabi Adam, diciptakan dari diri Adam sendiri, tanpa kehadiran perempuan lain. Al-Qur’an menjelaskan:
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
(QS. An-Nisa: 1)
Model ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk hidup berpasangan dan saling melengkapi. Tuhan memperlihatkan kebesaran-Nya dengan menciptakan makhluk baru dari bagian makhluk yang sudah ada, serta menegaskan pentingnya keseimbangan dan hubungan sosial dalam kehidupan manusia.
3. Penciptaan Nabi Isa
Nabi Isa diciptakan melalui Maryam tanpa peran seorang ayah, sebagai bentuk mukjizat dan tanda kekuasaan Allah. Firman Allah menyatakan:
“Sesungguhnya
perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia
menciptakannya dari tanah kemudian berfirman kepadanya, “Jadilah!” Maka,
jadilah sesuatu itu.”
(QS. Ali Imran: 59)
Model ini menegaskan bahwa Allah berkuasa meniadakan peran laki-laki dalam proses biologis, namun tetap mampu menciptakan kehidupan sempurna. Hal ini menjadi bukti nyata atas mukjizat dan kebesaran Allah dalam menciptakan tanpa batas.
4. Penciptaan Manusia melalui
Proses Biologis
Mayoritas manusia diciptakan melalui proses biologis antara laki-laki dan perempuan. Inilah sunatullah — hukum alam yang ditetapkan Allah untuk kelangsungan hidup manusia.
“Dan Dia
(pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya)
keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.”
(QS. Al-Furqan: 54)
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, ayat ini menggambarkan bahwa Allah menciptakan manusia dari air mani yang lemah, kemudian menyempurnakannya menjadi sosok manusia yang utuh. Setelah dewasa, manusia menikah, berketurunan, dan membangun hubungan kekerabatan — semua berawal dari sesuatu yang sederhana namun penuh kuasa Ilahi.
Dari keempat model penciptaan manusia tersebut, kita dapat memahami empat prinsip besar dalam penciptaan:
1. Dari ketiadaan menjadi ada (Adam).
2. Dari bagian tubuh laki-laki diciptakan perempuan (Hawa).
3. Dari perempuan diciptakan laki-laki tanpa ayah (Isa).
4. Dari laki-laki dan perempuan lahir generasi baru (manusia biasa).
Empat model ini menjadi bukti nyata bahwa Allah menciptakan kehidupan dengan berbagai cara sebagai wujud kebesaran dan kehendak-Nya. Doktrin ini mengajarkan manusia untuk merenungi asal-usulnya, menyadari kebesaran Sang Pencipta, dan menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab moral serta spiritual.