Teleportasi Memang Ada?
Cerita ini adalah kisah nyata yang dulu
pernah diceritakan oleh Bapak kepadaku. Aku tidak ingat persis kapan peristiwa
ini terjadi. Mungkin sekitar tahun 1960-an, 1970-an, atau bahkan lebih lama
lagi.
Kalian mungkin pernah mendengar cerita mistis tentang “bis hantu”,
“bis kilat”, atau “kereta hantu” — kendaraan misterius yang mengantar seseorang
ke tujuannya dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Cerita ini agak mirip,
meskipun tidak persis sama.
Pagi itu, Pasar Genteng di Jalan Genteng Besar, Surabaya, tampak
seperti biasanya. Seperti pasar tradisional pada umumnya, suasananya ramai oleh
ibu-ibu dan mbak-mbak berpakaian sederhana yang lalu-lalang membawa keranjang
belanja. Mereka berbelanja sayur, ikan, daging, ayam, telur, bumbu dapur, dan
kebutuhan rumah tangga lainnya. Di dekat pintu masuk pasar, tampak seorang ibu
berpakaian sederhana berdiri kebingungan. Tas belanjanya masih kosong. Tidak
ada yang mengenalnya, dan tak seorang pun tahu dari mana dia datang atau
bagaimana dia bisa tiba di situ. Sikapnya yang tampak aneh menarik perhatian
beberapa orang di sekitarnya. Ada yang mengira dia baru saja kecopetan, ada
juga yang menduga dia terkena gendam (semacam hipnotis untuk menipu orang).
“Ibu kenapa? Kecopetan? Ditipu orang? Atau kena gendam?” tanya
beberapa orang yang mendekatinya karena merasa iba.
Dengan pelan, si Ibu menjawab dalam bahasa Jawa, “Mboten…” yang
artinya “tidak”.
“Saya bingung. Saya ini ada di mana, ya…?”
Mendengar pertanyaan itu, orang-orang semakin heran. Mereka pun
mencoba menjelaskan.
“Ibu sekarang ada di Pasar Genteng, Bu…”
“Pasar Genteng…, tapi kok beda ya pasarnya…” jawab sang ibu, masih
tampak kebingungan.
Orang-orang menjadi semakin ingin tahu perihal asal-usul ibu itu, dan
mulai menanyakan alamat rumahnya. Dan mereka pun terkejut saat mendengar
jawabannya: ibu itu tinggal di sebuah kecamatan bernama Genteng di Kabupaten
Banyuwangi, Jawa Timur. Bagaimana bisa seseorang yang tinggal ratusan kilometer
jauhnya tiba-tiba muncul di Surabaya, di pasar Genteng?
Akhirnya, atas inisiatif warga sekitar, ibu itu diantar ke kantor
polisi terdekat untuk mendapatkan bantuan. Setelah itu, tidak ada lagi kabar
tentangnya.
Apakah ibu itu hanya sedang linglung atau mengalami gangguan kejiwaan?
Ataukah dia benar-benar mengalami suatu peristiwa aneh, semacam teleportasi
yang tak disadarinya?
Apa yang Dimaksud dengan TELEPORTASI?
Menurut Wikipedia, teleportasi adalah proses pemindahan materi
atau energi dari satu titik ke titik lain secara instan, tanpa melewati ruang
fisik di antara keduanya. Istilah ini berasal dari gabungan kata Yunani "tele"
yang berarti "jauh", dan Latin "portare" yang
berarti "membawa".
Sementara itu, menurut kecerdasan buatan (AI), dalam hal ini ChatGPT,
teleportasi merupakan konsep perpindahan materi atau informasi dari satu tempat
ke tempat lain secara instan, juga tanpa melalui ruang fisik di antara kedua
lokasi tersebut.
Istilah "teleportasi" pertama kali diperkenalkan oleh
Charles Fort dalam bukunya yang berjudul Lo! yang diterbitkan pada tahun
1931. Ia menggunakan istilah ini untuk menjelaskan berbagai peristiwa
misterius, seperti orang atau benda yang tiba-tiba menghilang dan kemudian
muncul kembali di tempat lain tanpa penjelasan logis. Dalam konteks ini, Fort
tidak merujuk pada sains, melainkan pada fenomena paranormal — yang kini lebih
dikenal sebagai pseudoscience atau ilmu semu.
Meskipun istilah teleportasi sangat populer dalam film fiksi ilmiah,
seperti serial Star Trek, serta dalam genre sains-fantasi, teleportasi
manusia atau objek fisik hingga kini belum dapat direalisasikan secara ilmiah.
Namun, di dunia sains telah dikembangkan konsep teleportasi kuantum (quantum
teleportation) yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Teleportasi quantum saat ini telah dimanfaatkan dalam riset komputasi
quantum dan komunikasi quantum. Namun, karena saya bukan ahli fisika—terlebih
lagi fisika quantum—saya tidak mampu menjelaskan konsep tersebut secara
mendalam.
Teleportasi dalam Perspektif Kisah-Kisah Nabi
Mari kita sejenak menengok kembali ke masa lalu, ke
peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi ribuan tahun silam. Bagi umat
Islam, Nasrani, dan Yahudi, tentu tidak asing dengan kisah Nabi Sulaiman AS,
atau yang dikenal di dunia Barat sebagai King Solomon.
Nabi Sulaiman dikenal sebagai seorang nabi sekaligus raja yang diberi
banyak mukjizat oleh Allah SWT. Di antara mukjizat tersebut adalah kemampuan
berbicara dengan hewan dan memiliki pasukan dari golongan jin. Salah satu kisah
paling terkenal adalah peristiwa pemindahan singgasana Ratu Balqis, penguasa
Kerajaan Saba' di wilayah Yaman, ke istananya di Palestina.
Dalam kisah tersebut, Nabi Sulaiman bertanya kepada para pengikutnya
siapa yang mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis dengan cepat. Ifrit dari
golongan jin menawarkan diri untuk melakukannya sebelum Nabi Sulaiman berdiri
dari tempat duduknya. Namun kemudian, seorang yang memiliki ilmu dari Kitab
berkata bahwa ia bisa memindahkannya bahkan sebelum mata Nabi Sulaiman
berkedip. Atas izin Allah, peristiwa luar biasa itu pun terjadi. Kisah ini
diabadikan dalam Al-Qur'an, Surah An-Naml (surat ke-27), ayat 38–40.
Peristiwa ini menggambarkan konsep yang oleh sebagian orang saat ini
disebut sebagai teleportasi—pemindahan suatu benda secara instan dari
satu tempat ke tempat lain. Namun, kisah tersebut menunjukkan bahwa hal ini
bukan sekadar imajinasi fiksi ilmiah, melainkan sesuatu yang benar-benar pernah
terjadi dalam sejarah manusia, atas izin Allah dan melalui orang yang memiliki
ilmu yang luar biasa.
Lalu, apakah mungkin manusia juga mengalami teleportasi?
Mari kita telaah peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Dalam
satu malam, Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekah ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) di Palestina—jaraknya sekitar 1.500 km—lalu naik ke
Sidratul Muntaha di langit ke-7. Perjalanan ini bukan sekadar lintasan ruang
dan waktu di dunia, melainkan menembus dimensi-dimensi alam semesta yang luas
dan tak terjangkau oleh sains manusia saat ini. Peristiwa ini tidak hanya
mencerminkan kecepatan luar biasa, tetapi juga kedalaman spiritual yang hanya
bisa dijangkau oleh keimanan dan kedekatan kepada Allah.
Bagi umat Islam, Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar perjalanan luar biasa,
melainkan bagian dari akidah yang harus diimani. Dari peristiwa inilah pula
diturunkan kewajiban shalat lima waktu.
Untuk membayangkan hal ini, kita bisa membuat analogi sederhana.
Bayangkan kita adalah seekor semut yang tinggal di tengah hutan. Tiba-tiba,
teman kita sesama semut menceritakan bahwa ia baru saja pulang dari perjalanan
pergi-pulang ke Jakarta—ratusan kilometer jauhnya—dalam waktu singkat, dengan
menumpang kendaraan yang sangat cepat. Bagi kita (semut), cerita itu mungkin
terdengar mustahil, bahkan mengada-ada. Namun bagi manusia, hal tersebut sangat
masuk akal. Dengan akal dan teknologi, manusia mampu menciptakan kendaraan yang
bisa menempuh jarak jauh dalam waktu singkat.
Dari sini kita belajar bahwa keterbatasan akal tidak selalu menjadi
ukuran kebenaran. Apa yang tampak mustahil bagi makhluk tertentu, bisa saja
sangat masuk akal bagi makhluk lain yang memiliki pengetahuan lebih tinggi.
Maka, dapat disimpulkan bahwa teleportasi bukanlah hal yang
mustahil, bahkan ia telah terjadi sejak ribuan tahun lalu. Hanya saja,
hingga kini ilmu pengetahuan manusia belum mampu mencapainya. Namun, sejarah
dan wahyu telah memberikan gambaran bahwa hal itu bukanlah khayalan, melainkan
bagian dari kenyataan yang belum sepenuhnya terungkap oleh ilmu.