Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

03 September 2025

Teleportasi Memang Ada?

 

Cerita ini adalah kisah nyata yang dulu pernah diceritakan oleh Bapak kepadaku. Aku tidak ingat persis kapan peristiwa ini terjadi. Mungkin sekitar tahun 1960-an, 1970-an, atau bahkan lebih lama lagi.

Kalian mungkin pernah mendengar cerita mistis tentang “bis hantu”, “bis kilat”, atau “kereta hantu” — kendaraan misterius yang mengantar seseorang ke tujuannya dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Cerita ini agak mirip, meskipun tidak persis sama.

Pagi itu, Pasar Genteng di Jalan Genteng Besar, Surabaya, tampak seperti biasanya. Seperti pasar tradisional pada umumnya, suasananya ramai oleh ibu-ibu dan mbak-mbak berpakaian sederhana yang lalu-lalang membawa keranjang belanja. Mereka berbelanja sayur, ikan, daging, ayam, telur, bumbu dapur, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Di dekat pintu masuk pasar, tampak seorang ibu berpakaian sederhana berdiri kebingungan. Tas belanjanya masih kosong. Tidak ada yang mengenalnya, dan tak seorang pun tahu dari mana dia datang atau bagaimana dia bisa tiba di situ. Sikapnya yang tampak aneh menarik perhatian beberapa orang di sekitarnya. Ada yang mengira dia baru saja kecopetan, ada juga yang menduga dia terkena gendam (semacam hipnotis untuk menipu orang).

“Ibu kenapa? Kecopetan? Ditipu orang? Atau kena gendam?” tanya beberapa orang yang mendekatinya karena merasa iba.

Dengan pelan, si Ibu menjawab dalam bahasa Jawa, “Mboten…” yang artinya “tidak”.

“Saya bingung. Saya ini ada di mana, ya…?”

Mendengar pertanyaan itu, orang-orang semakin heran. Mereka pun mencoba menjelaskan.

“Ibu sekarang ada di Pasar Genteng, Bu…”

“Pasar Genteng…, tapi kok beda ya pasarnya…” jawab sang ibu, masih tampak kebingungan.

Orang-orang menjadi semakin ingin tahu perihal asal-usul ibu itu, dan mulai menanyakan alamat rumahnya. Dan mereka pun terkejut saat mendengar jawabannya: ibu itu tinggal di sebuah kecamatan bernama Genteng di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Bagaimana bisa seseorang yang tinggal ratusan kilometer jauhnya tiba-tiba muncul di Surabaya, di pasar Genteng?

Akhirnya, atas inisiatif warga sekitar, ibu itu diantar ke kantor polisi terdekat untuk mendapatkan bantuan. Setelah itu, tidak ada lagi kabar tentangnya.

Apakah ibu itu hanya sedang linglung atau mengalami gangguan kejiwaan?

Ataukah dia benar-benar mengalami suatu peristiwa aneh, semacam teleportasi yang tak disadarinya?

 

Apa yang Dimaksud dengan TELEPORTASI?

Menurut Wikipedia, teleportasi adalah proses pemindahan materi atau energi dari satu titik ke titik lain secara instan, tanpa melewati ruang fisik di antara keduanya. Istilah ini berasal dari gabungan kata Yunani "tele" yang berarti "jauh", dan Latin "portare" yang berarti "membawa".

Sementara itu, menurut kecerdasan buatan (AI), dalam hal ini ChatGPT, teleportasi merupakan konsep perpindahan materi atau informasi dari satu tempat ke tempat lain secara instan, juga tanpa melalui ruang fisik di antara kedua lokasi tersebut.

Istilah "teleportasi" pertama kali diperkenalkan oleh Charles Fort dalam bukunya yang berjudul Lo! yang diterbitkan pada tahun 1931. Ia menggunakan istilah ini untuk menjelaskan berbagai peristiwa misterius, seperti orang atau benda yang tiba-tiba menghilang dan kemudian muncul kembali di tempat lain tanpa penjelasan logis. Dalam konteks ini, Fort tidak merujuk pada sains, melainkan pada fenomena paranormal — yang kini lebih dikenal sebagai pseudoscience atau ilmu semu.

Meskipun istilah teleportasi sangat populer dalam film fiksi ilmiah, seperti serial Star Trek, serta dalam genre sains-fantasi, teleportasi manusia atau objek fisik hingga kini belum dapat direalisasikan secara ilmiah. Namun, di dunia sains telah dikembangkan konsep teleportasi kuantum (quantum teleportation) yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Teleportasi quantum saat ini telah dimanfaatkan dalam riset komputasi quantum dan komunikasi quantum. Namun, karena saya bukan ahli fisika—terlebih lagi fisika quantum—saya tidak mampu menjelaskan konsep tersebut secara mendalam.

 

Teleportasi dalam Perspektif Kisah-Kisah Nabi

Mari kita sejenak menengok kembali ke masa lalu, ke peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi ribuan tahun silam. Bagi umat Islam, Nasrani, dan Yahudi, tentu tidak asing dengan kisah Nabi Sulaiman AS, atau yang dikenal di dunia Barat sebagai King Solomon.

Nabi Sulaiman dikenal sebagai seorang nabi sekaligus raja yang diberi banyak mukjizat oleh Allah SWT. Di antara mukjizat tersebut adalah kemampuan berbicara dengan hewan dan memiliki pasukan dari golongan jin. Salah satu kisah paling terkenal adalah peristiwa pemindahan singgasana Ratu Balqis, penguasa Kerajaan Saba' di wilayah Yaman, ke istananya di Palestina.

Dalam kisah tersebut, Nabi Sulaiman bertanya kepada para pengikutnya siapa yang mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis dengan cepat. Ifrit dari golongan jin menawarkan diri untuk melakukannya sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya. Namun kemudian, seorang yang memiliki ilmu dari Kitab berkata bahwa ia bisa memindahkannya bahkan sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip. Atas izin Allah, peristiwa luar biasa itu pun terjadi. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an, Surah An-Naml (surat ke-27), ayat 38–40.

Peristiwa ini menggambarkan konsep yang oleh sebagian orang saat ini disebut sebagai teleportasi—pemindahan suatu benda secara instan dari satu tempat ke tempat lain. Namun, kisah tersebut menunjukkan bahwa hal ini bukan sekadar imajinasi fiksi ilmiah, melainkan sesuatu yang benar-benar pernah terjadi dalam sejarah manusia, atas izin Allah dan melalui orang yang memiliki ilmu yang luar biasa.

Lalu, apakah mungkin manusia juga mengalami teleportasi?

Mari kita telaah peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Dalam satu malam, Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekah ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) di Palestina—jaraknya sekitar 1.500 km—lalu naik ke Sidratul Muntaha di langit ke-7. Perjalanan ini bukan sekadar lintasan ruang dan waktu di dunia, melainkan menembus dimensi-dimensi alam semesta yang luas dan tak terjangkau oleh sains manusia saat ini. Peristiwa ini tidak hanya mencerminkan kecepatan luar biasa, tetapi juga kedalaman spiritual yang hanya bisa dijangkau oleh keimanan dan kedekatan kepada Allah.

Bagi umat Islam, Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar perjalanan luar biasa, melainkan bagian dari akidah yang harus diimani. Dari peristiwa inilah pula diturunkan kewajiban shalat lima waktu.

Untuk membayangkan hal ini, kita bisa membuat analogi sederhana. Bayangkan kita adalah seekor semut yang tinggal di tengah hutan. Tiba-tiba, teman kita sesama semut menceritakan bahwa ia baru saja pulang dari perjalanan pergi-pulang ke Jakarta—ratusan kilometer jauhnya—dalam waktu singkat, dengan menumpang kendaraan yang sangat cepat. Bagi kita (semut), cerita itu mungkin terdengar mustahil, bahkan mengada-ada. Namun bagi manusia, hal tersebut sangat masuk akal. Dengan akal dan teknologi, manusia mampu menciptakan kendaraan yang bisa menempuh jarak jauh dalam waktu singkat.

Dari sini kita belajar bahwa keterbatasan akal tidak selalu menjadi ukuran kebenaran. Apa yang tampak mustahil bagi makhluk tertentu, bisa saja sangat masuk akal bagi makhluk lain yang memiliki pengetahuan lebih tinggi.

Maka, dapat disimpulkan bahwa teleportasi bukanlah hal yang mustahil, bahkan ia telah terjadi sejak ribuan tahun lalu. Hanya saja, hingga kini ilmu pengetahuan manusia belum mampu mencapainya. Namun, sejarah dan wahyu telah memberikan gambaran bahwa hal itu bukanlah khayalan, melainkan bagian dari kenyataan yang belum sepenuhnya terungkap oleh ilmu.