Keberanian Sejati

adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

13 Oktober 2025

Mengintip Takdir

 

Kisah Nabi Musa A.S. dan Nabi Khidir A.S. yang termaktub dalam Al-Qur'an, Surat Al-Kahfi, mungkin sudah sering kita dengar. Dalam kisah itu, Nabi Musa menyaksikan tiga tindakan “aneh” dari Nabi Khidir: merusak perahu milik orang miskin, membunuh seorang anak kecil, dan menegakkan kembali dinding rumah di sebuah desa yang penduduknya tidak mau menjamu mereka. Tiga tindakan itu tampak ganjil dan tak masuk akal di mata Nabi Musa—hingga akhirnya Allah mengungkapkan hikmah di balik semua itu.

 

Allah SWT berfirman:

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65)

 

Nabi Khidir memiliki pengetahuan yang tidak bersumber dari logika, pengalaman, atau pengamatan biasa. Ia mengetahui hal-hal gaib yang belum terjadi—bukan karena meramal, melainkan karena diajarkan langsung oleh Allah SWT. Inilah yang disebut dengan ‘ilmun ladunni, yaitu ilmu yang diberikan secara langsung oleh Allah, tanpa proses belajar atau perantara. Jika ilmu Nabi Musa berkaitan dengan syariat, maka ilmu Nabi Khidir adalah ilmu hakikat—tentang kebenaran terdalam dari segala sesuatu.

 

Dalam budaya Jawa, kita mengenal istilah weruh sak durungé winarah—yang berarti “mengetahui sebelum diberi tahu” atau “tahu sesuatu sebelum terjadi.” Ungkapan ini sering dikaitkan dengan laku kebatinan atau pencapaian spiritual tingkat tinggi. Kemampuan seperti ini dipercaya lahir dari mata batin atau rasa sejati yang telah terbuka. Meski begitu, dalam tradisi Jawa, ilmu seperti ini bukan untuk dibanggakan, karena dianggap sebagai anugerah batiniah, bukan hasil upaya intelektual.

 

Namun, ada perbedaan mendasar antara ‘ilmun ladunni dengan ilmu kebatinan semacam weruh sak durungé winarah. Ilmu laduni berasal langsung dari Allah SWT—tanpa campur tangan makhluk lain—sedangkan ilmu kebatinan sering kali diperoleh melalui laku tertentu yang melibatkan makhluk gaib, bahkan mungkin jin atau syetan. Mereka mencuri informasi dari langit, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur'an:

 

“Sesungguhnya kami (jin) dahulu biasa menduduki tempat-tempat (di langit) untuk mencuri berita-berita. Akan tetapi sekarang siapa pun yang mencoba mencuri dengar akan menjumpai panah api yang mengintai.”(QS. Al-Jin: 9)

 

Setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW, jalur pencurian berita dari langit ditutup. Namun, sebagian jin masih dapat membisikkan satu kebenaran yang mereka ubah-ubah di antara seratus kebohongan—sebagaimana dijelaskan dalam hadis shahih riwayat Bukhari dan Muslim, “Mereka (para dukun) menyampaikan serratus kebohongan bersama satu kebenaran yang mereka curi dengar.”

 

Ada satu kisah nyata yang diceritakan oleh seseorang—sebut saja Pak Arya—yang terjadi pada tahun 90-an. Ia adalah seorang non-Muslim, berpangkat tinggi di lingkungan militer. Salah satu bawahannya, sebut saja Pak Rudi, memohon dengan sangat untuk diajarkan sebuah “ilmu” agar dapat mengetahui peristiwa sebelum peristiwa itu terjadi. Awalnya, Pak Arya menolak. Ia menganggap permintaan itu tidak pantas, karena seolah ingin "mengintip takdir" yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

 

Namun, karena melihat tekad kuat Pak Rudi, akhirnya ia luluh dan membimbingnya mempelajari ilmu tersebut—dengan satu syarat: jangan pernah menyombongkan diri, apalagi menyalahgunakan ilmu itu.

 

Pak Rudi pun berhasil menguasai ilmu yang selama ini ia idam-idamkan. Ia merasa bangga, senang, dan bahagia karena bisa mengetahui peristiwa sebelum orang lain mengetahuinya. Bertahun-tahun ia menikmati “manfaat” dari ilmu itu. Hidupnya tampak lancar dan tenang—hingga pada suatu malam, bisikan itu datang: salah satu dari dua anak gadisnya akan meninggal dunia.

 

Sejak malam itu, hidupnya berubah. Ia tidak lagi bisa tidur nyenyak. Setiap malam, ia menunggu anak–anaknya pulang dari kuliah dengan rasa cemas yang menggerogoti batinnya. Ia berharap bisikan itu salah. Ia berdoa agar pengetahuan yang ia banggakan itu ternyata keliru.

 

Namun takdir berkata lain. Salah satu anak gadisnya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Hatinya hancur. Ilmu yang dahulu ia anggap sebagai anugerah kini menjadi beban berat yang mengoyak jiwanya. Ia sadar: pengetahuan tentang masa depan bukanlah karunia yang menenangkan, melainkan beban yang tak sanggup dipikul manusia biasa.

 

Kisah ini menyisakan pelajaran penting: bahwa tidak semua yang tampak sebagai keistimewaan adalah kebaikan, dan tidak semua pengetahuan membawa ketenangan. Ada batas-batas yang harus dihormati manusia terhadap takdir dan rahasia Ilahi. Keinginan untuk mengetahui masa depan terkadang lahir dari kecemasan, bukan keimanan. Padahal, keimanan justru berarti percaya pada takdir, dan menyerahkan urusan masa depan kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui.

 

Sebagaimana kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, kita diajarkan bahwa tidak semua hal harus kita pahami saat ini juga. Ada hikmah yang baru akan terungkap di waktu yang telah Allah tentukan. Maka, bersabarlah dalam ketidaktahuan, dan berserah dirilah dalam ketidakpastian. Karena mungkin, justru di sanalah letak kedamaian yang sejati.