Mengintip Takdir
Kisah Nabi
Musa A.S. dan Nabi Khidir A.S. yang termaktub dalam Al-Qur'an, Surat Al-Kahfi,
mungkin sudah sering kita dengar. Dalam kisah itu, Nabi Musa menyaksikan tiga
tindakan “aneh” dari Nabi Khidir: merusak perahu milik orang miskin, membunuh
seorang anak kecil, dan menegakkan kembali dinding rumah di sebuah desa yang
penduduknya tidak mau menjamu mereka. Tiga tindakan itu tampak ganjil dan tak
masuk akal di mata Nabi Musa—hingga akhirnya Allah mengungkapkan hikmah di
balik semua itu.
Allah SWT
berfirman:
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba
di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami, dan
yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65)
Nabi Khidir
memiliki pengetahuan yang tidak bersumber dari logika, pengalaman, atau
pengamatan biasa. Ia mengetahui hal-hal gaib yang belum terjadi—bukan karena
meramal, melainkan karena diajarkan langsung oleh Allah SWT. Inilah yang
disebut dengan ‘ilmun ladunni, yaitu ilmu yang diberikan secara langsung
oleh Allah, tanpa proses belajar atau perantara. Jika ilmu Nabi Musa berkaitan
dengan syariat, maka ilmu Nabi Khidir adalah ilmu hakikat—tentang kebenaran
terdalam dari segala sesuatu.
Dalam
budaya Jawa, kita mengenal istilah weruh sak durungé winarah—yang
berarti “mengetahui sebelum diberi tahu” atau “tahu sesuatu sebelum terjadi.”
Ungkapan ini sering dikaitkan dengan laku kebatinan atau pencapaian spiritual
tingkat tinggi. Kemampuan seperti ini dipercaya lahir dari mata batin atau rasa
sejati yang telah terbuka. Meski begitu, dalam tradisi Jawa, ilmu seperti
ini bukan untuk dibanggakan, karena dianggap sebagai anugerah batiniah, bukan
hasil upaya intelektual.
Namun, ada
perbedaan mendasar antara ‘ilmun ladunni dengan ilmu kebatinan semacam weruh
sak durungé winarah. Ilmu laduni berasal langsung dari Allah SWT—tanpa
campur tangan makhluk lain—sedangkan ilmu kebatinan sering kali diperoleh
melalui laku tertentu yang melibatkan makhluk gaib, bahkan mungkin jin atau
syetan. Mereka mencuri informasi dari langit, sebagaimana yang dijelaskan dalam
Al-Qur'an:
“Sesungguhnya kami
(jin) dahulu biasa menduduki tempat-tempat (di langit) untuk mencuri
berita-berita. Akan tetapi sekarang siapa pun yang mencoba mencuri dengar akan
menjumpai panah api yang mengintai.”(QS. Al-Jin: 9)
Setelah
diutusnya Nabi Muhammad SAW, jalur pencurian berita dari langit ditutup. Namun,
sebagian jin masih dapat membisikkan satu kebenaran yang mereka ubah-ubah di
antara seratus kebohongan—sebagaimana dijelaskan dalam hadis shahih riwayat
Bukhari dan Muslim, “Mereka (para dukun) menyampaikan serratus kebohongan
bersama satu kebenaran yang mereka curi dengar.”
Ada satu
kisah nyata yang diceritakan oleh seseorang—sebut saja Pak Arya—yang terjadi
pada tahun 90-an. Ia adalah seorang non-Muslim, berpangkat tinggi di lingkungan
militer. Salah satu bawahannya, sebut saja Pak Rudi, memohon dengan sangat
untuk diajarkan sebuah “ilmu” agar dapat mengetahui peristiwa sebelum peristiwa
itu terjadi. Awalnya, Pak Arya menolak. Ia menganggap permintaan itu tidak pantas,
karena seolah ingin "mengintip takdir" yang telah ditetapkan oleh
Tuhan.
Namun,
karena melihat tekad kuat Pak Rudi, akhirnya ia luluh dan membimbingnya
mempelajari ilmu tersebut—dengan satu syarat: jangan pernah menyombongkan diri,
apalagi menyalahgunakan ilmu itu.
Pak Rudi
pun berhasil menguasai ilmu yang selama ini ia idam-idamkan. Ia merasa bangga,
senang, dan bahagia karena bisa mengetahui peristiwa sebelum orang lain
mengetahuinya. Bertahun-tahun ia menikmati “manfaat” dari ilmu itu. Hidupnya tampak
lancar dan tenang—hingga pada suatu malam, bisikan itu datang: salah satu dari
dua anak gadisnya akan meninggal dunia.
Sejak malam
itu, hidupnya berubah. Ia tidak lagi bisa tidur nyenyak. Setiap malam, ia
menunggu anak–anaknya pulang dari kuliah dengan rasa cemas yang menggerogoti
batinnya. Ia berharap bisikan itu salah. Ia berdoa agar pengetahuan yang ia
banggakan itu ternyata keliru.
Namun
takdir berkata lain. Salah satu anak gadisnya mengalami kecelakaan dan
meninggal dunia. Hatinya hancur. Ilmu yang dahulu ia anggap sebagai anugerah
kini menjadi beban berat yang mengoyak jiwanya. Ia sadar: pengetahuan tentang
masa depan bukanlah karunia yang menenangkan, melainkan beban yang tak sanggup
dipikul manusia biasa.
Kisah ini
menyisakan pelajaran penting: bahwa tidak semua yang tampak sebagai
keistimewaan adalah kebaikan, dan tidak semua pengetahuan membawa ketenangan.
Ada batas-batas yang harus dihormati manusia terhadap takdir dan rahasia Ilahi.
Keinginan untuk mengetahui masa depan terkadang lahir dari kecemasan, bukan
keimanan. Padahal, keimanan justru berarti percaya pada takdir, dan menyerahkan
urusan masa depan kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui.
Sebagaimana
kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, kita diajarkan bahwa tidak semua hal harus
kita pahami saat ini juga. Ada hikmah yang baru akan terungkap di waktu yang
telah Allah tentukan. Maka, bersabarlah dalam ketidaktahuan, dan berserah dirilah
dalam ketidakpastian. Karena mungkin, justru di sanalah letak kedamaian yang
sejati.