Kiai Mojo dan Lingkaran Para Ulama
Di tengah kegelisahannya melihat keadaan
Jawa, Diponegoro tidak berjalan sendirian.
Tegalrejo perlahan menjadi tempat
berkumpulnya para ulama, santri, bangsawan, dan tokoh masyarakat. Mereka datang
membawa kegelisahan yang hampir sama: melihat perubahan di Jawa yang semakin
jauh dari keadaan yang mereka anggap adil.
Di antara tokoh penting dalam lingkaran
tersebut adalah Kiai Mojo.
Kiai Mojo dikenal sebagai ulama yang
memiliki pengaruh besar di kalangan masyarakat. Ia bukan sekadar orang yang
memiliki pengetahuan agama, tetapi juga sosok yang berani menyampaikan
pandangannya tentang keadaan masyarakat dan kekuasaan.
Hubungan Diponegoro dengan Kiai Mojo
kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan perjuangan
Diponegoro.
Keduanya memiliki perhatian yang sama
terhadap keadaan rakyat dan semakin kuatnya campur tangan kolonial dalam urusan
Kesultanan Yogyakarta.
Bagi Diponegoro, persoalan yang dihadapi
Jawa bukan hanya masalah politik.
Ada persoalan moral dan agama di
dalamnya.
Seorang penguasa, menurut pandangan yang
dipegang Diponegoro, tidak hanya memiliki kekuasaan. Ia juga memiliki tanggung
jawab untuk menjaga keadilan dan melindungi rakyat.
Karena itu, agama bagi Diponegoro bukan
sekadar urusan ibadah pribadi.
Agama menjadi pedoman dalam melihat
kekuasaan, keadilan, dan tanggung jawab seorang pemimpin.
Dari lingkungan inilah, perlahan
terbentuk jaringan orang-orang yang kelak memainkan peranan penting dalam
perlawanan terhadap Belanda.
Bukan Sekadar Soal Takhta
Selama bertahun-tahun, muncul anggapan
bahwa Perang Jawa terjadi terutama karena Diponegoro kecewa tidak diangkat
menjadi Sultan Yogyakarta.
Pandangan seperti itu terlalu
menyederhanakan persoalan.
Diponegoro memang merupakan salah satu
bangsawan penting dalam lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Namun perjalanan
hidupnya menunjukkan bahwa ia tidak menjadikan kehidupan istana dan kedudukan
sebagai tujuan utama.
Ia justru memilih tinggal di Tegalrejo.
Di tempat itu, kehidupannya jauh dari
kemewahan pusat keraton. Ia lebih dekat dengan masyarakat dan menjalani
kehidupan yang lebih sederhana.
Dalam Babad Diponegoro,
kegelisahan terhadap keadaan negeri dan masyarakat mendapatkan tempat yang
sangat besar. Karena itu, munculnya perlawanan Diponegoro lebih tepat dipahami
sebagai hasil dari berbagai persoalan yang telah menumpuk.
Campur tangan Belanda dalam urusan
kesultanan, perubahan tata pemerintahan, tekanan ekonomi terhadap masyarakat,
persoalan tanah, serta keyakinan keagamaan Diponegoro semuanya saling
berkaitan.
Jadi, Perang Jawa bukan sekadar perebutan
kekuasaan.
Ia merupakan ledakan dari berbagai
persoalan politik, sosial, ekonomi, dan keagamaan yang telah berkembang selama
bertahun-tahun.
Dari Ulama hingga Para Pejuang
Lingkaran di sekitar Diponegoro juga
tidak hanya berisi ulama.
Ada bangsawan, tokoh masyarakat, santri,
dan para pemuda yang kemudian ikut memainkan peranan dalam perjuangan.
Salah satu nama yang kelak sangat
terkenal adalah Sentot Prawiradirja.
Sentot masih relatif muda ketika terlibat
dalam perjuangan. Namun keberanian dan kemampuan militernya kemudian membuat
namanya menonjol.
Ia memahami bahwa menghadapi Belanda
bukan perkara mudah.
Pasukan kolonial memiliki persenjataan
yang lebih modern, organisasi militer yang lebih teratur, dan pengalaman
panjang dalam menghadapi berbagai perlawanan di wilayah jajahannya.
Karena itu, keberanian saja tidak cukup.
Dibutuhkan strategi, kemampuan membaca
medan, serta jaringan pendukung yang luas.
Dalam perkembangan perang, Sentot
kemudian menjadi salah satu panglima penting Diponegoro.
Jika Diponegoro menjadi pusat
kepemimpinan dan simbol perlawanan, sementara para ulama memberikan landasan
moral dan keagamaan, maka para panglima seperti Sentot berperan dalam
menghadapi persoalan di medan perang.
Sebuah jaringan perjuangan perlahan
terbentuk.
Namun saat itu, belum ada yang
benar-benar tahu seberapa besar perang yang akan segera terjadi.
Bara yang Menunggu Percikan
Memasuki tahun-tahun menjelang 1825,
ketegangan di Jawa semakin terasa.
Campur tangan pemerintah kolonial semakin
dalam.
Masyarakat menghadapi berbagai tekanan
ekonomi dan perubahan aturan yang memengaruhi kehidupan mereka. Di lingkungan
keraton sendiri, pengaruh Belanda semakin kuat.
Sementara itu, Tegalrejo semakin ramai.
Masyarakat datang menemui Diponegoro
untuk berbagai keperluan. Ada yang meminta nasihat, ada yang menyampaikan persoalan,
dan ada pula yang datang karena melihat Diponegoro sebagai sosok yang masih
memiliki kepedulian terhadap keadaan rakyat.
Perlahan, kedudukannya berubah.
Ia bukan lagi hanya seorang pangeran yang
memilih hidup sederhana di Tegalrejo.
Bagi sebagian masyarakat, Diponegoro
mulai menjadi simbol harapan.
Namun Diponegoro juga memahami satu hal
yang sangat penting.
Perang bukan perkara sederhana.
Begitu senjata diangkat, penderitaan
tidak hanya akan dirasakan oleh tentara. Rakyat biasa, perempuan, anak-anak,
petani, dan mereka yang tidak terlibat langsung dalam pertempuran juga akan
terkena dampaknya.
Karena itu, perang bukan sesuatu yang
ringan baginya.
Tetapi sejarah akhirnya membawa
Diponegoro ke titik yang sulit dihindari.
Pada 1825, pemerintah kolonial merencanakan
pembangunan jalan yang melintasi kawasan Tegalrejo. Pemasangan patok untuk
proyek tersebut menyentuh tanah yang berkaitan dengan kediaman Diponegoro.
Bagi pemerintah kolonial, pembangunan
jalan mungkin merupakan bagian dari proyek infrastruktur.
Namun bagi Diponegoro dan orang-orang di
sekitarnya, tindakan itu dipandang sebagai bentuk lain dari campur tangan dan
penghinaan terhadap hak serta martabat mereka.
Ketegangan yang selama bertahun-tahun
hanya berupa kegelisahan akhirnya berubah menjadi konflik terbuka.
Patok-patok itu menjadi percikan.
Bara yang selama ini tersimpan akhirnya
menyala.
Dan pada tahun 1825, Jawa memasuki salah
satu babak paling berdarah dalam sejarahnya.
Perang Jawa pun dimulai.
Namun perang itu tidak lahir dalam satu
malam.
Ia tumbuh dari kegelisahan yang panjang,
dari perubahan kekuasaan, penderitaan rakyat, campur tangan kolonial, dan
keyakinan orang-orang yang merasa bahwa keadaan Jawa sudah tidak dapat
dibiarkan begitu saja.
Dan di tengah semua itu, nama Diponegoro
berdiri sebagai pusat dari perlawanan yang kelak mengguncang kekuasaan Belanda
di Jawa.