Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

19 Oktober 2026

Kisah Barshisha: Ketika Ahli Ibadah Terjebak dalam Tipu Daya Setan

 

Pernahkah kita membayangkan seseorang yang dikenal sebagai ahli ibadah, tekun beribadah selama bertahun-tahun, tetapi pada akhirnya justru terjerumus dalam kekufuran?

Kisah Barshisha adalah salah satu kisah yang sangat populer dalam literatur Islam. Kisah ini sering disampaikan sebagai peringatan tentang bagaimana setan menyesatkan manusia secara bertahap, dari satu kesalahan kecil menuju dosa yang semakin besar.

Kisah Barshisha juga sering dikaitkan oleh sebagian ulama dan ahli tafsir dengan firman Allah dalam QS Al-Hasyr ayat 16–17:

“(Bujukan orang-orang munafik kepada orang-orang Yahudi) seperti setan ketika berkata kepada manusia, ‘Kufurlah kamu!’ Ketika orang itu telah kufur, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.’ Maka, kesudahan keduanya adalah bahwa keduanya berada dalam neraka. Mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang-orang zalim.”

Ayat tersebut tidak menyebut nama Barshisha secara langsung. Namun, kisah yang dinisbatkan kepadanya sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana setan membujuk manusia hingga akhirnya meninggalkannya ketika manusia telah terjerumus.

Awal Mula Terjadinya Dosa

Dalam riwayat yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Mas'ud, diceritakan tentang seorang perempuan yang memiliki empat saudara laki-laki. Pada suatu ketika, perempuan tersebut harus tinggal di tempat ibadah seorang rahib bernama Barshisha.

Barshisha dikenal sebagai seorang ahli ibadah yang tekun. Namun, justru di tempat yang dianggap aman dari kemaksiatan itulah ujian berat mulai datang. Setan tidak langsung menyuruh Barshisha melakukan dosa besar. Godaan datang sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya Barshisha terjerumus dalam perbuatan maksiat bersama perempuan tersebut. Perempuan itu kemudian hamil.

Kesalahan pertama ternyata tidak berhenti di sana. Ketika mengetahui kehamilan tersebut, Barshisha mulai diliputi ketakutan. Ia takut aibnya terbongkar dan kedudukannya sebagai seorang ahli ibadah hancur di mata masyarakat. Pada saat itulah setan kembali membisikkan jalan keluar yang jauh lebih buruk.

“Bunuh dia dan kuburkan. Engkau adalah orang yang dipercaya dan ucapanmu akan didengar.”

Barshisha mengikuti bisikan tersebut. Perempuan itu dibunuh, kemudian jasadnya dikuburkan. Dosa yang awalnya bermula dari satu maksiat akhirnya berkembang menjadi pembunuhan.

Ketika Setan Menjadi Penipu Sekaligus “Penolong”

Setan belum selesai.

Ia kemudian mendatangi keempat saudara laki-laki perempuan tersebut melalui mimpi. Kepada mereka dikabarkan bahwa Barshisha telah melakukan perbuatan keji terhadap saudara mereka, membuatnya hamil, kemudian membunuh dan menguburkannya. Keempat saudara tersebut mengalami mimpi yang serupa. Mereka kemudian mendatangi penguasa dan membawa persoalan itu kepada Barshisha. Sang rahib akhirnya berada dalam keadaan terjepit. Di tengah kepanikan tersebut, setan kembali datang. Kali ini bukan sebagai penggoda, tetapi seolah-olah sebagai satu-satunya pihak yang dapat memberikan pertolongan.

Setan berkata bahwa dialah yang telah menjerumuskan Barshisha ke dalam dosa tersebut. Namun, menurut bisikannya, tidak ada yang dapat menyelamatkan Barshisha kecuali dirinya.

Syaratnya hanya satu. Barshisha harus bersujud kepadanya.

Karena berada dalam keputusasaan, Barshisha akhirnya mengikuti perintah tersebut. Namun setelah manusia itu melakukan apa yang diminta, setan justru meninggalkannya. Setan tidak pernah benar-benar berniat menyelamatkan Barshisha. Ia hanya ingin membawa manusia itu semakin jauh dari Allah.

Akhirnya Barshisha dihukum mati dalam keadaan kufur.

Dosa Besar Sering Berawal dari Langkah Kecil

Kisah Barshisha mengandung pelajaran yang sangat dalam. Setan tidak selalu datang dengan ajakan yang terlihat mengerikan. Ia dapat memulai dengan sesuatu yang tampak kecil. Satu pelanggaran. Kemudian pelanggaran berikutnya dilakukan untuk menutupi kesalahan pertama. Lalu muncul kebohongan untuk menutupi kebohongan. Kemudian dosa yang lebih besar dilakukan agar dosa sebelumnya tidak terbongkar. Tanpa disadari, seseorang dapat berjalan semakin jauh dari jalan Allah. Inilah salah satu bahaya terbesar godaan setan.

Ketakutan kepada Manusia Dapat Menjerumuskan

Barshisha tidak hanya takut kepada Allah.

Dalam kisah tersebut, ia juga takut kehilangan kehormatan di hadapan manusia. Rasa takut terhadap terbongkarnya aib membuatnya memilih jalan yang lebih buruk. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa menjaga kehormatan tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kebenaran. Kesalahan yang sudah terjadi seharusnya dihadapi dengan taubat, bukan ditutupi dengan kesalahan yang lebih besar.

Setan Tidak Pernah Bertanggung Jawab atas Janjinya

Ada satu gambaran yang sangat kuat dalam kisah ini.

Setan mengajak manusia melakukan dosa. Ketika manusia mulai takut, setan menawarkan jalan keluar. Namun jalan keluar tersebut justru membawa manusia semakin jauh.

Ketika manusia akhirnya terjerumus, setan berlepas diri.

Hal ini sejalan dengan gambaran dalam QS Al-Hasyr ayat 16–17. Setan membujuk manusia hingga kufur, tetapi setelah manusia mengikuti bujukannya, setan mengatakan bahwa dirinya takut kepada Allah dan meninggalkan manusia tersebut. Setan hanya membutuhkan satu hal: manusia mengikuti langkahnya. Setelah itu, akibatnya harus ditanggung oleh manusia sendiri.

Tidak Ada Jaminan Aman dari Godaan

Kisah Barshisha juga mengingatkan bahwa banyaknya ibadah bukan alasan bagi seseorang untuk merasa sudah aman.

Manusia tetap membutuhkan pertolongan Allah. Bahkan ketika seseorang merasa dirinya kuat dalam beribadah, ia tetap harus berhati-hati terhadap kesombongan, kelalaian, hawa nafsu, dan berbagai pintu maksiat. Karena itu, doa memohon perlindungan kepada Allah bukan sekadar ucapan. Ia adalah pengakuan bahwa manusia memiliki kelemahan dan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.

Penutup

Kisah Barshisha bukan sekadar cerita tentang seorang ahli ibadah yang jatuh.

Lebih dari itu, kisah ini menggambarkan bagaimana sebuah dosa dapat berkembang ketika manusia memilih menutupi kesalahan dengan kesalahan yang lebih besar. Setan tidak harus membuat manusia langsung meninggalkan agama. Cukup membuat manusia melakukan satu langkah yang salah, kemudian mendorongnya mengambil langkah berikutnya.

Karena itu, ketika melakukan kesalahan, jangan mencari jalan keluar melalui dosa yang lain. Berhenti. Akui kesalahan. Kembali kepada Allah. Sebab jalan keselamatan bukanlah mempertahankan kesalahan dengan segala cara, melainkan memiliki keberanian untuk kembali sebelum langkah kita semakin jauh.

Dan yang paling penting, jangan pernah merasa aman dari tipu daya setan. Allah telah mengingatkan:

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh.” QS Fathir (35): 6.