Menembus Logika Ninja 1998: Antara Teror, Kesaktian, dan Wangi Surga
Tahun 1998 mencatat lembaran paling kelam dan berdarah dalam sejarah transisi Indonesia pasca-tumbangnya rezim Orde Baru. Di tengah pergolakan awal era reformasi, gelombang teror mengerikan menyapu wilayah Jawa Timur—mulai dari Banyuwangi hingga merembet ke Jember, Situbondo, dan Bondowoso.
Operasi berdarah tersebut dibungkus dengan narasi "pembersihan dukun santet". Namun, fakta di lapangan berbicara sebaliknya. BBC News Indonesia dalam laporan investigasinya menyebut sedikitnya 250 orang yang dituduh sebagai dukun santet diburu dan dibunuh di Banyuwangi dan sejumlah wilayah Jawa Timur pada rangkaian peristiwa 1998–1999.. Ironi yang paling menyayat hati, korban kemudian tidak hanya mereka yang dituduh sebagai dukun santet. Guru ngaji, kiai, pengasuh pesantren, tokoh masyarakat, bahkan warga biasa ikut menjadi sasaran.
Histeria massa kian memuncak karena aksi pembantaian dilakukan oleh kelompok misterius berpakaian serba hitam yang dijuluki "ninja". Desas-desus liar merebak cepat di tengah warga: di tengah ketakutan, berkembang pula cerita bahwa para “ninja” itu bukan manusia biasa. Mereka disebut mampu bergerak secepat kilat, menghilang, bahkan memiliki kesaktian tertentu. Namun, sampai sekarang tidak ada bukti sejarah yang menunjukkan bahwa kemampuan tersebut benar-benar bersifat gaib.
Beberapa tahun pasca-tragedi mencekam tersebut, rasa penasaran itu masih membekas di benak Pak Anton. Saat bersilaturahmi ke sebuah pondok pesantren di Bondowoso, obrolan santainya bersama pimpinan pesantren—yang akrab disapa Pak Haji Salim—bermuara pada satu pertanyaan: benarkah para "ninja" itu memang memiliki kesaktian bergerak kilat di luar nalar manusia?
Jawaban sang kiai tua justru membalikkan logika mistis yang selama ini dipercaya masyarakat.
Sepeda Ontel yang Mengasapi Bus Antarkota
Sambil tersenyum tenang, Pak Haji Salim tidak langsung menepis mitos tersebut. "Ilmu semacam itu memang ada," ujarnya lirih.
Di luar dugaan, beliau justru menceritakan lembaran masa mudanya sendiri. Dahulu, ia pernah mengamalkan tirakat tertentu yang membuatnya memiliki kemampuan bergerak dengan kecepatan luar biasa. Untuk membuktikan ilmunya saat itu, ia bahkan pernah sengaja menantang hal yang mustahil: balapan mengayuh sepeda ontel melawan bus antarkota.
Hasilnya? Sepeda kayuh tuanya tiba di tempat tujuan mendahului raungan mesin bus berbahan bakar solar tersebut.
Namun, alih-alih menjadi kebanggaan, pencapaian itu berujung teguran telak dari guru spiritualnya. Saat kiai sepuh yang membimbingnya mengetahui perkara adu cepat tersebut, bukan pujian yang didapat, melainkan sebuah peringatan keras yang menghujam jantung:
"Buat apa kamu punya ilmu semacam itu?! Kamu tidak akan pernah bisa mencium baunya surga!"
Teguran tajam itu seketika meruntuhkan kebanggaan Salim muda. Sadar akan bahaya spiritual yang mengancam akidahnya, hari itu juga ia membuang, melunturkan, dan melepaskan seluruh amalan sakti tersebut tanpa ragu.
Dahsyatnya Teguran: Wangi Surga yang Tercium dari Jarak
Puluhan Tahun
Bagi sebagian orang, ungkapan “tidak bisa mencium bau surga” mungkin terdengar seperti nasihat kiasan biasa. Namun bagi Pak Haji Salim, kalimat itu adalah teguran yang sangat serius dan membekas sepanjang hidupnya.
Apa yang disampaikan gurunya ternyata memiliki landasan dalam sabda Rasulullah.
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah bersabda tentang seseorang yang membunuh orang yang memiliki perjanjian dengan kaum Muslimin:
“Ia
tidak akan mencium aroma surga, padahal aromanya dapat tercium dari jarak perjalanan
empat puluh tahun.” (HR. Bukhari no.
3166)
Hadis tersebut memang berbicara tentang dosa membunuh orang yang memiliki perjanjian, bukan tentang ilmu kanuragan. Namun dari sabda itu kita mendapatkan gambaran yang sangat kuat tentang betapa jauhnya jangkauan aroma surga. Bahkan dari jarak perjalanan empat puluh tahun, wanginya telah dapat tercium.
Karena itulah ucapan guru kepada Pak Haji Salim terasa begitu berat. “Buat apa kamu punya ilmu semacam itu?! Kamu tidak akan pernah bisa mencium baunya surga!”
Teguran tersebut bukan berarti hadis tadi
secara khusus berbicara tentang kesaktian. Pesannya berada pada wilayah yang
lebih dalam: jangan sampai sebuah kemampuan yang membuat manusia merasa
hebat justru menyeret hatinya kepada kesombongan, kesesatan, atau penyimpangan
dari jalan Allah.
Jika aroma surga yang begitu agung saja dapat tercium dari jarak tempuh puluhan tahun sebelum seseorang memasukinya, betapa celaka dan ruginya orang yang baunya pun diharamkan untuk sampai ke hidungnya.
Dan bagi Salim muda, teguran itu menjadi titik balik.
Ia tidak lagi melihat kemampuan bergerak cepat sebagai sesuatu yang membanggakan. Ia justru melihatnya sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan jika kemampuan tersebut membuat dirinya semakin jauh dari Allah.
Puluhan tahun kemudian, kisah itu masih diingatnya. Bukan karena ia pernah mengalahkan bus dengan sepeda ontel. Tetapi karena ia pernah diingatkan bahwa sehebat apa pun kemampuan manusia, semuanya tidak berarti jika akhirnya membuat hati kehilangan jalan menuju Allah.
Antara Mukjizat, Karomah, dan Tipu Daya Jin
Mengapa kemampuan supernatural yang tampak mengagumkan justru bisa menjadi hijab (penghalang) dari surga? Dalam pandangan ajaran Islam, fenomena luar biasa di luar hukum alam (khariqul 'adah) terbagi secara tegas:
· Mukjizat: Anugerah mutlak dari Allah hanya kepada para nabi dan rasul untuk menegakkan risalah tauhid.
· Karomah: Kemuliaan yang diberikan Allah kepada para wali atau hamba yang bertakwa. Karomah adalah kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang saleh. Karomah bukan sesuatu yang dapat dijadikan alat untuk menyombongkan diri atau dipelajari sebagai teknik untuk mengejar kesaktian.
· Sihir: Kehebatan semu yang bersumber dari persekutuan dengan bangsa jin atau tirakat yang keluar dari tuntunan sunnah. Tujuannya menipu manusia agar merasa hebat, padahal sedang ditarik perlahan menuju kebinasaan.
Kisah tentang tubuh yang diringankan, kemampuan bergerak sangat cepat, atau melampaui kemampuan fisik manusia memang banyak beredar dalam tradisi ilmu kanuragan. Namun, kisah-kisah tersebut tidak otomatis dapat dianggap sebagai fakta atau karomah.. Al-Qur'an bahkan mengingatkan bahwa meminta perlindungan kepada jin bukan jalan keselamatan. Dalam QS Al-Jinn ayat 6 disebutkan bahwa manusia yang meminta perlindungan kepada jin justru membuat mereka semakin bertambah sesat.
"Dan
sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta
perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin, tetapi mereka (jin)
menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat." (QS. Al-Jinn: 6)
Racun Bernama Kesombongan
Peringatan sang guru pesantren kepada Pak Haji Salim juga menyasar penyakit hati yang paling mematikan: kibar (kesombongan) dan ujub (takjub pada diri sendiri).
Rasulullah bersabda:
“Tidak
akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar
biji sawi.” (HR. Muslim no. 91)
Kemampuan melampaui batas fisik manusia secara instan menjadi pintu gerbang masuknya rasa jumawa. Merasa memiliki keistimewaan mistis rentan membuat hati memandang rendah hukum sebab-akibat (sunnatullah) dan meremehkan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah juga menunjukkan pentingnya mengambil sebab. Saat hijrah, beliau menyiapkan bekal, menggunakan kendaraan, dan memanfaatkan jasa seorang penunjuk jalan yang berpengalaman. Saat Perang Khandaq, beliau bahkan ikut menggali parit bersama para sahabat. Saat peristiwa hijrah ke Madinah, beliau tidak melesat terbang dalam sekejap mata, melainkan menyusun strategi logistik yang rapi, menyewa penunjuk jalan profesional, dan menunggangi unta layaknya manusia biasa.
Menghapus Fitnah, Mengembalikan Akal Sehat
Tragedi 1998 di Jawa Timur menjadi bukti betapa hancurnya sendi kemanusiaan ketika isu klenik, histeria massa, dan intrik politik saling berkelindan. Tuduhan "santet" dipakai secara serampangan untuk melegitimasi pembunuhan ratusan nyawa ulama dan guru ngaji, sementara mitos tentang kesaktian para “ninja” juga membuat perhatian masyarakat terseret ke wilayah mistis, sementara pertanyaan yang lebih penting—siapa yang mengorganisasi, menggerakkan, dan memanfaatkan teror tersebut—belum sepenuhnya terjawab.
Islam hadir bukan untuk mengajak umatnya berburu kesaktian di luar nalar, melainkan menuntun akal dan hati:
1. Mengutamakan Manfaat Nyata: Kemuliaan seorang muslim diukur dari seberapa besar manfaatnya bagi sesama (khoirunnas anfauhum linnas), bukan dari seberapa kencang ia melesat mendahului bus antarkota.
2. Menjaga Kemurnian Ibadah: Shalat, puasa, dan wirid dikerjakan semata-mata mengharap ridha Allah, bukan untuk mengejar karomah palsu atau kesaktian fisik.
3. Menghormati Sunnatullah: Menekuni ilmu pengetahuan, teknologi, dan akhlakul karimah jauh lebih diridhai Allah daripada menekuni amalan gaib yang rawan menjerumuskan ke dalam syirik.
Kisah tobatnya Pak Haji Salim dan sepeda ontelnya menyisakan pesan mendalam: sehebat apa pun ilmu kanuragan yang membuat seisi bumi bertepuk tangan, semuanya sia-sia belaka jika di akhirat kelak hidung kita terhalang dari mencium semerbak harumnya aroma surga.
Baca juga:
2. Mengintip Takdir