Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

02 November 2026

Santet di Zaman Modern: Antara Pengalaman Nyata, Keyakinan, dan Logika

Pernahkah Kamu mengalami kejadian yang sulit dinalar akal, tetapi juga tidak memiliki bukti konkret untuk memastikan penyebabnya?

Aku pernah mengalaminya.

Sekitar tahun 2005 atau 2006, aku mengalami sakit kepala hebat, kepala seperti ditusuk-tusuk puluhan paku, yang datang secara konsisten setiap malam. Serangan itu biasanya mulai terasa sekitar pukul dua dini hari dan mereda menjelang azan subuh.

Kejadian tersebut berlangsung selama beberapa hari berturut-turut hingga rutin membangunkanku dari tidur. Selepas serangan itu mereda, tubuh terasa lemas karena harus menahan deru rasa sakit yang luar biasa.

Aku sempat mengonsumsi obat sakit kepala yang biasa digunakan untuk migrain dan membalurkan minyak angin sebagai langkah antisipasi. Aku tidak ingat secara pasti apakah obat tersebut yang meredakan rasa sakit atau ada faktor lainnya. Yang membuatku heran, pada siang hari aku tetap dapat bekerja seperti biasa tanpa ada gangguan rasa sakit kepala.

Saat itu, pikiranku sama sekali tidak mengarah pada santet, guna-guna, atau gangguan makhluk gaib. Fokusku sederhana: bagaimana caranya agar sakit kepala itu segera berhenti.

Ketika Aku Diarahkan Menemui Seorang Pengobat Alternatif

Atas saran dari keluarga—dalam hal ini kakak—aku akhirnya dipertemukan dengan seorang pengobat tradisional atau kiai setempat.

Aku datang bukan karena merasa dizalimi oleh sihir, dan aku juga tidak sedang mencurigai siapa pun. Niatku murni mencari ikhtiar, berharap Allah menurunkan kesembuhan melalui perantara beliau.

Saat pertama kali datang, pengobat tersebut mengusap kepalaku dari bagian depan ke belakang sampai ke leher sambil kakinya menginjak lempeng logam yang terhubung dengan aliran listrik. Aku merasakan sensasi setruman mengalir di kepala sampai dengan bagian leher—cukup kuat, meski tidak sesakit serangan migrain yang aku rasakan sebelumnya. Ia kemudian memberikan air mineral yang telah didoakan.

Pada hari pertama, saat aku meminum air mineral dalam botol 600 ml tersebut tidak memiliki bau atau rasa yang aneh. Namun, keesokan harinya, air itu berubah tercium berbau tidak sedap, berbau busuk saat tutup botolnya ku buka.

Pengobat tersebut menyampaikan dugaan bahwa ada seseorang ditempat kerjaku yang merasa iri, dan mengetahui ikhtiar yang sedang aku lakukan. Ia tidak menyebutkan nama seseorang, dan saya tidak ada keinginan untuk mengetahuinya. Saya juga meyakini bahwa ia juga tidak akan menyebutkan nama jika diminta. Ia meminta aku membuang air tersebut ke sungai, lalu memberikan air yang baru untuk dibawa pulang.

Aku mendengar perkataannya tentang seseorang sedang beriri hati kepadaku, namun hati kecilku belum dapat mempercayainya secara mutlak. Bagiku, tuduhan adanya orang yang iri masih sebatas asumsi. Aku tidak memiliki dasar bukti yang sah untuk menghubungkannya dengan kondisi fisik yang aku alami. Aku juga tidak ingin dan tidak mau berburuk sangka atau mencurigai terhadap teman yang ku temui sehari-harinya di kantor.

Hari itu, sebuah kebetulan yang ganjil terjadi. Telepon genggamku berdering dari nomor tak dikenal. Seorang laki-laki tanpa kata pengantar, langsung mngucapkan “jan**k” sebuah kata makian yang sering diucapkan di Surabaya. Aku tidak mengenal suaranya, karena hanya satu kata “pisuhan” itu yang terdengar, kemudian sambungan telepon itu diputusnya. Hingga kini aku tidak pernah tahu apakah telepon itu benar-benar berkaitan dengan kunjunganku ke pengobat itu,  atau sekadar kebetulan yang waktunya beriringan.

Keesokan harinya, aku kembali menemui pengobat tersebut, menjalani prosesi yang sama, lalu ia berpesan agar aku tidak perlu datang lagi.

Satu hal yang paling aku ingat: sakit kepala itu berhenti seketika setelah kunjungan pertama. Hari-hari berikutnya, serangan nyeri tersebut tidak pernah datang lagi. Bahkan hingga bertahun-tahun kemudian, aku tidak pernah merasakan sakit kepala sehebat itu.

Namun, sembuhnya penyakit bukan berarti otomatis menjawab misteri tentang apa yang sebenarnya terjadi di baliknya.

Menimbang Hakikat Sihir dalam Timbangan Islam

Sebagai seorang Muslim, meyakini adanya sihir adalah bagian dari keimanan, karena Al-Qur'an dan hadis dengan tegas menyebutkannya.

Al-Qur'an merekam bagaimana para penyihir Fir'aun berhadapan dengan Nabi Musa a.s., di mana tipu daya mereka membuat tali dan tongkat tampak bergerak dalam pandangan mata. Al-Qur'an juga mengisahkan tentang hakikat sihir, dan kisah tentang malaikat Harut dan Marut. Demikian pula dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim, terdapat riwayat mengenai Nabi Muhammad yang pernah terpengaruh oleh sihir (yang kemudian disembuhkan oleh Allah melalui turunnya surah al-Mu'awwidzatain / Al-Falaq dan An-Naas).

Namun, meyakini eksistensi sihir dalam dalil agama tidak lantas mengharuskan kita mempercayai setiap klaim santet atau tuduhan mistis yang beredar di tengah masyarakat.

Dalam hal ini, kita harus bisa membedakan antara:

  1. Aspek teologis: Keimanan bahwa sihir dan ain itu benar-benar ada atas izin Allah.
  2. Aspek empiris/penilaian sosial: Apakah suatu kejadian spesifik di masa kini mutlak disebabkan oleh santet?

Mencampuradukkan keduanya secara serampangan tentu akan berbahaya. Kita mengimani Al-Qur'an, tetapi kita juga dilarang bersikap zalim dengan menuduh orang lain melakukan praktik sihir tanpa bukti yang valid. Islam sangat menjaga kehormatan (marwah) sesama Muslim dan melarang kita menebar prasangka buruk (su'uzhan) tanpa dasar.

Perspektif Sains dan Logika di Zaman Modern

Dari sudut pandang ilmu sosial dan antropologi, fenomena santet atau guna-guna adalah bagian dari sistem keyakinan komunal yang menarik untuk diteliti—bagaimana sebuah stigma terbentuk, bagaimana sugesti bekerja, atau bagaimana ketakutan psikologis bermanifestasi menjadi keluhan fisik (psikosomatis).

Namun, secara sains empiris, klaim bahwa energi gaib dapat memindahkan penyakit atau mencelakai seseorang dari jarak jauh belum terbukti secara ilmiah dan tidak bisa direplikasi dalam eksperimen laboratorium.

Di sisi lain, tubuh manusia sangat kompleks. Stres, kelelahan, pola tidur, hingga sugesti pikiran bawah sadar dapat memicu reaksi fisik yang luar biasa. Meskipun dalam kasusku, saat sakit kepala itu menyerang, aku bahkan tidak sedang memikirkan hal-hal berbau mistis.

Tanpa rekam medis yang komprehensif pada masa itu, sulit bagi dunia medis modern untuk memastikan secara mutlak apa yang terjadi pada kepalaku belasan atau puluhan tahun silam. Di sinilah kita perlu bersikap jujur: mengakui bahwa ada batas pengetahuan yang tidak mampu kita jangkau saat ini.

Perubahan Emosional yang Menyertai

Ada satu catatan psikologis menarik yang aku ingat dari masa itu. Selama periode sakit kepala tersebut,aku merasa jauh lebih emosional dan lebih berani menegur orang lain—bahkan mereka yang memiliki kedudukan atau jabatan di atasku. Padahal, dalam kondisi normal, aku adalah tipe orang yang sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan sebelum berbicara.

Apakah perubahan sikap itu berkaitan dengan rasa sakit fisik yang menggerus ketahanan mental, kurangnya jam tidur, atau faktor lain? Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, setelah periode sakit itu usai, karakter dan pola pikirku kembali seperti sedia kala.

Sekali lagi, hidup ini dipenuhi oleh rangkaian kebetulan dan variabel tersembunyi yang belum tentu bisa kita simpulkan sebab-akibatnya secara serampangan.

Jangan Mudah Menuduh, Jangan Terburu-buru Menyimpulkan

Pengalaman masa lalu mengajarkanku untuk tidak mudah terjebak dalam jebakan logika,  sebuah kekeliruan berpikir di mana seseorang menganggap bahwa peristiwa B terjadi setelah peristiwa A, maka A pasti menjadi penyebab B.

  • Sakit kepala mereda setelah berobat ke kiai, bukan berarti keberhasilan itu otomatis menjadi legalitas validasi bahwa aku mutlak terkena santet.
  • Telepon bernada makian yang datang di hari yang sama belum tentu merupakan pelaku santet yang tertangkap basah.

Menuduh seseorang melakukan santet tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara syariat maupun akal sehat adalah sebuah kezaliman. Islam mengajarkan kita untuk mengedepankan tabayyun (klarifikasi), berpikir jernih, dan senantiasa bersandar kepada Allah melalui doa, zikir, serta ikhtiar medis yang rasional ketika menghadapi masalah kesehatan.

Sikap rasional tidak berarti meruntuhkan keimanan, dan keimanan kepada hal gaib tidak berarti menanggalkan akal sehat. Keduanya dapat berjalan beriringan secara harmonis.

Penutup: Belajar Berdamai dengan Ketidaktahuan

Hingga hari ini, kenangan tentang sakit kepala di tahun itu tetap menjadi lembaran misteri dalam hidup ku. Rasa sakitnya nyata. Proses pengobatannya nyata. Dan berhentinya rasa sakit itu setelah ikhtiar spiritual juga merupakan fakta yang aku rasakan.

Namun, aku memilih untuk tidak memaksakan diri mencari jawaban pasti atas sesuatu yang memang ditakdirkan berada di luar jangkauan nalarku.

Aku tetap mengimani keberadaan sihir sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur'an dan sunnah, namun aku memilih untuk bijak dan berhati-hati dalam menyikapi klaim-klaim santet modern agar tidak terjebak pada prasangka, fitnah, dan tuduhan palsu.

Sebab, keimanan yang matang tidak menuntut kita untuk mengetahui segala rahasia alam semesta. Terkadang, kebijaksanaan tertinggi terletak pada kerendahan hati untuk berkata: "Aku  mengalami hal ini, aku memasrahkannya kepada Allah, dan ada hal-hal yang untuk sementara waktu biarlah tetap menjadi rahasia-Nya."

Baca juga:

Menembus Logika Ninja 1998: Antara Teror, Kesaktian, dan Wangi Surga