Pelajaran dari Anjing dan Srigala
Pada masa kepemimpinan Umar bin
Khaththab, wilayah Islam berkembang sangat pesat. Kekuasaan besar seperti
Kekaisaran Persia dan Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium) berhasil ditaklukkan.
Namun, masa keemasan Khulafaur Rasyidin
tidak berlangsung selamanya. Setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib pada tahun 661
M—yang terbunuh oleh Abdurrahman bin Muljam dari kelompok Khawarij—umat Islam
mulai mengalami perpecahan.
(Baca juga:
Benih-Benih Perpecahan Umat )
Perpecahan ini tidak luput dari perhatian
musuh. Romawi Timur melihat situasi tersebut sebagai peluang emas. Mereka
menganggap kaum muslimin sedang lemah karena konflik internal dan perebutan
kekuasaan.
Maka berkumpullah para pembesar Romawi
dalam sebuah majelis penting. Agenda mereka jelas: menyusun rencana
penyerangan.
Sebagian besar dari mereka sepakat,
“Inilah saat yang tepat untuk menyerang.”
Namun, di tengah suara yang menguat itu,
seorang cendekia berdiri dan berkata tegas,
“Pendapat kalian keliru.”
Ucapan itu membuat seluruh ruangan
terdiam.
“Mengapa?” tanya yang lain.
“Besok pagi akan aku jawab,” katanya
singkat.
Keesokan harinya, para pembesar kembali
berkumpul. Mereka penasaran dengan jawaban yang dijanjikan.
Tanpa banyak bicara, sang cendekia membawa
dua ekor anjing yang saling bermusuhan. Ia melepaskan keduanya di hadapan para
pembesar.
Dalam sekejap, kedua anjing itu saling
menyerang dengan ganas. Mereka menggonggong, mencakar, dan menggigit tanpa
ampun. Darah mulai mengalir, namun tak satu pun mau mengalah.
Lalu, di tengah pertarungan itu, sang
cendekia melepaskan seekor serigala.
Seketika suasana berubah.
Dua anjing yang tadi saling bermusuhan
mendadak berhenti. Mereka melupakan pertarungan mereka. Tanpa komando, keduanya
bersatu menghadapi ancaman yang lebih besar.
Mereka menyerang serigala bersama-sama…
hingga akhirnya serigala itu tumbang.
Sang cendekia kemudian menatap para
pembesar Romawi dan berkata, “Seperti itulah kaum muslimin.”
Ia melanjutkan dengan tenang,
“Benar, saat ini mereka sedang
berselisih. Namun jika kalian menyerang, mereka akan melupakan perbedaan itu
dan bersatu menghadapi kalian.”
Kata-kata itu menghujam kesadaran para
pembesar Romawi.
Mereka akhirnya menyadari kekeliruan
besar dalam rencana mereka. Perpecahan bukan berarti kelemahan mutlak. Justru,
ancaman dari luar bisa menjadi pemicu persatuan yang jauh lebih kuat.
Rencana penyerangan pun dibatalkan.
Kisah ini bukan sekadar cerita sejarah.
Ia adalah cermin bagi kita hari ini.
Perbedaan, perselisihan, bahkan
konflik—adalah hal yang tidak terhindarkan dalam kehidupan. Namun, ketika ada
ancaman yang lebih besar, persatuan menjadi kunci utama.
Seperti dua anjing yang melupakan
pertarungan mereka demi menghadapi serigala, demikian pula seharusnya manusia.
Karena sejatinya, kekuatan bukan terletak
pada siapa yang paling benar saat berselisih, tetapi pada siapa yang mampu
bersatu saat dibutuhkan.