Keberanian sejati adalah ketika kita melampaui batasan ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi yang tersembunyi — dari masa lalu yang membentuk akar kita, masa kini yang kita jalani, hingga masa depan yang penuh misteri dan harapan.

20 Maret 2026

Pelajaran dari Anjing dan Srigala

 

Pada masa kepemimpinan Umar bin Khaththab, wilayah Islam berkembang sangat pesat. Kekuasaan besar seperti Kekaisaran Persia dan Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium) berhasil ditaklukkan.

Namun, masa keemasan Khulafaur Rasyidin tidak berlangsung selamanya. Setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib pada tahun 661 M—yang terbunuh oleh Abdurrahman bin Muljam dari kelompok Khawarij—umat Islam mulai mengalami perpecahan.

(Baca juga: Benih-Benih Perpecahan Umat )

Perpecahan ini tidak luput dari perhatian musuh. Romawi Timur melihat situasi tersebut sebagai peluang emas. Mereka menganggap kaum muslimin sedang lemah karena konflik internal dan perebutan kekuasaan.

Maka berkumpullah para pembesar Romawi dalam sebuah majelis penting. Agenda mereka jelas: menyusun rencana penyerangan.

Sebagian besar dari mereka sepakat, “Inilah saat yang tepat untuk menyerang.”

Namun, di tengah suara yang menguat itu, seorang cendekia berdiri dan berkata tegas,
“Pendapat kalian keliru.”

Ucapan itu membuat seluruh ruangan terdiam.

“Mengapa?” tanya yang lain.

“Besok pagi akan aku jawab,” katanya singkat.

Keesokan harinya, para pembesar kembali berkumpul. Mereka penasaran dengan jawaban yang dijanjikan.

Tanpa banyak bicara, sang cendekia membawa dua ekor anjing yang saling bermusuhan. Ia melepaskan keduanya di hadapan para pembesar.

Dalam sekejap, kedua anjing itu saling menyerang dengan ganas. Mereka menggonggong, mencakar, dan menggigit tanpa ampun. Darah mulai mengalir, namun tak satu pun mau mengalah.

Lalu, di tengah pertarungan itu, sang cendekia melepaskan seekor serigala.

Seketika suasana berubah.

Dua anjing yang tadi saling bermusuhan mendadak berhenti. Mereka melupakan pertarungan mereka. Tanpa komando, keduanya bersatu menghadapi ancaman yang lebih besar.

Mereka menyerang serigala bersama-sama… hingga akhirnya serigala itu tumbang.

Sang cendekia kemudian menatap para pembesar Romawi dan berkata, “Seperti itulah kaum muslimin.”

Ia melanjutkan dengan tenang,

“Benar, saat ini mereka sedang berselisih. Namun jika kalian menyerang, mereka akan melupakan perbedaan itu dan bersatu menghadapi kalian.”

Kata-kata itu menghujam kesadaran para pembesar Romawi.

Mereka akhirnya menyadari kekeliruan besar dalam rencana mereka. Perpecahan bukan berarti kelemahan mutlak. Justru, ancaman dari luar bisa menjadi pemicu persatuan yang jauh lebih kuat.

Rencana penyerangan pun dibatalkan.

Kisah ini bukan sekadar cerita sejarah. Ia adalah cermin bagi kita hari ini.

Perbedaan, perselisihan, bahkan konflik—adalah hal yang tidak terhindarkan dalam kehidupan. Namun, ketika ada ancaman yang lebih besar, persatuan menjadi kunci utama.

Seperti dua anjing yang melupakan pertarungan mereka demi menghadapi serigala, demikian pula seharusnya manusia.

Karena sejatinya, kekuatan bukan terletak pada siapa yang paling benar saat berselisih, tetapi pada siapa yang mampu bersatu saat dibutuhkan.