Alien
Siapa yang
tidak kenal dengan Superman, manusia super yang datang dari planet Krypton.
Namun menariknya, hampir tidak ada yang menyebut Superman sebagai alien.
Mengapa begitu? Mungkin karena ia digambarkan sebagai pahlawan, atau karena
wujudnya sangat mirip manusia. Padahal, banyak orang membayangkan alien sebagai
makhluk berkepala besar, berbentuk aneh, atau tidak menyerupai manusia —
seperti yang sering kita lihat di film-film ET, Star Trek, The
X-Files, atau Men in Black.
Kata alien
sendiri berasal dari bahasa Latin alienus, yang berarti “asing” atau
“bukan dari sini”. Dalam ilmu pengetahuan modern, istilah alien biasanya
digunakan untuk menyebut makhluk hidup yang berasal dari luar Bumi (extraterrestrial
life). Jadi, alien tidak selalu berbentuk aneh seperti di film. Bisa saja
mereka berupa mikroorganisme seperti bakteri atau makhluk lain yang lebih
kompleks, selama asalnya bukan dari planet kita.
Hingga
kini, belum ada bukti ilmiah yang benar-benar menunjukkan bahwa makhluk luar
angkasa itu ada. Memang ada banyak laporan tentang penampakan UFO (Unidentified
Flying Object) atau UAP (Unidentified Aerial Phenomena),
tetapi sejauh ini belum ada yang terbukti berasal dari kehidupan alien.
Sebagian besar bisa dijelaskan sebagai fenomena alam, pesawat, satelit, atau
bahkan ilusi optik. Meski begitu, kemungkinan adanya kehidupan lain di luar
Bumi tetap terbuka lebar. Alam semesta sangat luas, berisi ratusan miliar
galaksi, dan masing-masing galaksi memiliki ratusan miliar bintang — banyak di
antaranya memiliki planet mirip Bumi.
Lembaga
seperti NASA, ESA, dan berbagai badan penelitian lain terus
mencari tanda-tanda kehidupan di luar sana. Mereka meneliti Mars, Europa
(bulan planet Jupiter), Enceladus (bulan planet Saturnus), serta
planet-planet di luar tata surya (exoplanet). Program SETI (Search
for Extraterrestrial Intelligence) juga berupaya mendengarkan sinyal radio
dari ruang angkasa untuk mencari kemungkinan adanya kecerdasan makhluk lain.
Kalau kita
mau jujur, selama ini kita masih berpikir bahwa alien adalah makhluk luar
angkasa yang datang ke Bumi, sementara kita sendiri adalah penghuni “asli”
planet ini. Mungkin sudah saatnya kita melihat dari sudut pandang yang lebih
luas — bahwa “keasingan” itu tergantung dari mana kita memandangnya. Mari kita
renungkan dari mana asal muasal nenek moyang kita, Nabi Adam Alaihissallam, dan
istrinya Hawa?
Ingatlah ketika
Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?” Allâh berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang
tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 30)
“Wahai Adam!
Tinggallah engkau dan istrimu di surga, dan makanlah berbagai makanan dengan
nikmat yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini,
maka kamu akan termasuk kedalam orang yang dzalim!” (QS. Al Baqarah: 35)
"Turunlah
kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu terdapat tempat
tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditetapkan." (QS. Al
Baqarah: 36)
Jelaslah
dari Quran surat al Baqarah diatas, bahwa bangsa manusia sebagai anak cucu Adam
dan Hawa bukan penghuni asli bumi. Siapa penghuni bumi sebelum nabi Adam dan
Hawa diturunkan ke bumi?
Menurut
keterangan Ibnu Katsir, al-hin dan al-bin adalah sekelompok bangsa jin yang
mendiami bumi sebelum kedatangan Nabi Adam Alaihissallam. Ada yang
berpendapat postur mereka berada di antara jin dan manusia. Menurut Abdullah
bin Amru, al-hin dan al-bin telah hidup di bumi dua ribu tahun sebelum Nabi
Adam Alaihissallam diciptakan. Mereka saling membunuh satu sama lain. Karena
kerusakan yang mereka timbulkan, Allah SWT mengutus malaikat untuk mengusir
mereka ke pulau-pulau terpencil.
Jika
merujuk definisi diatas, alien adalah digunakan untuk menyebut makhluk hidup
yang berasal dari luar Bumi, maka dapat dikatakan bahwa manusia itu tergolong
alien. Tapi kerennya nenek moyang manusia berasal dari surga, penduduk asli
surga, alangkah ruginya jika sebagai anak cucunya kita tidak ikut pulang
kembali hidup di surga.